
SERAYUNEWS – Limbah pelepah pisang yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, kini mulai menunjukkan potensi ekonominya. Melalui pelatihan pengolahan serat hingga vegan leather berbahan dasar pelepah pisang, puluhan perempuan dan penyandang disabilitas di Kabupaten Cilacap didorong menjadi pelaku usaha mandiri berbasis potensi lokal.
Sebanyak 50 peserta ambil bagian dalam pelatihan yang digelar di Gedung Sumekar (PKK) Cilacap, Rabu (6/5/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara BAZNAS Cilacap dan Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, dengan dukungan sejumlah pemangku kepentingan daerah.
Sejumlah pihak turut hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari perwakilan organisasi perangkat daerah hingga lembaga sosial dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong ekonomi inklusif di wilayah tersebut.
Wakil Ketua III BAZNAS Cilacap, Khakimatusodiqoh, menuturkan bahwa pelatihan ini bukan sekadar transfer keterampilan, tetapi juga bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dari tanaman pisang yang melimpah. Jika diolah dengan kreativitas, pelepah pisang bisa menjadi produk berkualitas tinggi yang memiliki nilai jual.
“Pelepah pisang bisa menjadi karya berkualitas jika disentuh kreativitas dan kemauan. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa dana zakat yang disalurkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Sugeng Paijo, menegaskan bahwa pelatihan ini juga membuka peluang pasar bagi para peserta. Ia menyebut, selama ini sekitar 90 persen pelepah pisang belum dimanfaatkan secara optimal dan belum masuk dalam rantai industri.
Di sisi lain, kelompok perempuan dan penyandang disabilitas masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan formal. Karena itu, pelatihan ini diharapkan menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi.
“Ini peluang besar. Produk ramah lingkungan terus tumbuh, bahkan mencapai sekitar 14 persen per tahun, tidak hanya di pasar nasional tetapi juga internasional,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Cilacap menyambut positif program ini. Plt Bupati Cilacap melalui Kepala DPKUKM, Oktriviyanto Subekti, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut selaras dengan upaya penguatan ekonomi berbasis kreativitas dan inovasi.
“Pelepah pisang yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Ini bukti bahwa inovasi mampu membuka peluang usaha dan meningkatkan kemandirian,” katanya.
Tak hanya pelatihan, para peserta juga mendapatkan bantuan peralatan produksi untuk menunjang usaha mereka ke depan. Bahkan, pihak yayasan berkomitmen membantu menyerap dan memasarkan hasil karya peserta agar bisa menembus pasar yang lebih luas.
Program ini menjadi bukti bahwa kelompok rentan tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi pelaku usaha yang produktif dan mandiri.