
SERAYUNEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Di Kabupaten Banyumas kembali menjadi sorotan publik, melalui viralnya video penolakan distribusi MBG di SMP N 2 Sokaraja.
Video berdurasi sekitar 25 detik itu memperlihatkan kerumunan siswa yang menghadang mobil distribusi MBG. Mereka menolah menu hari itu untuk dibagikan.
Kepala SMPN 2 Sokaraja, Agus Tri, menyampaikan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada Jumat (6/3/2026). Penolakan dilakukan oleh siswa dan wali murid, karena dipicu karena keterlambatan dalam pengiriman dari SPPG.
Ia menjelaskan, selama bulan ramadan siswa kelas 7 dan 8 pulang pukul 10.15 WIB, sedangkan siswa kelas 9 selesai pada pukul 11.00 WIB. Namun pukul 10.00 WIB, distribusi MBG belum juga tiba di sekolah.
“Dari pihak MBG sampai dengan jam 10.00 WIB belum datang. Setelah itu baru menyampaikan ada keterlambatan karena ada kendala teknis di dapur,” kata Agus.
Sementara itu, para wali murid banyak yang sudah datang menjemput di sekolah pukul 09.00 WIB. Pihak sekolah sempat meminta para siswa dan orangtua menunggu agar makanan MBG tetap bisa diterima. Namun hingga pukul 11.10 WIB, distribusi makanan belum juga sampai.
“Orangtua sudah menunggu dari jam 9 pagi. Ketika mobil datang di depan sekolah, masih di tepi jalan, lalu orangtua menghadang mobil MBG. Karena sudah lama menunggu, orangtua meminta mobil MBG untuk balik,” kata dia.
Saat mobil SPPG akhirnya bisa masuk ke sekolah, sebagian siswa sudah pulang. Sebagian makanan dibagikan kepada siswa yang masih berada di sekolah, sementara sisanya dititipkan kepada teman-teman mereka.
“Tetap kami bagikan ke sejumlah siswa dan dititipkan juga ke temannya,” katanya.
Agus mengungkapkan keterlambatan distribusi MBG sebenarnya bukan hanya terjadi pada hari tersebut. Sebelumnya keterlambatan juga beberapa kali terjadi, namun masih bisa ditoleransi karena siswa belum pulang sekolah.
“Informasinya bukan hanya hari itu saja. Hari-hari sebelumnya juga beberapa kali telat, tapi masih dalam tahap toleransi karena bukan hari Jumat,” katanya.
Pada hari biasa, pihak sekolah masih dapat menahan siswa untuk menunggu hingga makanan tiba. “Kalau hari biasa masih bisa kita atasi dan kita tahan anak-anak supaya jangan pulang dulu,” katanya.
Aktivis Forum Masyarakat Peduli Program MBG (FMP2M), Henri Rusmanto, menilai implementasi program MBG masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar. Mulai dari keterlambatan distribusi makanan, menu yang dinilai monoton, hingga dugaan dominasi pemasok bahan baku oleh supplier besar.
Menurut Henri, sejumlah sekolah di Banyumas mengalami keterlambatan pengiriman menu MBG yang berdampak pada menurunnya minat siswa untuk mengonsumsi makanan yang disediakan.
Berdasarkan data yang dia himpun, kasus keterlambatan distribusi tidak hanya terjadi di SMP N 2 Sokaraja. Kondisi serupa juga terjadi di PAUD Tanjung serta beberapa sekolah dasar lainnya, dengan keterlambatan distribusi mencapai hampir satu jam.
Bahkan di SMP Negeri 2 Kembaran, sebagian siswa dilaporkan enggan mengambil menu MBG karena makanan datang terlalu siang sehingga tidak lagi relevan dengan waktu konsumsi mereka di sekolah.
“Dapur atau SPPG harus mampu menjadwalkan distribusi dengan baik, apalagi selama Ramadan. Kalau makanan datang terlambat, tentu siswa sudah tidak tertarik lagi untuk mengambil,” ujar Henri.