
SERAYUNEWS- Memasuki pertengahan Bulan Suci Ramadan, suasana Salat Tarawih dan Witir di sejumlah masjid mulai terasa berbeda.
Pada malam-malam setelah tanggal 15 Ramadan, sebagian masjid mulai membaca doa qunut pada rakaat terakhir Salat Witir.
Tradisi ini banyak ditemukan di masjid-masjid yang mengikuti amaliah ulama Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Qunut Witir biasanya dibaca setelah rukuk pada rakaat terakhir Salat Witir ketika Ramadan telah memasuki separuh akhir.
Bagi sebagian masyarakat, muncul pertanyaan mengapa doa qunut tidak dibaca sejak awal Ramadan. Bahkan tidak sedikit yang bertanya dari mana asal-usul amalan tersebut serta dalil yang menjadi dasar para ulama mengamalkannya.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Dalam praktik ibadah di banyak masjid, doa qunut pada Salat Witir mulai dibaca ketika Ramadan memasuki malam ke-15 atau pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Amalan ini merujuk pada praktik yang dilakukan oleh sejumlah sahabat Nabi dan ulama salaf.
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mereka membaca qunut pada salat Witir khususnya pada separuh akhir Ramadan sebagai bentuk doa yang dipanjatkan menjelang malam-malam penuh kemuliaan.
Tradisi tersebut kemudian berkembang luas di berbagai wilayah dunia Islam, termasuk Indonesia, terutama di kalangan umat Islam yang mengikuti mazhab Syafi’i.
Meskipun Al-Qur’an tidak secara khusus menyebutkan qunut Witir di Ramadan, banyak ayat yang memerintahkan umat Islam untuk berdoa dan memohon kepada Allah, terutama pada waktu-waktu ibadah.
Salah satu dalil yang sering dijadikan landasan adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya:
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)
Dalil lainnya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Artinya:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Dalil lain tentang keutamaan berdoa:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً
Artinya:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.”
(QS. Al-A’raf: 55)
Ayat-ayat ini menjadi dasar umum bahwa memperbanyak doa, termasuk dalam salat, adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Dalam hadis riwayat sahabat Hasan bin Ali disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa qunut Witir.
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan bersama orang-orang yang Engkau beri kesehatan, dan peliharalah aku bersama orang-orang yang Engkau pelihara.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, dan sejumlah ulama hadis lainnya.
Dalam praktiknya, para ulama kemudian memperluas bacaan qunut dengan tambahan doa yang berisi permohonan ampunan, perlindungan, serta keberkahan hidup.
Berikut salah satu bacaan doa qunut yang umum dibaca dalam Salat Witir:
اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ
وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ
وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ
وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ
Artinya:
“Ya Allah, berilah kami petunjuk bersama orang yang Engkau beri petunjuk, berilah kami kesehatan bersama orang yang Engkau beri kesehatan, lindungilah kami bersama orang yang Engkau lindungi, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari keburukan yang Engkau tetapkan.”
Doa ini biasanya dibaca setelah rukuk pada rakaat terakhir salat Witir.
Dalam sejumlah kitab fikih dijelaskan bahwa membaca qunut Witir pada separuh akhir Ramadan merupakan amalan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa sahabat seperti Umar bin Khattab dan para ulama generasi setelahnya membaca qunut Witir ketika memasuki pertengahan Ramadan.
Hal ini dilakukan karena pada fase tersebut umat Islam mulai memasuki malam-malam yang diyakini berpotensi menjadi malam Lailatul Qadar, sehingga doa diperbanyak sebagai bentuk pengharapan kepada Allah.
Selain itu, tradisi ini juga bertujuan memperbanyak doa memohon keselamatan umat Islam serta memohon ampunan pada hari-hari terakhir Ramadan.
Malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan diyakini sebagai waktu yang sangat istimewa dalam Islam.
Banyak ulama menjelaskan bahwa memperbanyak doa pada malam tersebut menjadi salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah serta berharap memperoleh keberkahan malam Lailatul Qadar.
Dengan membaca qunut dalam Salat Witir, umat Islam memanfaatkan momentum tersebut untuk memohon ampunan, petunjuk, dan perlindungan dari berbagai keburukan.
Amalan ini juga menjadi bentuk spiritualitas yang memperkuat hubungan antara hamba dan Tuhannya.
Dalam kajian fikih, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai waktu membaca qunut Witir.
Mazhab Syafi’i dan sebagian ulama salaf menganjurkan qunut Witir pada separuh akhir Ramadan. Sementara sebagian ulama lainnya berpendapat qunut dapat dibaca sepanjang tahun.
Perbedaan ini menunjukkan kekayaan khazanah tradisi dalam Islam. Umat Islam diperbolehkan mengikuti pendapat ulama yang diyakini paling kuat berdasarkan pemahaman masing-masing.
Amalan qunut Witir pada pertengahan Ramadan bukanlah tradisi baru, melainkan praktik ibadah yang memiliki dasar dalam hadis dan tradisi ulama sejak masa sahabat.
Perbedaan waktu pelaksanaannya tidak seharusnya menjadi sumber perdebatan, melainkan dipahami sebagai bagian dari keragaman praktik ibadah dalam Islam yang tetap berlandaskan dalil.