
SERAYUNEWS- Panggilan dari nomor asing kini bukan lagi sekadar gangguan, melainkan bisa menjadi pintu masuk kejahatan digital.
Banyak korban penipuan mengaku awalnya hanya menjawab telepon atau membuka pesan singkat, lalu berujung kehilangan saldo, akun, bahkan identitas pribadi. Di era digital seperti sekarang, satu klik ceroboh bisa berdampak fatal.
Modus penipuan pun semakin berkembang dan sulit dikenali. Pelaku tidak lagi menggunakan cara kasar, melainkan menyamar sebagai kurir, petugas bank, layanan pelanggan dompet digital, hingga instansi pemerintah.
Nada bicara meyakinkan, informasi terlihat resmi, dan iming-iming hadiah sering kali membuat korban lengah.
Kabar baiknya, masyarakat kini tidak perlu pasrah. Pemerintah bersama berbagai platform digital telah menyediakan beragam cara untuk mengecek keaslian nomor telepon, tautan, hingga akun mencurigakan.
Dengan langkah sederhana, risiko penipuan bisa ditekan sejak awal. Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Kejahatan digital berkembang seiring meningkatnya aktivitas online masyarakat. Penipu memanfaatkan kebiasaan pengguna yang terburu-buru, mudah panik, atau tergiur tawaran menggiurkan.
Celah psikologis ini dimanfaatkan melalui teknik rekayasa sosial atau social engineering. Tidak sedikit korban yang merasa yakin sedang berkomunikasi dengan pihak resmi.
Logo terlihat mirip, bahasa formal digunakan, bahkan data pribadi korban sering disebutkan untuk meningkatkan kepercayaan. Padahal, semua itu hanyalah skenario yang telah dirancang matang.
Tanpa verifikasi, siapa pun bisa menjadi korban berikutnya. Oleh karena itu, memahami cara mengenali dan mengecek potensi penipuan menjadi keterampilan wajib di era digital.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital menyediakan platform AduanNomor.id sebagai solusi resmi bagi masyarakat. Layanan ini memungkinkan pengguna mengecek apakah sebuah nomor pernah dilaporkan sebagai penipu.
Melalui fitur Cek Nomor Seluler, pengguna dapat mengetahui rekam jejak nomor asing sebelum menanggapi panggilan atau pesan. Jika nomor tersebut memiliki riwayat laporan, masyarakat dapat langsung mengambil langkah pencegahan.
Selain itu, tersedia fitur Laporkan Nomor Seluler yang memungkinkan pengguna berkontribusi aktif memutus rantai penipuan. Nomor yang terbukti melakukan penipuan dapat diblokir secara nasional oleh operator seluler.
Tidak hanya nomor telepon, penipuan juga kerap menyebar melalui tautan palsu dan konten berbahaya. Untuk itu, pemerintah menghadirkan AduanKonten.id sebagai kanal resmi pelaporan konten bermuatan negatif.
Platform ini dapat digunakan untuk melaporkan situs web, URL, akun media sosial, hingga aplikasi yang terindikasi melanggar hukum. Proses pelaporan dibuat sederhana agar masyarakat mudah berpartisipasi.
Dengan melampirkan tautan dan bukti pendukung, laporan akan ditindaklanjuti oleh tim terkait. Langkah ini tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga pengguna internet lainnya.
Salah satu senjata utama penipu adalah tautan berbahaya. Link palsu sering kali menyerupai situs resmi dan sulit dibedakan secara kasat mata. Namun, ada beberapa ciri yang bisa dikenali sejak awal, yaitu:
1. Periksa struktur URL dan keamanan situs. Situs terpercaya umumnya menggunakan protokol HTTPS dan menampilkan ikon gembok.
2. Waspadai tampilan yang dipenuhi iklan serta kesalahan penulisan yang mencolok.
3. Manfaatkan layanan pengecekan keamanan situs seperti Google Transparency Report. Dengan memasukkan alamat situs, pengguna dapat mengetahui status keamanan secara real-time.
