
SERAYUNEWS- Puasa Ramadan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Banyak orang justru bertanya, apakah berolahraga saat berpuasa aman atau malah membuat tubuh makin lemas dan lapar?
Pertanyaan ini kerap muncul, terutama bagi pekerja aktif dan pecinta lari. Di sisi lain, tren gaya hidup sehat tetap meningkat meski sedang menjalankan ibadah puasa.
Sebagian orang memilih tetap jogging, bersepeda, atau latihan ringan demi menjaga kebugaran dan berat badan. Namun, kekhawatiran soal dehidrasi dan energi drop tetap menghantui.
Lalu, kapan waktu terbaik berolahraga saat puasa? Apakah benar olahraga justru memicu rasa lapar berlebihan? Dan bagaimana hukumnya dalam Islam? Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Berdasarkan laporan kesehatan olahraga yang terbit di laman Kompas.com Jawa Barat, waktu ideal untuk berlari saat puasa adalah menjelang berbuka puasa atau setelah salat tarawih.
Pola ini dinilai paling aman karena tubuh segera mendapatkan asupan cairan setelah aktivitas fisik selesai. Olahraga 30–60 menit sebelum berbuka memungkinkan tubuh tidak terlalu lama berada dalam kondisi tanpa cairan.
Jika merasa lemas, waktu ini juga lebih aman karena makanan dan minuman segera tersedia. Alternatif lainnya adalah setelah tarawih. Pada waktu ini, tubuh sudah mendapatkan energi dari makanan berbuka, sehingga latihan bisa dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang tanpa risiko dehidrasi berlebihan.
Secara fisiologis, olahraga memang meningkatkan metabolisme tubuh. Namun, rasa lapar yang muncul tidak selalu berlebihan jika intensitas olahraga dikontrol.
Aktivitas fisik ringan seperti jalan cepat, yoga, atau stretching justru membantu menjaga stabilitas gula darah. Yang perlu dihindari adalah olahraga berat di siang hari dengan durasi panjang karena dapat mempercepat kehilangan cairan.
Kunci utamanya adalah hidrasi optimal saat sahur dan berbuka, serta memilih jenis olahraga yang sesuai kondisi tubuh.
Dalam syariat Islam, olahraga tidak membatalkan puasa selama tidak memasukkan sesuatu ke dalam tubuh secara sengaja melalui rongga yang membatalkan puasa. Aktivitas fisik pada dasarnya mubah (boleh) selama tidak membahayakan diri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan kewajiban puasa, namun tidak melarang aktivitas fisik selama tidak merusak tujuan ibadah.
Ayat lain menyebutkan:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Artinya:
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat ini menjadi dasar bahwa umat Islam dianjurkan menjaga kesehatan dan tidak melakukan aktivitas yang membahayakan diri, termasuk olahraga berlebihan saat puasa.
1. Menjaga kebugaran dan massa otot
2. Mengontrol berat badan
3. Membantu kualitas tidur
4. Menstabilkan mood
5. Menjaga metabolisme tubuh
Olahraga ringan juga membantu tubuh tetap adaptif selama Ramadan tanpa mengganggu ibadah.
1. Pilih waktu 30 menit sebelum berbuka atau setelah tarawih
2. Batasi durasi 20–40 menit
3. Hindari olahraga intensitas tinggi di siang hari
4. Perbanyak cairan saat sahur dan berbuka
4. Hentikan olahraga jika muncul pusing atau lemas berlebihan
Olahraga saat puasa tetap diperbolehkan dan tidak membatalkan ibadah selama dilakukan dengan bijak. Waktu terbaik adalah menjelang berbuka atau setelah tarawih agar tubuh tidak mengalami dehidrasi berkepanjangan.
Islam sendiri mendorong umatnya menjaga kesehatan tanpa membahayakan diri. Dengan pengaturan waktu dan intensitas yang tepat, puasa tetap khusyuk dan tubuh tetap bugar sepanjang Ramadan.
Puasa bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru dengan strategi yang tepat, ibadah dan kesehatan bisa berjalan beriringan secara optimal.