
SERAYUNEWS – Buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans belakangan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Cek link buku di artikel ini.
Meski buku tersebut telah dirilis sejak Oktober 2025, perhatian publik justru memuncak pada awal Januari 2026.
Banyak warganet membagikan potongan kisahnya, merekomendasikan bacaan ini, hingga mengungkap rasa empati mendalam terhadap pengalaman hidup yang dituliskan Aurelie.
Memoar ini bukan sekadar catatan perjalanan hidup seorang figur publik.
Broken Strings menghadirkan kisah personal yang penuh luka, emosi, dan refleksi mendalam tentang masa muda yang “dicuri” oleh hubungan manipulatif.
Kejujuran Aurelie dalam menuangkan pengalaman pribadinya membuat buku ini terasa dekat dan relevan bagi banyak pembaca, terutama mereka yang pernah berada dalam relasi tidak sehat.
Menariknya, Aurelie memilih untuk tidak mengomersilkan buku ini.
Ia membagikannya secara gratis dalam dua versi bahasa agar pesannya dapat menjangkau lebih banyak orang.
Keputusan tersebut menuai banyak apresiasi karena dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap para penyintas yang kerap merasa sendirian.
Broken Strings adalah memoar yang merekam luka masa muda Aurelie Moeremans, khususnya pengalaman berada dalam hubungan manipulatif dan tidak sehat sejak usia remaja.
Dalam buku ini, Aurelie mengajak pembaca menyelami bagaimana relasi yang tampak “biasa saja” bisa perlahan berubah menjadi jerat emosional yang menyakitkan.
Salah satu isu penting yang diangkat dalam buku ini adalah child grooming dan kekerasan emosional.
Aurelie menggambarkan bagaimana proses tersebut sering terjadi secara bertahap, halus, dan nyaris tak disadari oleh korban.
Relasi yang awalnya terasa penuh perhatian justru berubah menjadi kontrol, manipulasi, dan tekanan psikologis.
Buku ini juga menyoroti dampak jangka panjang dari pengalaman tersebut.
Aurelie menuliskan perasaan bersalah, kebingungan, hilangnya kendali atas diri sendiri, hingga trauma yang memengaruhi relasi di masa dewasa.
Narasi ini disampaikan dengan bahasa reflektif, tidak menggurui, namun mengajak pembaca untuk ikut memahami kompleksitas luka batin yang sering tidak terlihat.
Meski sarat dengan cerita pahit, Broken Strings bukan buku yang hanya berkutat pada penderitaan.
Di dalamnya, Aurelie juga membagikan proses bertahan, memahami diri sendiri, hingga perlahan memulihkan luka.
Pesan yang ingin disampaikan cukup kuat, yakni pentingnya kesadaran akan hubungan tidak sehat serta kepedulian terhadap para penyintas.
Ada beberapa alasan mengapa buku ini begitu cepat menyita perhatian publik. Pertama, keberanian Aurelie untuk membuka luka lama secara jujur.
Sebagai figur publik, keputusan ini tentu tidak mudah, namun justru membuat banyak pembaca merasa terwakili.
Kedua, isu yang diangkat sangat relevan. Relasi manipulatif dan kekerasan emosional masih sering terjadi, tetapi kerap dianggap sepele.
Melalui buku ini, pembaca diajak untuk lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar.
Ketiga, akses gratis yang diberikan Aurelie membuat buku ini mudah dijangkau.
Tanpa harus membeli, siapa pun bisa membaca dan mengambil pelajaran dari kisah yang dibagikan.
Link Buku Broken Strings Karya Aurelie Moeremans
Bagi Anda yang penasaran dan ingin membaca langsung memoar ini, Broken Strings tersedia dalam dua versi bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Aurelie membuat dua versi agar pesannya dapat menjangkau pembaca yang lebih luas. Berikut link resmi untuk membaca buku Broken Strings:
Selain melalui link tersebut, Anda juga dapat mengakses buku ini melalui akun Instagram Aurelie Moeremans di @aurelie.
Klik tautan Linktree yang ada di profilnya, lalu pilih judul buku dan versi bahasa yang diinginkan.
Alternatif lainnya, Anda bisa langsung membuka laman linktr.ee/aureliemoremans untuk menemukan akses buku secara lengkap.***