
SERAYUNEWS – Pelaksanaan salat Iduladha di Lapangan Garung, Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo kembali diprediksi dipadati ribuan jamaah dari berbagai daerah pada perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.
Tradisi salat berjamaah di kawasan pegunungan ini dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu destinasi wisata religi yang banyak diminati masyarakat.
Berada di kaki Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, Lapangan Garung menawarkan suasana ibadah dengan latar panorama alam terbuka yang memukau.
Hamparan pegunungan, udara sejuk khas dataran tinggi, hingga suasana desa yang masih asri menjadi daya tarik utama yang membuat banyak jamaah rela datang sejak dini hari bahkan beberapa hari sebelum pelaksanaan salat.
Tahun ini, slat Iduladha di Lapangan Garung akan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026. Panitia memperkirakan jumlah jamaah yang hadir kembali membludak seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Desa Butuh, Dzikroni, mengatakan antusiasme masyarakat untuk mengikuti salat Id di Garung terus meningkat setiap tahun.
Pada pelaksanaan sebelumnya, jumlah jamaah disebut mencapai sekitar 30 ribu orang, sedangkan kapasitas lapangan utama hanya mampu menampung sekitar 7 ribu jamaah.
Salah satu hal yang membuat suasana Iduladha di Garung terasa berbeda ialah keramahan masyarakat setempat. Warga Dusun Garung memiliki tradisi membuka rumah mereka untuk jamaah dari luar daerah yang datang lebih awal.
Sebagian pendatang boleh beristirahat atau menginap tanpa dipungut biaya. Tradisi tersebut sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bentuk gotong royong masyarakat dalam menyambut tamu yang datang untuk beribadah.
Menurut Dzikroni, warga melakukannya secara sukarela sebagai bentuk penghormatan kepada sesama Muslim yang datang untuk melaksanakan salat Id.
Selain rumah warga, pengunjung juga dapat memilih penginapan di sekitar kawasan Garung apabila ingin mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman selama berada di Wonosobo.
Tidak sedikit jamaah yang sengaja datang lebih awal untuk menikmati suasana desa pegunungan sekaligus berbaur dengan kehidupan masyarakat lokal sebelum pelaksanaan salat berlangsung.
Karena jumlah pengunjung yang terus meningkat, panitia mengimbau jamaah datang lebih awal agar mendapatkan tempat di area lapangan utama.
Banyak jamaah biasanya mulai memadati kawasan Garung sejak pukul 03.00 WIB. Jika datang terlalu pagi menjelang waktu salat, jamaah berisiko tidak mendapat tempat di lapangan dan harus melaksanakan salat di area sekitar jalan desa.
Panitia telah menyiapkan perluasan saf apabila kapasitas lapangan utama tidak lagi mencukupi. Namun demikian, area tambahan tersebut tetap akan penuh karena tingginya jumlah pengunjung.
Selain datang lebih awal, jamaah juga diminta mempersiapkan perlengkapan ibadah pribadi seperti sajadah, mukena, sarung, hingga alas tambahan. Embun pagi di kawasan pegunungan sering membuat permukaan tanah dan rumput menjadi lembap.
Pengunjung yang datang ke Garung juga perlu mempersiapkan kondisi fisik dan perlengkapan yang memadai. Suhu udara di kawasan tersebut bisa terasa sangat dingin menjelang subuh hingga pagi hari.
Oleh karena itu, jamaah sebaiknya menggunakan jaket tebal atau pakaian hangat, terutama bagi pengunjung yang tidak terbiasa dengan udara dataran tinggi.
Selain cuaca dingin, jalur menuju Garung juga didominasi tanjakan dan tikungan khas pegunungan. Pengunjung yang menggunakan kendaraan pribadi perlu memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, terutama bagian rem, ban, dan bahan bakar.
Panitia juga mengingatkan pengunjung untuk menjaga ketertiban selama berada di kawasan Garung. Jamaah jangan membuang sampah sembarangan serta menghormati area kebun dan lingkungan warga sekitar.
Selain menjadi tempat ibadah, pelaksanaan Shalat Idul Adha di Garung juga mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan masyarakat desa.
Tradisi menerima tamu, berbagi tempat istirahat, hingga saling membantu selama pelaksanaan kegiatan menjadi gambaran kehidupan sosial masyarakat pegunungan yang masih terjaga.
Di sisi lain, umat Muslim yang datang juga menjalankan sunah Iduladha dengan tidak makan sebelum salat berlangsung. Tradisi tersebut mengikuti teladan Rasulullah saw. yang menunda makan hingga setelah pelaksanaan salat Id.
Bagi banyak jamaah, pengalaman salat Id di Garung bukan sekadar perjalanan religi biasa. Panorama alam, udara pegunungan, dan suasana hangat masyarakat desa menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda daripada pelaksanaan salat Id di perkotaan.
Dengan meningkatnya jumlah pengunjung setiap tahun, masyarakat yang ingin melaksanakan salat Iduladha di Garung sebaiknya mempersiapkan perjalanan sejak jauh hari agar ibadah dapat berlangsung lebih nyaman dan khusyuk.***