
PURWOKERTO, SERAYUNEWS- Menabung demi menunaikan ibadah haji menjadi impian jutaan umat Islam di Indonesia. Banyak orang rela menyisihkan penghasilan selama bertahun-tahun, bahkan menjual aset, agar bisa berangkat ke Tanah Suci.
Namun, memiliki biaya haji ternyata bukan satu-satunya syarat untuk menjadi calon jemaah haji yang layak berangkat.
Akademisi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy menegaskan bahwa Islam mengenal konsep istitha’ah, yakni kemampuan menyeluruh yang menjadi syarat wajib bagi seseorang untuk menunaikan ibadah haji.
Menurutnya, banyak masyarakat masih memahami kemampuan berhaji hanya dari sisi finansial. Padahal, syariat Islam maupun regulasi pemerintah Indonesia menetapkan bahwa kesiapan fisik dan kesehatan memiliki peran yang sama pentingnya.
Konsep istitha’ah telah ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu (istitha’ah) mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)
Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy menjelaskan bahwa makna “mampu” dalam ayat tersebut jauh lebih luas dibanding sekadar memiliki uang untuk membayar biaya perjalanan.
“Istitha’ah mencakup kemampuan finansial, kesehatan fisik, kondisi mental, keamanan perjalanan, hingga adanya jaminan nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan selama menjalankan ibadah haji,” ujarnya.
Artinya, seseorang yang telah memiliki biaya haji tetapi mengalami gangguan kesehatan serius atau tidak mampu menjalankan rangkaian ibadah secara fisik belum sepenuhnya memenuhi syarat istitha’ah.
Prinsip tersebut juga telah diatur dalam kebijakan pemerintah Indonesia.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah menyebutkan bahwa calon jemaah harus memenuhi persyaratan sehat jasmani, sehat rohani, dan memenuhi standar istitha’ah kesehatan.
Ketentuan tersebut diperjelas melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016 yang mendefinisikan istitha’ah kesehatan sebagai kemampuan fisik dan mental yang diukur melalui pemeriksaan kesehatan sehingga jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan agama.
Dengan kata lain, pemeriksaan kesehatan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bagian penting untuk memastikan keselamatan dan kelancaran ibadah selama berada di Tanah Suci.
Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik tinggi.
Selama berada di Arab Saudi, jemaah harus menjalani berbagai aktivitas yang menguras tenaga, mulai dari tawaf mengelilingi Ka’bah, sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, hingga berpindah lokasi menuju Muzdalifah dan Mina dalam kondisi cuaca yang panas dengan kepadatan jutaan jemaah dari berbagai negara.
Tidak sedikit jemaah yang mengalami kelelahan, dehidrasi, atau gangguan kesehatan karena kurang mempersiapkan kondisi tubuh sejak jauh hari.
Oleh sebab itu, menjaga kebugaran menjadi investasi penting agar ibadah dapat dijalankan secara optimal dan khusyuk.
Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy mengingatkan bahwa persiapan berhaji seharusnya tidak hanya fokus pada tabungan biaya, tetapi juga membangun gaya hidup sehat sejak dini.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan calon jemaah antara lain:
· Membiasakan berjalan kaki secara rutin untuk melatih daya tahan tubuh.
· Memenuhi kebutuhan cairan dengan memperbanyak minum air putih.
· Menjaga pola makan seimbang dan mengonsumsi makanan bergizi.
· Mengurangi makanan berlemak dan berlebihan.
· Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
· Mengelola penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, maupun gangguan jantung sejak dini.
Menurutnya, kesehatan tidak dapat dipersiapkan secara instan menjelang keberangkatan. Dibutuhkan proses dan kedisiplinan agar tubuh benar-benar siap menjalani seluruh rangkaian ibadah haji.
Selain menjaga kebugaran, calon jemaah juga wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan dan vaksinasi sesuai ketentuan pemerintah.
Beberapa vaksin yang diwajibkan antara lain vaksin meningitis meningokokus serta vaksin lain yang ditetapkan berdasarkan kondisi kesehatan global maupun kebijakan otoritas Arab Saudi.
Langkah tersebut bertujuan memberikan perlindungan kepada jemaah dari berbagai risiko penyakit menular selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Menabung biaya keberangkatan memang menjadi langkah penting bagi setiap calon jemaah. Namun, menurut Dr. Muhammad Ash-Shiddiqy, masyarakat juga perlu memiliki “tabungan kesehatan” yang dipelihara setiap hari.
Sebab, biaya haji dapat dikumpulkan dalam beberapa tahun, tetapi kesehatan hanya dapat dijaga melalui pola hidup sehat yang dilakukan secara konsisten.
“Jangan sampai seseorang sudah memiliki biaya untuk berhaji, tetapi kondisi tubuhnya belum siap menjalankan ibadah yang membutuhkan ketahanan fisik dan mental,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat mulai membangun kesadaran bahwa persiapan berhaji merupakan kombinasi antara kesiapan spiritual, finansial, dan kesehatan.
Dengan demikian, ketika kesempatan berangkat ke Tanah Suci tiba, calon jemaah tidak hanya siap secara ekonomi, tetapi juga mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan tenang, kuat, aman, dan penuh kekhusyukan.