Selain layanan pemerintah, masyarakat juga bisa memanfaatkan aplikasi populer seperti Getcontact, Truecaller, dan Whoscall. Aplikasi ini mengandalkan laporan komunitas untuk menandai nomor mencurigakan.
Jika sebuah nomor disimpan banyak pengguna dengan label negatif, hal tersebut menjadi sinyal kuat untuk waspada. Beberapa aplikasi bahkan mampu memblokir panggilan spam secara otomatis.
Meski praktis, penggunaan aplikasi pihak ketiga tetap harus bijak. Pastikan memahami kebijakan privasi dan tidak menyalahgunakan data yang diperoleh.
Kesadaran akan keamanan digital juga diperkuat oleh hadirnya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Regulasi ini memberikan hak kepada setiap individu untuk melindungi informasi pribadinya.
Penyebaran data tanpa izin, penyalahgunaan informasi, hingga kebocoran data dapat dikenai sanksi hukum. Artinya, masyarakat memiliki payung hukum untuk melawan kejahatan digital.
Namun, perlindungan hukum harus dibarengi kewaspadaan pribadi. Tanpa kehati-hatian, risiko kebocoran data tetap terbuka.
1. Jangan Mudah Percaya dengan Nomor atau Pesan Tidak Dikenal
Setiap panggilan, SMS, atau pesan WhatsApp dari nomor asing patut dicurigai, terlebih jika datang tiba-tiba.
2. Instansi Resmi Tidak Pernah Meminta OTP, PIN, atau Kata Sandi
Bank, dompet digital, operator seluler, maupun lembaga pemerintah tidak akan meminta kode OTP, PIN, password, atau data sensitif lainnya melalui telepon atau pesan singkat.
3. Selalu Lakukan Verifikasi Melalui Kanal Resmi
Jika penelepon mengaku dari suatu instansi, segera tutup sambungan dan hubungi kembali melalui nomor resmi yang tertera di situs web atau aplikasi resmi instansi tersebut.
4. Periksa Nomor Mencurigakan Sebelum Menindaklanjuti
Manfaatkan layanan cek nomor penipuan seperti AduanNomor.id atau aplikasi pendeteksi spam.
5. Jangan Sembarangan Mengklik Link yang Dikirimkan
Link penipuan sering kali dibuat menyerupai situs resmi.
6. Perhatikan Bahasa dan Gaya Penulisan Pesan
Pesan penipuan biasanya mengandung kesalahan ejaan, kalimat tidak rapi, atau penggunaan kata yang terkesan memaksa.
7. Aktifkan Fitur Pemblokiran Spam di Ponsel
Banyak smartphone sudah dilengkapi fitur pemblokiran panggilan spam dan nomor tidak dikenal.
8. Simpan dan Catat Nomor yang Terindikasi Penipuan
Buat daftar pribadi berisi nomor-nomor mencurigakan atau yang sudah terbukti melakukan penipuan.
9. Edukasi Keluarga dan Orang Terdekat
Penipu sering menargetkan orang tua, anak, atau anggota keluarga yang kurang paham teknologi.
10. Segera Laporkan Jika Menemukan Indikasi Penipuan
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas secara konsisten, kewaspadaan digital akan meningkat.
Literasi digital, kebiasaan verifikasi, dan keberanian melapor adalah kombinasi penting untuk melindungi diri dari ancaman penipuan online yang terus berkembang
Penipuan digital tidak akan berhenti, tetapi dampaknya bisa diminimalkan. Kunci utamanya adalah tidak terburu-buru dan selalu melakukan pengecekan sebelum merespons.
Manfaatkan layanan resmi pemerintah, aplikasi pendukung, dan pengetahuan dasar keamanan digital.
Satu langkah verifikasi bisa menyelamatkan data, uang, dan ketenangan pikiran. Di era serba online, kehati-hatian bukan pilihan, melainkan kebutuhan.