
SERAYUNEWS- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memasuki babak krusial dalam menentukan arah kepemimpinan periode 2026–2030.
Melalui Rapat Terbuka Senat, empat bakal calon rektor memaparkan visi, misi, serta program kerja strategis di hadapan sivitas akademika, Kamis (29/1/2026).
Agenda yang digelar di Gedung Justitia Lantai 2 Fakultas Hukum Unsoed ini dihadiri sekitar 180 peserta undangan, mulai dari Ketua dan Anggota Senat, jajaran Wakil Rektor, dosen, tenaga kependidikan, alumni, perwakilan kantor pusat, mahasiswa, hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Forum ini menjadi ruang resmi dan terbuka untuk menguji gagasan para kandidat sebelum Unsoed menetapkan rektor definitif.
Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof. Dwi Nugroho Wibowo menegaskan bahwa tahapan penyampaian visi, misi, dan program kerja merupakan fondasi penting dalam menentukan masa depan Unsoed.
Menurutnya, forum ini memberi kesempatan kepada sivitas akademika untuk menilai gagasan para bakal calon rektor secara objektif dan komprehensif.
“Pemaparan visi, misi, dan program kerja ini menjadi ruang strategis bagi sivitas akademika untuk menilai secara objektif gagasan para bakal calon rektor. Tahapan ini juga mencerminkan komitmen Unsoed terhadap proses pemilihan yang transparan, demokratis, dan berorientasi pada kemajuan institusi,” ujar Prof. Bowo.
Ia berharap seluruh rangkaian pemilihan rektor dapat berjalan lancar hingga terpilih pemimpin terbaik yang mampu membawa Unsoed semakin berdaya saing, adaptif terhadap perubahan global, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Rapat Terbuka Senat menghadirkan empat bakal calon rektor dengan latar belakang akademik dan kepemimpinan yang beragam.
Masing-masing kandidat menyampaikan gagasan strategis yang menitikberatkan pada penguatan akademik, tata kelola, riset terapan, serta kontribusi Unsoed bagi pembangunan nasional.
Bakal calon rektor nomor urut satu, Prof. Ali Rokhman mengawali pemaparan visi dengan menekankan pentingnya kesinambungan capaian institusi.
Ia mengusung visi “Mengawal Pencapaian Unsoed Menjadi Institusi yang Diakui Dunia sebagai Pusat Pengembangan Sumber Daya Pedesaan dan Kearifan Lokal pada Tahun 2034.”
Menurutnya, Unsoed perlu menjaga konsistensi kebijakan akademik dan riset agar pengakuan internasional yang telah diraih dapat terus diperkuat secara berkelanjutan.
Bakal calon rektor nomor urut dua, Prof. Akhmad Sodiq menekankan pentingnya transformasi Unsoed menjadi universitas berdampak.
Visi yang ia tawarkan adalah “Bertransformasi Menuju Unsoed Berdampak dan Mewujudkan Pusat Pengembangan Sumber Daya Perdesaan dan Kearifan Lokal sebagai Pendorong Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru.”
Ia menyoroti peran strategis riset dan inovasi kampus dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal serta penguatan jejaring industri dan pemerintah daerah.
Bakal calon rektor nomor urut tiga, Dr. Adi Indrayanto, menggarisbawahi pentingnya tata kelola yang sehat sebagai fondasi universitas unggul.
Ia memaparkan visi “Mewujudkan Unsoed sebagai Universitas yang Sehat Secara Tata Kelola dan Akademik, Unggul dalam Riset Terapan Perdesaan, serta Berdaya Saing Internasional Berbasis Kearifan Lokal.”
Menurutnya, penguatan sistem manajemen, transparansi, serta kualitas akademik akan menentukan daya saing Unsoed di tingkat global.
Bakal calon rektor nomor urut empat, Dr. Khavid Faozi, mengusung visi “Menjadikan Universitas Berdampak melalui Pendidikan Inklusif, Hilirisasi Riset dan Inovasi Berkelanjutan, serta Transformasi Pelayanan Pendidikan Toward Brighter University.”
Ia menekankan pentingnya akses pendidikan yang inklusif serta optimalisasi hasil riset agar memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan dunia industri.
Usai pemaparan visi dan misi, Senat Unsoed melanjutkan agenda dengan Rapat Senat Tertutup untuk melakukan penilaian dan pemilihan. Dari total 79 anggota Senat, tiga kandidat memperoleh suara terbanyak dan berhak melaju ke tahap selanjutnya.
Tiga calon rektor Unsoed periode 2026–2030 yang lolos adalah:
Ketiganya akan diusulkan kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada April 2026 untuk proses penetapan rektor definitif, dengan porsi suara menteri sebesar 35 persen.
Rangkaian tahapan pemilihan rektor ini menegaskan komitmen Unsoed dalam menghadirkan kepemimpinan yang visioner, profesional, dan berorientasi dampak.
Melalui proses yang transparan dan demokratis, Unsoed berharap dapat melahirkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat kontribusi universitas bagi pembangunan nasional berbasis kearifan lokal.