
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Kebutuhan internet menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas mahasiswa. Selain menunjang kegiatan perkuliahan, kuota seluler juga digunakan untuk mencari informasi, mengakses media sosial, hingga menikmati berbagai konten digital.
Namun, pola penggunaan paket data setiap mahasiswa berbeda-beda. Hal tersebut terlihat dari pengalaman sejumlah mahasiswa UIN Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang memiliki kebiasaan berbeda dalam membeli dan menggunakan kuota internet.
Bagi sebagian besar mahasiswa, kuota internet merupakan kebutuhan utama yang mendukung efektivitas belajar sehari-hari. Mulai dari mengunggah tugas di portal akademik, mengakses jurnal ilmiah, hingga menyimak perkuliahan daring memerlukan koneksi yang stabil.
Di luar urusan akademis, akses internet seluler juga dimanfaatkan sebagai media hiburan dan interaksi sosial. Tingginya durasi penggunaan aplikasi berbasis video singkat membuat mahasiswa harus lebih pintar mengelola konsumsi paket data agar tidak cepat habis di tengah bulan.
Keutamaan penggunaan kuota seluler melahirkan berbagai strategi pembelian paket data yang disesuaikan dengan kondisi finansial serta ketersediaan fasilitas penunjang di sekitar mahasiswa.
Afna Indah Tazkia, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UIN Saizu, mengaku biasa menggunakan salah satu kartu provider dengan paket berdurasi satu bulan. Kuota tersebut dimanfaatkan untuk mencari informasi serta mengakses platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube Shorts.
Ketika paket datanya habis, Afna memilih langsung membeli paket baru daripada menambah biaya untuk memperpanjang masa aktif. Pilihan tersebut diambil karena dianggap lebih praktis.
Pendapat serupa disampaikan Ali, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Saizu. Ali mengandalkan paket Telkomsel sebesar 15 GB per bulan karena jaringannya dinilai mudah diakses di mana saja. Sama seperti Afna, Ali juga memilih membeli paket baru begitu kuotanya habis.
”Menurut saya biasanya bisa lebih hemat. Karena bisa menghemat uang jajan saya,” ujar Afna.
Berbeda dari Afna dan Ali, Syifa mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Saizu memilih paket internet Tri sebesar 7 GB seharga Rp13.000 dengan masa berlaku tiga hari. Ia jarang membeli kuota karena sudah ada fasilitas Wi-Fi di rumah maupun di area kampus.
”Kuota cuma buat cadangan saja,” kata Syifa.
Meski begitu, Syifa lebih memilih memperpanjang paket ketika kuota habis tetapi masa aktif masih ada. Langkah ini berbeda dari pola pembelian Afna dan Ali yang memilih paket baru.
Mengenai aturan masa aktif pelanggan, para mahasiswa memberikan respons positif terhadap kebijakan yang melindungi hak-hak konsumen. Afna dan Ali menilai aturan masa aktif yang proporsional dapat membantu mahasiswa menghemat uang saku. Semakin kecil biaya tambahan untuk mempertahankan masa aktif, semakin besar alokasi dana yang bisa dialihkan ke kebutuhan kuliah lainnya.
Syifa menambahi bahwa kebijakan yang mencegah sisa masa aktif hangus begitu saja sangat penting untuk menjaga hak pelanggan. Pengaturan masa aktif yang adil memberi kebebasan bagi mahasiswa yang menjadikan kuota seluler sekadar pilihan cadangan.
Aturan terkait masa aktif paket data tidak hanya berdampak pada finansial pengguna, tetapi juga mempengaruhi loyalitas konsumen. Syifa menilai sistem yang dianggap merugikan pengguna berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan terhadap operator seluler.
Jika pelanggan merasa tidak memperoleh manfaat layanan secara maksimal, operator berisiko kehilangan basis pengguna setia. Oleh sebab itu, regulasi telekomunikasi idealnya mampu menyeimbangkan antara kepentingan konsumen, khususnya kelompok mahasiswa dengan anggaran terbatas dan keberlangsungan bisnis penyedia jasa internet.
Secara keseluruhan, beragam tanggapan mahasiswa UIN Saizu ini menegaskan bahwa persoalan masa aktif paket data bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut efisiensi pengeluaran, kenyamanan akses informasi, serta tingkat kepercayaan terhadap penyedia layanan komunikasi.(Nur Kholifah)