
SERAYUNEWS – Rasa syukur menyelimuti warga Grumbul Karang Pelem, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas.
Pada Kamis (1/1/2026) siang, warga menggelar tasyakuran atas selesainya pembangunan bak penampung dan penyaringan air bersih yang didukung oleh PT Dinar Batu Agung (DBA).
Acara tasyakuran digelar langsung di lokasi fasilitas air bersih dan dihadiri perwakilan Paguyuban Pengguna Air Bersih Tirta Jenar serta masyarakat setempat.
Sebagai bentuk apresiasi, warga membentangkan spanduk ucapan terima kasih kepada PT DBA atas bantuan sarana vital berukuran 3 x 2 meter tersebut.
Fasilitas air bersih itu berdiri di atas lahan hibah dari PT DBA dan Bapak Priyo, dengan pengelolaan yang kini diserahkan kepada BP-SPAM Batur Makmur.
Selama delapan tahun terakhir, warga setempat kerap kesulitan memperoleh air bersih, terutama saat sumber air pegunungan mengalami kekeruhan.
“Alhamdulillah, sebelumnya kami bergantung pada Pamsimas milik saudara terdekat ketika air dari Gunung Dinar keruh. Sekarang dengan adanya bak penampung dan penyaring ini, ke depan kami lebih tenang,” kata Warkim, warga setempat.
Perwakilan PT DBA, Novi, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas air bersih tersebut merupakan bentuk komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Seluruh biaya tambahan akibat penyesuaian ukuran bak ditanggung sepenuhnya oleh perusahaan,” ujarnya.
Selain manfaat air bersih, kerja sama warga dengan PT DBA juga berdampak positif pada sektor pertanian. Lahan yang sebelumnya dipenuhi bongkahan batu granit besar kini berubah menjadi area yang lebih rata dan siap ditanami.
Proses reklamasi lahan telah berlangsung sejak 2021, dengan mengangkat batu-batu besar yang selama ini menghambat aktivitas pertanian. Batu tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai material konstruksi, sementara tanahnya menjadi lebih subur.
Salah satu pemilik lahan, Suyanto, mengungkapkan kondisi lahannya sebelum direklamasi.
“Kalau dilihat sebelumnya, di atas lahan itu hanya batu. Setelah batunya diambil, yang tersisa adalah tanah bercampur kotoran. Nantinya, setelah menjadi tanah murni, lahan bisa ditanami kembali,” kata Suyanto.
Setelah proses pembersihan batu rampung, lahan akan dikembalikan kepada pemilik. Meski awalnya direncanakan untuk tanaman kayu, warga melihat potensi ekonomi yang lebih cepat dari tanaman palawija.
“Harapannya, lahan ini dikembalikan dalam kondisi seperti yang sudah dikerjakan sekarang, karena sudah ada buktinya. Kami satu lokasi, jadi ingin kondisi yang sudah diratakan ini bisa dimanfaatkan kembali,” katanya.
Ia menambahkan, secara ekonomi tanaman palawija lebih cepat menghasilkan.
“Kami ingin ada penghasilan yang lebih cepat untuk membantu perekonomian,” ujarnya.
Menurut Suyanto, kerja sama dengan PT DBA memberikan keuntungan ganda bagi pemilik lahan. Selain mendapatkan kompensasi dari penjualan batu, kondisi tanah juga menjadi lebih baik tanpa harus menjual atau menyewakan lahan.
“Daripada tanah tidak bisa panen karena hanya berisi batu, lebih baik dikelola. Kami dapat hasil dari batunya, tanahnya juga menjadi bagus, dan nantinya bisa ditanami palawija,” kata dia.
Ia menjelaskan bahwa yang diambil dari lahan hanyalah batu granit.
“Yang diambil hanya batunya. Untuk harga per kubik sekitar Rp350 ribu,” kata dia.
Suyanto berharap proses reklamasi segera tuntas agar lahan dapat dimanfaatkan kembali.
“Lahan kami ini tanah pribadi, bukan milik negara. Kami ingin segera menanam palawija karena hasilnya lebih cepat dan manfaatnya nyata dibanding tanaman kayu,” kata Suyatno.
Sebagai dukungan tambahan, PT DBA juga memberikan bantuan bibit durian kepada para pemilik lahan untuk ditanam di area yang telah direklamasi.
Di sisi lain, penutupan sementara operasional PT DBA memicu keresahan di kalangan penambang manual yang menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut. Warga dan pekerja tambang kemudian meluncurkan petisi agar kegiatan tambang dapat kembali dibuka.
Dalam petisi itu tertulis: ‘Kami para pekerja menghidupi keluarga. Mengolah kekayaan alam bukan berarti merusak lingkungan’.
Salah seorang pekerja menyampaikan keluhannya.
“Kami sangat terpojok. Tanpa penghasilan, sulit membiayai keluarga, terutama anak-anak sekolah. Kami hanya mengandalkan pekerjaan pecah batu,” keluh salah seorang pekerja.
Para buruh dan pemilik lahan berharap pemerintah dapat meninjau kondisi lapangan secara objektif, mengingat kegiatan tersebut dinilai sebagai upaya normalisasi lahan agar kembali produktif untuk pertanian.