
SERAYUNEWS- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadhan dengan skema distribusi yang disesuaikan.
Pemerintah menegaskan, program prioritas nasional ini tidak akan berhenti hanya karena sebagian besar penerima manfaat menjalankan ibadah puasa.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa kebijakan ini dirancang secara matang agar asupan gizi tetap terpenuhi tanpa menimbulkan pemborosan makanan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dadan saat melakukan silaturahmi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Senin (26/1/2026). Dalam pertemuan itu, BGN sekaligus memastikan bahwa pelaksanaan MBG tetap selaras dengan nilai-nilai keagamaan selama Ramadhan.
Menurut Dadan, sasaran utama MBG adalah ibu hamil dan anak balita, yang secara syariat tidak diwajibkan berpuasa. Oleh karena itu, distribusi makanan untuk kelompok ini tetap dilakukan seperti hari biasa.
“Untuk balita dan ibu hamil, tidak ada perubahan berarti. Mereka tetap menerima makanan bergizi sesuai standar yang telah ditetapkan,” ujar Dadan.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah risiko stunting, kekurangan gizi, serta gangguan kesehatan pada masa pertumbuhan anak dan kehamilan.
Sementara itu, untuk anak sekolah di wilayah mayoritas Muslim, BGN menerapkan skema berbeda. Makanan MBG tetap dibagikan di sekolah, namun tidak langsung dikonsumsi, melainkan dibawa pulang untuk disantap saat berbuka puasa.
Kebijakan ini sempat memicu pertanyaan dari masyarakat, terutama terkait keamanan makanan yang harus bertahan dari siang hingga waktu magrib.
Menjawab kekhawatiran tersebut, BGN memastikan bahwa menu MBG selama Ramadhan telah disesuaikan agar tetap aman, layak konsumsi, dan bergizi.
Untuk menjamin kualitas makanan, BGN menyiapkan menu khusus Ramadhan yang memiliki daya tahan lebih lama. Beberapa menu yang disiapkan antara lain:
1. Telur asin, telur rebus, dan telur pindang
2. Kurma sebagai sumber energi alami
3. Susu UHT dan buah segar tertentu
4. Abon, roti, serta penganan lokal kering
5. Makanan berprotein tinggi dengan risiko basi rendah
“Menu yang dibagikan dipastikan aman hingga waktu berbuka. Ini sudah melalui perhitungan gizi dan ketahanan pangan,” jelas Dadan.
Pemilihan menu ini juga mempertimbangkan kearifan lokal, kemudahan distribusi, serta nilai gizi yang tetap optimal meski tidak langsung dikonsumsi.
BGN menegaskan bahwa di wilayah dengan mayoritas penduduk non-Muslim atau daerah yang tidak menjalankan puasa Ramadhan, distribusi MBG tetap berjalan normal seperti hari-hari biasa.
Dengan demikian, tidak ada satu pun penerima manfaat yang dirugikan akibat perbedaan kondisi sosial dan keagamaan di tiap daerah.
Untuk pesantren, BGN menerapkan strategi tersendiri. Proses memasak dan pendistribusian makanan akan digeser ke sore hari, sehingga santri menerima makanan tepat menjelang waktu berbuka puasa.
“Di pesantren, pembagian kita atur mendekati waktu berbuka agar lebih efektif dan tidak terbuang,” kata Dadan.
Skema ini dinilai lebih efisien dan sesuai dengan pola aktivitas santri selama Ramadhan.
Dengan berbagai penyesuaian ini, BGN menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran selama Ramadhan. Pemerintah juga memastikan tidak ada pemborosan anggaran maupun makanan.
Program Makan Bergizi Gratis yang tetap berjalan selama Ramadhan menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga asupan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, balita, dan ibu hamil.
Penyesuaian menu seperti telur asin, kurma, dan abon menjadi solusi konkret agar makanan tetap aman, bergizi, dan tidak terbuang meski dikonsumsi saat berbuka puasa.
Dengan strategi distribusi yang adaptif dan sensitif terhadap nilai keagamaan, MBG diharapkan mampu terus memberikan dampak positif bagi kesehatan generasi muda Indonesia.
Keberlanjutan program ini juga menjadi bukti bahwa kebijakan gizi nasional dapat berjalan efektif di berbagai kondisi, termasuk selama bulan suci Ramadhan.