
SERAYUNEWS – Pemerintah Kabupaten Cilacap menggenjot penanganan banjir yang kerap melanda wilayah Cilacap Kota.
Pemkab kini mengandalkan normalisasi Sungai Kaliyasa yang dipadukan dengan pembangunan kolam retensi serta perbaikan sistem drainase perkotaan sebagai solusi terpadu.
Langkah ini diharapkan mampu menekan risiko genangan, terutama saat hujan deras terjadi bersamaan dengan pasang air laut.
Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Cilacap, Bambang Tujiatno, menyebut persoalan banjir di Cilacap Kota sudah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, banyak titik rawan genangan di kawasan perkotaan yang mudah terdampak saat curah hujan tinggi.
“Pada 12 Oktober lalu terjadi hujan dengan intensitas tinggi, ditambah kondisi laut pasang. Di situ persoalan banjir muncul, sehingga penanganannya tidak bisa parsial,” kata Bambang, Jumat (23/1/2026).
Ia menegaskan, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di satu titik, tetapi dari hulu hingga ke saluran pembuangan akhir.
Sebagai langkah awal, Dinas PSDA memperkuat koordinasi lintas instansi, salah satunya dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak.
Hasil koordinasi tersebut mengarah pada rencana normalisasi Sungai Kaliyasa yang selama ini mengalami sedimentasi.
“Alhamdulillah, untuk sedimentasi di Sungai Kaliyasa akan tertangani melalui kegiatan normalisasi. Ini menjadi kunci agar air dari saluran kota bisa cepat mengalir ke sungai,” ujarnya.
Normalisasi ini dinilai krusial karena Sungai Kaliyasa menjadi muara utama aliran air dari kawasan perkotaan Cilacap.
Selain Sungai Kaliyasa, Dinas PSDA juga menyiapkan penanganan saluran pembuang di wilayah perkotaan yang direncanakan mulai dikerjakan pada 2026.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran daerah, Pemkab Cilacap tetap menargetkan perbaikan dilakukan secara bertahap.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat sistem pengendalian banjir di pusat kota.
Di sisi lain, Pemkab Cilacap juga mengusulkan pembangunan kolam retensi kepada pemerintah pusat. Setidaknya ada tiga lokasi yang masuk dalam usulan, yakni kawasan Jalan Sutomo, belakang Dinas Kesehatan, serta sekitar Brug Sentul di Jalan Gatot Subroto.
“Kolam retensi ini diharapkan bisa menahan limpasan air sementara sebelum dialirkan ke sungai,” jelas Bambang.
Keberadaan kolam retensi diharapkan dapat mengurangi debit puncak air saat hujan deras sehingga genangan bisa diminimalkan.
Tak hanya fokus pada sungai dan kolam retensi, Pemkab Cilacap juga akan mengkaji ulang sistem drainase kota melalui perencanaan terpadu. Kajian ini bertujuan mengatur aliran air masuk dan keluar secara lebih terkontrol.
Dengan sistem drainase yang lebih baik, pemerintah berharap risiko genangan di permukiman dan pusat aktivitas warga dapat ditekan secara signifikan.
Untuk proyek normalisasi Sungai Kaliyasa, Bambang menyebut pendanaan berasal dari APBN dengan nilai anggaran di atas Rp 80 miliar. Ia berharap proyek tersebut dapat segera terealisasi dan rampung tahun ini.
“Kalau sedimentasi Kaliyasa tertangani, maka sistem pengendalian banjir di Cilacap Kota akan jauh lebih efektif,” pungkasnya.