
SERAYUNEWS – Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto mengaku terkesan dengan perubahan yang terjadi di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap. Dalam kunjungan kerja bersama Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto, Titiek menyaksikan langsung berbagai program ketahanan pangan yang dikembangkan di pulau yang selama ini dikenal sebagai lokasi lembaga pemasyarakatan berisiko tinggi tersebut.
Kunjungan diawali dengan peninjauan workshop produksi batako berbahan fly ash bottom ash (FABA), yang menjadi bagian dari program pembinaan warga binaan. Selanjutnya, rombongan meninjau peternakan ayam petelur di Lapas Terbuka, balai latihan kerja konveksi, budidaya anggur dan peternakan domba di Lapas Kembang Kuning, kawasan budidaya udang vaname di Bantar Panjang, hingga panen sidat di Lapas Batu.
Di hadapan jajaran Kementerian Imipas, Titiek menyampaikan apresiasi atas pemanfaatan lahan yang sebelumnya tidak produktif menjadi kawasan yang mendukung ketahanan pangan nasional.
“Kami datang ke sini dalam rangka melihat usaha meningkatkan ketahanan pangan. Kami melihat sendiri bagaimana lahan-lahan yang sebelumnya tidak termanfaatkan bisa disulap menjadi lahan produktif,” kata Titiek.
Ia mengaku terkejut melihat beragam komoditas yang kini dikembangkan di Nusakambangan, mulai dari padi, anggur, ayam petelur, udang vaname hingga sidat.
“Dulu kalau mendengar Nusakambangan, bayangannya selalu menyeramkan. Bahkan seperti Alcatraz. Tapi setelah datang langsung, ternyata sangat ramah dan bisa menghasilkan begitu banyak produk yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Titiek, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan sektor pangan bisa dilakukan di berbagai wilayah selama ada kemauan dan keseriusan dalam pengelolaannya.
“Kalau Nusakambangan saja bisa seperti ini, apalagi daerah lain. Kita punya tanah yang subur, tinggal bagaimana kemauan kita untuk mengelolanya demi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Selain aspek ketahanan pangan, Titiek juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan warga binaan dalam berbagai program produktif tersebut.
Menurutnya, keterampilan yang diberikan selama menjalani masa pidana akan menjadi bekal penting ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
“Mereka mendapatkan keterampilan, mendapat insentif, dan hasilnya ditabung. Saat bebas nanti, mereka sudah memiliki kemampuan dan bekal untuk memulai kehidupan yang lebih baik,” katanya.

Titiek berharap konsep pengembangan ketahanan pangan yang diterapkan di Nusakambangan dapat direplikasi di berbagai daerah dan instansi pemerintah lainnya.
“Kalau bisa ini tidak hanya di sini. Kementerian lain juga bisa datang melihat dan mengembangkan hal serupa sesuai potensi yang dimiliki masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Imipas Agus Andrianto mengucapkan terima kasih atas kunjungan Ketua Komisi IV DPR RI beserta rombongan. Ia menyebut sejumlah masukan yang diberikan akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan program ke depan.
“Kami berterima kasih atas kunjungan Ibu Ketua Komisi IV DPR RI. Evaluasi dan arahan yang diberikan akan kami tindak lanjuti untuk perbaikan program yang sudah berjalan,” kata Agus.

Agus menjelaskan, program ketahanan pangan tidak hanya dilakukan di Nusakambangan. Saat ini pihaknya telah menginstruksikan seluruh lapas dan rumah tahanan di Indonesia untuk mengoptimalkan lahan kosong yang tersedia guna mendukung kebutuhan pangan internal.
“Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan di dalam lapas dan rutan sekaligus membantu pemerintah menjaga stabilitas harga pangan. Kami ingin kebutuhan seperti telur dapat dipenuhi secara mandiri sehingga tidak menjadi faktor yang mendorong inflasi,” jelasnya.
Menurut Agus, langkah tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata Kementerian Imipas dalam mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kualitas pembinaan bagi warga binaan di seluruh Indonesia.