
CILACAP, SERAYUNEWS – Tradisi pawai 1000 obor dan abid-abidan kembali mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Dusun Tritih, Desa Karangjati, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap. Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati jalan desa untuk mengikuti pawai yang digelar Majelis Ta’lim Darul Iman sebagai bagian dari tasyakuran Khotmil Qur’an.
Warga yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari santri, anak-anak, remaja hingga orang tua. Mereka berjalan mengelilingi desa sambil membawa obor, menciptakan suasana hangat dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriah.
Pawai obor dan abid-abidan menjadi tradisi yang rutin digelar masyarakat setempat setiap peringatan Tahun Baru Islam. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari syiar Islam, tetapi juga menjadi upaya menjaga warisan budaya keagamaan agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Pengasuh Majelis Ta’lim Darul Iman, Nur Iman, mengatakan tradisi tersebut sengaja terus dipertahankan karena memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat.
“Tradisi pawai obor dan abid-abidan ini terus kami lestarikan. Selain menyambut Tahun Baru Islam, kegiatan ini juga menjadi bentuk rasa syukur atas terselenggaranya Khotmil Qur’an para santri,” ujarnya, Senin (29/6).
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dari berbagai usia menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dalam merawat tradisi keagamaan masih terjaga dengan baik.
Selain pawai obor, panitia juga menggelar berbagai kegiatan keagamaan dan sosial. Rangkaian acara dimulai dengan Khaflah Khotmil Qur’an dan Mukhafadzoh, santunan kepada anak yatim, dilanjutkan pengajian akbar, tahlil akbar, hingga ditutup dengan gema sholawat.
Momentum tersebut juga menjadi ajang tasyakuran bagi para santri yang telah menyelesaikan bacaan 30 juz Al-Qur’an. Tahun ini, sebanyak 18 santri berhasil menuntaskan Khotmil Qur’an dan mendapatkan apresiasi dari para pengasuh serta masyarakat yang hadir.
Nur Iman berpesan kepada para santri yang telah menyelesaikan Khotmil Qur’an agar tidak berhenti belajar. Menurutnya, khataman bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal untuk terus meningkatkan kualitas bacaan, memperbanyak hafalan, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“Alhamdulillah, tahun ini ada 18 santri yang berhasil khatam 30 juz Al-Qur’an. Saya berharap mereka tidak cepat berpuas diri. Teruslah memperbaiki bacaan, menambah hafalan Al-Qur’an, dan mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap semangat para santri mampu menjadi inspirasi bagi anak-anak dan generasi muda lainnya untuk semakin mencintai Al-Qur’an. Menurutnya, pembelajaran Al-Qur’an yang dilakukan secara berkelanjutan akan melahirkan generasi yang tidak hanya fasih membaca dan menghafal, tetapi juga memiliki akhlak yang baik.
Nur Iman berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan setiap tahun sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan tradisi keagamaan kepada generasi muda.
Menurutnya, pelestarian tradisi pawai obor dan abid-abidan bukan sekadar mempertahankan budaya yang telah diwariskan para pendahulu, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan syiar Islam di tengah masyarakat.
Dengan antusiasme ratusan warga yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Dusun Tritih kembali membuktikan bahwa tradisi lokal bernuansa religius masih hidup dan terus menjadi perekat kehidupan sosial masyarakat.