
SERAYUNEWS – Tepat pada 20 Februari 2026 lalu, genap sudah 1 tahun kinerja Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen menakhodai Provinsi Jawa Tengah. Perjalanan dua pemimpin ini rupanya jauh dari kata santai. Mereka tidak sekadar disibukkan oleh seremonial birokrasi, melainkan langsung dihadapkan pada ujian berat dari alam sekaligus ditantang untuk mengejar ketertinggalan ekonomi daerah.
Bagaimana sebenarnya rapor kepemimpinan mereka selama setahun ke belakang?
Memasuki awal masa jabatan, kepemimpinan Luthfi-Yasin langsung disambut dengan rentetan bencana hidrometeorologi yang mencekam. Jawa Tengah seolah tak henti dikepung musibah; mulai dari tanggul jebol dan banjir bandang di Demak, pergerakan tanah di Tegal, hingga ancaman longsor di lereng Gunung Slamet.
Namun, alih-alih panik dan saling lempar tanggung jawab, Pemprov Jateng meresponsnya dengan taktik terukur. Lewat komando yang jelas, penanganan darurat di titik bencana dan proses pemulihan pascamusibah dieksekusi secara simultan untuk memastikan warga tak terkatung-katung.
Meski didera bencana bertubi-tubi, mesin ekonomi Jawa Tengah nyatanya tak ikut tenggelam. Kunci rahasianya ada pada strategi collaborative government—sebuah manuver Luthfi yang tak malu menggandeng kampus, pengusaha, hingga investor asing untuk ikut cawe-cawe membangun daerah.
Hasilnya bikin melongo. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) merekam pertumbuhan ekonomi Jateng di triwulan IV 2025 meroket hingga 5,37%, mengangkangi rata-rata nasional. Puncaknya, nilai investasi provinsi ini memecahkan rekor tertinggi dalam sedekade terakhir! Total uang masuk mencapai Rp88,50 triliun, yang langsung menyedot lebih dari 418 ribu tenaga kerja baru.
Prestasi gila-gilaan dari 1 tahun kinerja Ahmad Luthfi ini bahkan sampai membuat Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, angkat topi dan menyebut Jateng sebagai magnet baru para taipan.
Keberhasilan makro tersebut tak akan ada artinya jika perut rakyat masih lapar. Sadar akan hal itu, program prorakyat seperti layanan dokter spesialis keliling (Speling), bedah rumah (RTLH), dan sekolah gratis terus digeber. Hasilnya, angka kemiskinan sukses ditekan tajam dari 9,48% menjadi 9,39% pada September 2025.
Dampaknya sangat terasa di level akar rumput. Di Kabupaten Brebes, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sukses “lulus” dari daftar warga miskin. Setia Puji, salah satu warga, membuktikan hal tersebut. Ia yang dulu rutin antre bansos kini sukses hidup mandiri lewat usaha bakso kelilingnya yang makin moncer.
Meski sukses memborong 40 penghargaan prestisius sepanjang 2025, ulasan 1 tahun kinerja Ahmad Luthfi ini tentu masih menyisakan lubang pekerjaan rumah. Wakil Gubernur Taj Yasin secara terbuka mengakui bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jateng di angka 74,77 masih butuh suntikan tenaga ekstra, terutama untuk menjamin akses pendidikan bagi kelompok disabilitas.
Bagi Luthfi, memimpin Jateng adalah manifestasi dari laku ngopeni (merawat). Puluhan piala bukanlah garis finis dari pengabdian. “Ini cuma pengingat agar kebijakan kita benar-benar berdampak. Melayani rakyat itu amanah yang tidak ada ujungnya,” pungkas Luthfi membumi