
SERAYUNEWS – Kasus penarikan produk susu formula bayi produksi Nestle menjadi sorotan publik internasional dalam beberapa waktu terakhir.
Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan setelah muncul dugaan kontaminasi toksin cereulide pada salah satu bahan baku yang digunakan.
Penarikan dilakukan di puluhan negara yang tersebar di berbagai kawasan, mulai dari Eropa, Amerika, Asia, hingga Afrika, meskipun hingga kini belum ada laporan resmi terkait kasus keracunan yang terkonfirmasi.
Sejumlah merek yang terdampak antara lain Beba, Alfamino, Guigoz, SMA, NAN, Lactogen Harmony, hingga Illuma Blue.
Langkah preventif tersebut dilakukan otoritas keamanan pangan masing-masing negara demi memastikan perlindungan maksimal bagi konsumen, terutama bayi dan anak-anak yang menjadi kelompok paling rentan.
Situasi Produk Susu Formula di Indonesia
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan tidak ada penarikan resmi produk susu formula Nestle dari peredaran.
Namun demikian, BPOM menemukan adanya produk yang ikut terdampak secara administratif, yakni susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 untuk usia 0–6 bulan dengan dua nomor bets tertentu.
Meski hasil pengujian laboratorium BPOM menunjukkan bahwa toksin cereulide tidak terdeteksi pada produk tersebut, BPOM tetap menginstruksikan PT Nestle Indonesia untuk menghentikan distribusi dan impor sementara sebagai langkah kehati-hatian.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak menggunakan produk dengan nomor bets terkait guna menghindari potensi risiko kesehatan.
Apa Itu Toksin Cereulide?
Toksin cereulide merupakan zat beracun yang dihasilkan oleh strain tertentu bakteri Bacillus cereus.
Bakteri ini tergolong mikroorganisme yang umum ditemukan di lingkungan, seperti tanah, debu, serta berbagai bahan pangan. Bacillus cereus dikenal memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi, bahkan dalam kondisi ekstrem.
Dalam kondisi tertentu, bakteri ini dapat berkembang biak dan memproduksi cereulide yang bersifat sangat stabil.
Racun ini dapat mencemari berbagai jenis makanan, mulai dari nasi, pasta, hingga produk berbasis susu. Jika makanan atau minuman yang terkontaminasi dikonsumsi, cereulide dapat memicu keracunan makanan.
Salah satu karakteristik cereulide yang membuatnya berbahaya adalah sifatnya yang sangat tahan terhadap panas.
Racun ini tidak rusak meskipun makanan dipanaskan dengan suhu tinggi atau diseduh menggunakan air mendidih. Bahkan, cereulide diketahui mampu bertahan pada suhu ekstrem hingga lebih dari 100 derajat Celsius.
Dalam konteks susu formula, kondisi ini membuat proses penyajian dengan air panas tidak serta-merta menghilangkan potensi bahaya jika bahan bakunya sudah terkontaminasi sejak awal.
Inilah yang menjadi alasan utama mengapa kewaspadaan tinggi diperlukan meskipun produk telah diproses sesuai standar.
Dampak Toksin Cereulide bagi Kesehatan
Paparan cereulide dapat menyebabkan sindrom emetik, yaitu bentuk keracunan makanan yang ditandai dengan mual hebat dan muntah.
Gejala biasanya muncul dalam waktu singkat, berkisar antara 30 menit hingga 6 jam setelah konsumsi. Selain muntah, penderita juga dapat mengalami kram perut dan dalam beberapa kasus disertai diare.
Pada bayi dan anak kecil, gejala keracunan bisa terlihat dari muntah berulang, diare, rewel berkepanjangan, menolak minum susu, hingga tampak lemas. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini berpotensi menyebabkan dehidrasi yang cukup serius.
Cara Kerja Cereulide dalam Tubuh
Cereulide bekerja dengan mengganggu keseimbangan ion dalam sel tubuh. Racun ini merangsang reseptor tertentu di saluran pencernaan yang kemudian mengirimkan sinyal ke otak untuk memicu rasa mual dan muntah. Selain itu, cereulide juga dapat merusak fungsi mitokondria, bagian sel yang berperan dalam produksi energi, sehingga memperparah kondisi tubuh.
Meski sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri, dalam situasi yang sangat jarang, cereulide dilaporkan dapat menyebabkan kerusakan hati serius hingga berakibat fatal.
Penanganan dan Langkah Pencegahan
Sebagian besar kasus keracunan cereulide dapat ditangani dengan perawatan suportif, seperti menjaga kecukupan cairan dan istirahat.
Namun, bagi kelompok rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah, pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
Pencegahan menjadi langkah paling penting mengingat cereulide tidak bisa dihilangkan melalui pemasakan.
Masyarakat diimbau untuk memperhatikan kebersihan dalam pengolahan dan penyimpanan makanan, serta mematuhi informasi penarikan produk yang dikeluarkan otoritas resmi.
Demikian informasi tentang apa itu toksin cereulide dan cara pencegahannya.***










