
SERAYUNEWS – Hujan deras yang terjadi selama tiga hari berturut-turut memicu pergerakan tanah di Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.30 WIB itu menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga dan mengancam bangunan sekolah di sekitar lokasi.
Sebelumnya, wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Akibatnya, pergerakan tanah juga mengancam bangunan SMPN 3 Satu Atap (Satap) Pandanarum serta satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengatakan pergerakan tanah di Desa Lawen menyebabkan lima rumah warga masuk dalam kategori terancam.
Rumah tersebut milik Misto dan Bardi di Dusun Kendilwesi, serta rumah milik Turyanto, Kaswari, dan Tarwo di Dusun Jamban, Desa Lawen.
Selain rumah warga, rekahan tanah juga mengancam bangunan sekolah SMPN 3 Satap Pandanarum, termasuk bangunan PAUD Tunas Bangsa yang berada tidak jauh dari lokasi pergerakan tanah.
“Akibat pergerakan tanah ini menyebabkan beberapa bangunan retak, termasuk akses jalan dan permukiman. Selain itu, pada jarak 150 meter dari pusat rekahan tanah ini ada 12 rumah penduduk,” katanya.
Menurut Aji, pergerakan tanah juga mengancam satu dusun yang berada di bawah pusat rekahan atau berjarak sekitar 200 meter.
Meski demikian, hingga saat ini warga masih bertahan di rumah masing-masing dengan tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan masih tinggi.
“Untuk sementara, para warga masih tetap bertahan di rumah masing-masing, namun kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, mengingat potensi hujan masih terjadi di wilayah tersebut,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak lanjutan, BPBD bersama relawan terus melakukan pemantauan di lokasi kejadian.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menutup rekahan tanah guna mencegah terjadinya longsor susulan.
“Untuk sementara, tim BPBD dan relawan masih melakukan pemantauan di lokasi, termasuk menutup rekahan tanah untuk mencegah terjadinya longsor,” katanya.
Selain itu, tim juga melakukan perbaikan alat Early Warning System (EWS) untuk memantau pergerakan tanah secara lebih akurat.
“Saat ini selain menutup rekahan tanah, tim juga melakukan perbaikan alat EWS untuk memantau dan melihat pergerakan tanah di lokasi tersebut. Himbauan kami, masyarakat untuk tetap dan selalu meningkatkan kewaspadaan, mengingat hujan masih terjadi di wilayah tersebut,” ujarnya.