
SERAYUNEWS – Penarikan sejumlah produk susu formula bayi oleh Nestle di berbagai negara menjadi perhatian publik internasional.
Langkah ini diambil setelah adanya temuan potensi cemaran zat beracun bernama cereulide pada merek dan nomor batch tertentu.
Di Indonesia, isu ini juga mendapat sorotan serius setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta penarikan terbatas terhadap produk susu formula bayi impor sebagai bentuk kehati-hatian.
Kasus ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, terutama para orang tua, mengenai apa sebenarnya cereulide, seberapa berbahaya zat tersebut, serta bagaimana jaminan keamanan produk susu formula yang beredar di Indonesia.
Nestle secara global melakukan penarikan produk susu formula bayi pada batch tertentu di sekitar 49 negara.
Langkah ini dilakukan setelah teridentifikasi adanya potensi kontaminasi pada salah satu bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
Di Indonesia, BPOM meminta PT Nestle Indonesia menarik dua nomor batch produk impor Wyeth S-26 Promil Gold pHPro 1, meskipun hasil pengujian laboratorium tidak menemukan kandungan cereulide.
Penarikan ini dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian karena produk ditujukan untuk kelompok rentan, yakni bayi usia 0–6 bulan.
Cereulide merupakan racun yang dihasilkan oleh bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini secara alami dapat ditemukan di lingkungan seperti tanah, debu, dan udara, serta berpotensi mencemari bahan pangan apabila proses penanganan tidak optimal.
Keberadaan cereulide menjadi perhatian serius karena sifatnya yang tahan panas. Artinya, racun ini tidak dapat dihilangkan melalui proses pemanasan, perebusan, pendinginan, maupun penyimpanan di lemari es.
Jika sudah terbentuk, cereulide tetap berbahaya meski makanan atau minuman telah diproses ulang.
Pada bayi, konsumsi produk yang terkontaminasi cereulide dapat memicu gejala gangguan pencernaan yang muncul relatif cepat, umumnya dalam rentang waktu 30 menit hingga enam jam.
Gejala yang dapat timbul meliputi muntah, diare, nyeri perut, rewel, lemas, hingga tanda-tanda dehidrasi.
Meski keracunan cereulide tidak menular antarindividu, kondisi ini tetap berisiko serius apabila tidak segera ditangani, terutama pada bayi dengan daya tahan tubuh yang masih berkembang.
Penanganan biasanya difokuskan pada perawatan gejala, seperti mencegah dehidrasi, dan bukan dengan pemberian antibiotik. Dengan penanganan cepat, sebagian besar kasus dapat pulih tanpa komplikasi jangka panjang.
Menanggapi perkembangan tersebut, Nestle Indonesia menyampaikan klarifikasi bahwa fasilitas produksi dan proses manufaktur di dalam negeri tidak terdampak oleh isu cereulide.
Perusahaan menegaskan seluruh produk yang diproduksi di Indonesia tetap aman dan memenuhi standar keamanan pangan nasional maupun internasional.
Nestle Indonesia menjelaskan bahwa potensi masalah berasal dari salah satu bahan baku impor, yakni minyak arachidonic acid (ARA oil), yang disuplai oleh pemasok tertentu di luar negeri.
Hanya dua batch produk impor dari Swiss yang dinilai berpotensi terdampak, dan hasil pengujian menunjukkan tidak adanya kandungan cereulide.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan kepatuhan terhadap arahan BPOM, Nestle Indonesia menghentikan sementara distribusi dan impor produk terkait serta melakukan penarikan sukarela di bawah pengawasan otoritas.
BPOM menegaskan bahwa langkah penarikan dilakukan semata-mata sebagai tindakan preventif. Lembaga ini memastikan pengawasan ketat terus dilakukan untuk menjamin keamanan produk susu formula yang beredar di Indonesia.
Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa nomor batch produk, mengikuti informasi resmi dari BPOM dan produsen, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi.
Kasus cereulide pada susu formula Nestle menjadi pengingat pentingnya pengawasan rantai pasok pangan secara global, terutama untuk produk yang dikonsumsi oleh kelompok rentan.
Dengan langkah antisipatif dan keterbukaan informasi, diharapkan kepercayaan publik terhadap keamanan pangan tetap terjaga.***