
PURWOKERTO, SERAYUNEWS– Remaja berinisial SH (13), warga Kecamatan Kembaran, Banyumas, meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026). Kematian SH menjadi perhatian setelah muncul informasi bahwa dirinya diduga terkena amukan massa saat perjalanan pulang bersama dua temannya.
Polisi masih menyelidiki rangkaian peristiwa tersebut. Hingga kini, Polresta Banyumas belum menerima laporan resmi terkait kejadian yang diduga berlangsung di kawasan Bundaran Berkoh tersebut.
Kasatreskrim Polresta Banyumas Kompol Ardi Kurniawan mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab maupun kronologi kematian SH.
“Kalau laporan resmi ke SPKT Polresta belum ada. Kami juga masih menyelidiki peristiwa apa yang terjadi,” katanya.
Untuk mengungkap rangkaian peristiwa secara lebih lengkap, polisi telah mendatangi rumah duka serta rumah dua teman SH yang bersamanya pada malam kejadian.
Petugas juga meminta sejumlah barang untuk kepentingan penyelidikan, termasuk pakaian yang dikenakan SH dan telepon seluler milik korban.
Polisi masih mengumpulkan informasi dari berbagai pihak untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya.
“Nanti kita segera sampaikan, karena masih penyelidikan, nanti kita sampaikan kalau sudah lengkap,” katanya.
Kompol Ardi juga mengingatkan bahwa informasi mengenai kronologi maupun penyebab meninggalnya SH yang beredar di media sosial masih harus diverifikasi.
Sementara itu, saudara sepupu SH, Ukas, menceritakan versi kejadian yang diketahui keluarga.
Menurut Ukas, pada Jumat (4/9/2026) malam SH pergi bersama dua temannya untuk nongkrong di kawasan Jalan Bung Karno atau sekitar Menara Teratai.
Sekitar pukul 03.00 WIB pada Sabtu dini hari, SH bersama kedua temannya kemudian pulang melalui arah Berkoh.
Saat melintas di sekitar Bundaran Berkoh, mereka disebut mendapati sejumlah warga tengah berusaha membubarkan kelompok pengendara sepeda motor yang diduga menggunakan knalpot brong dan melakukan aksi balap liar.
Menurut Ukas, warga melakukan pembubaran dengan melempar serta memukul secara acak menggunakan kayu dan bambu.
Dalam situasi tersebut, SH diduga terkena pukulan pada bagian kepala dan lengan.
Ukas mengatakan SH tidak mengetahui adanya kericuhan tersebut dan tidak ikut dalam aksi balap liar.
Setelah berhasil meninggalkan lokasi, SH disebut dalam kondisi panik dan kemudian tiba di rumah salah satu temannya.
Saat berada di sana, SH mengeluhkan sakit pada bagian kepala.
“Dia mengeluhkan kepalanya sakit dan pusing. Saat mau diantar pulang oleh temannya juga sempat sempoyongan,” kata Ukas.
SH kemudian pulang. Namun, sebelum sempat masuk ke rumah, ia ditemukan tetangganya dalam kondisi tidak sadarkan diri di depan rumah.
Menurut Ukas, SH sempat mengalami kejang-kejang sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
“Hasil pemeriksaan medis menunjukkan SH mengalami pendarahan otak dan patah tulang pada lengan sehingga nyawanya tidak tertolong,” katanya.
Keterangan mengenai hasil pemeriksaan medis tersebut disampaikan pihak keluarga. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan rangkaian kejadian dan penyebab kematian SH.
Keluarga juga menegaskan bahwa SH tidak terlibat dalam aksi balap liar maupun kelompok pengendara yang menggunakan knalpot brong.
Menurut keluarga, SH saat itu mengendarai sepeda motor Supra Fit milik orang tuanya dengan kondisi sederhana.
Keluarga menyebut SH hanya dalam perjalanan pulang bersama dua temannya ketika melintasi kawasan Bundaran Berkoh.
Sementara itu, aksi kelompok remaja yang melakukan rolling menggunakan sepeda motor di sejumlah ruas jalan Purwokerto diketahui bukan fenomena baru.
Aktivitas tersebut kerap disebut Jumat Gaul dan Rabu Gaul.
Puluhan sepeda motor biasanya bergerak berkelompok di jalan raya. Sebagian pengendara disebut menggunakan knalpot brong dan melakukan aksi kebut-kebutan.
Aktivitas tersebut dinilai meresahkan karena dapat membahayakan pengguna jalan lain. Waktu pelaksanaan yang berlangsung hingga malam dan dini hari juga mengganggu warga yang sedang beristirahat.
Upaya masyarakat membubarkan kelompok tersebut juga disebut bukan kali pertama terjadi.
Selain di kawasan Berkoh, aksi pembubaran kelompok Jumat Gaul sebelumnya pernah terjadi di wilayah Tanjung dan sepanjang Jalan Gerilya.
Meski demikian, kaitan antara aksi pembubaran di Berkoh dengan meninggalnya SH masih dalam penyelidikan polisi.