Minggu, 19 September 2021

Soemitro Kolopaking, Pendamai Kelompok Islam dengan Kiai Sadrach di Banjarnegara

Soemitro Kolopaking. sumber: KITLV

Soemitro Kolopaking adalah Bupati Banjarnegara pada tahun 1927-1949. Ada banyak cerita yang bisa didapatkan dari Soemitro. Salah satu yang bisa dicontoh adalah bagaimana Soemitro yang lahir di Papringan ini cinta perdamaian.

Di masa Soemitro memimpin kala itu, Syarikat Islam adalah organisasi yang berkembang di Banjarnegara. Bahkan, beberapa kali acara skala besar Syarikat Islam, dilaksanakan di Banjarnegara. Misalnya saja kongres organisasi pramuka Syarikat Islam pada 1928 dan Kongres Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada 1943.

Situasi itu membuat Banjarnegara menjadi salah satu basis Syarikat Islam. Selain itu, beberapa pemuka agama juga datang ke Banjarnegara di masa Perang Diponegoro. Maklum saja, Banjarnegara adalah basis pejuang atau pendukung Pangeran Diponegoro. Salah satu kelompok pendukung Pangeran Diponegoro adalah ulama.

Maka, Banjarnegara pun menjadi daerah dengan basis masyarakat Islam. Namun, ada juga kelompok agama di lain di Banjarnegara. Salah satunya adalah Kristen. Kristen di Banjarnegara ini adalah mereka pengikut Kiai Sadrach.

Kiai Sadrach adalah sosok yang lahir pada 1835 di Jepara. Dia baru memeluk Kristen ketika dewasa. Namanya berubah dari Radin menjadi Sadrach. Kiai Sadrach ini adalah sosok penginjil penting di Jawa. Dia melakukan misi penginjilan dengan pendekatan budaya Jawa. Dia memiliki jemaat banyak di daerah kisaran barat Yogyakarta.

Di tahun-tahun itu, jemaat Kiai Sadrach mencapai ribuan. Bahkan saat Kiai Sadrach meninggal dunia di Purworejo, jemaatnya sampai 20 ribu. Pengikutnya pun menyebar di beberapa tempat salah satunya di Banjarnegara. Nah, perbedaan agama antara Islam dan Kristen yang merupakah jemaat Kiai Sadrach memunculkan gesekan.

Gesekan muncul di Banjarnegara. Bukan hanya dua kelompok itu, ada juga gesekan terjadi dengan Tionghoa Banjarnegara. Gesekan sosial inilah yang kemudian didamaikan oleh Soemitro Kolopaking. Maka, kedamaian Banjarnegara membuat daerah itu nyaman untuk ditinggali.

Dari kemampuan Soemitro untuk menjadi pendamai, bisa dipetik pelajaran penting. Bagaimana seorang pemimpin bisa mengayomi semua masyarakatnya. Bagaimana pemimpin bisa berdiri untuk kepentingan umum.

Kiprah Soemitro Kolopaking bukan hanya di daerah. Dia juga merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Nama Soemitro Kolopaking diabadikan menjadi nama stadion di Banjarnegara.

referensi:

Suwito Eko Pramono, Tsabit Azinar Ahmad: The Local Heroes from Rural Banjarnegara

Silas Sariman: Strategi Misi Sadrach Suatu Kajian yang Bersifat Sosio Historis

Samudra Eka Cipta: Membangun Komunitas Kristen Kang Mardika

 

Berita Terkait

Berita Terkini