
SERAYUNEWS- Banyak Muslim di Indonesia bertanya ketiduran sampai Subuh dan lupa niat puasa Ramadan, sah atau tidak puasanya?
Fenomena ini bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi menyentuh rukun ibadah yang menentukan sah atau tidaknya puasa Ramadhan menurut syariat Islam. Apalagi di tengah aktivitas padat dan kebiasaan sahur yang kadang terlewat.
Dalam budaya Melayu Nusantara, diskursus fiqih semacam ini sering mengundang pro dan kontra karena berhubungan langsung dengan rukun Islam ke-4 yang wajib dilaksanakan setiap tahun oleh kaum muslim di seluruh dunia.
Banyak pula umat Islam yang bingung tentang perbedaan antara ketiduran, lupa berniat, dan hukum niat itu sendiri berdasarkan dalil syariat yang otentik.
Apakah saja pendapat ulama mengenai hal ini? Bagaimana pandangan Mazhab Syafi’i dan Hanafi? Apa ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang menjadi dasar hukum?
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Allah SWT secara tegas mewajibkan puasa di bulan Ramadan dalam kitab suci Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ…
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surat Al-Baqarah ayat 183)
Ayat ini menggarisbawahi kewajiban puasa Ramadan, namun syarat sah puasa juga perlu diperhatikan, yaitu adanya niat.
Niat merupakan bentuk expressi batin (niyyah) yang membedakan antara ibadah puasa dengan hanya menahan lapar dan dahaga. Dalam Islam, niat menjadi aspek penting yang menentukan diterimanya suatu ibadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ”
“Siapa yang belum berniat puasa sebelum waktu Subuh, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
Hadis di atas menunjukkan bahwa niat puasa harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar untuk setiap hari puasa Ramadhan. Inilah dasar mayoritas ulama mazhab Syafi’i yang menjadi pedoman fikih puasa di Indonesia.
Menurut Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ustadz Alhafiz Kurniawan, ketika seseorang benar-benar tertidur hingga waktu Subuh tanpa sempat berniat, tidak lantas langsung membatalkan puasanya jika ia ingat dan berniat di pagi hari ketika ia sadar belum berniat sebelum Maghrib malam itu.
Pendapat ini mendekati pandangan Imam Abu Hanifah (Mazhab Hanafi) yang memberi keringanan dalam situasi lupa atau ketiduran: puasa tetap bisa dilanjutkan dengan catatan niat di awal pagi hari ketika teringat.
Sementara mayoritas ulama Syafi’i tetap menganjurkan niat setiap malam, bahkan dianjurkan untuk melafalkannya sebagai penguat batin agar tidak mudah lupa.
Para ulama fikih tidak selalu seragam dalam masalah niat puasa:
– Mazhab Syafi’i mensyaratkan niat setiap malam sebelum fajar untuk puasa Ramadan sehingga ibadah dianggap sah.
– Mazhab Hanafi memberi keringanan buat yang lupa atau ketiduran untuk berniat di pagi hari ketika teringat.
– Mazhab Maliki bahkan membolehkan berniat puasa sebulan penuh di malam pertama Ramadan sebagai bentuk pencegahan lupa.
Dengan demikian, kaum muslim yang benar-benar lupa di malam hari tetap diberikan solusi hukum yang ringan agar tidak serta merta merasa ibadahnya sia-sia.
Niat (niyyah) dalam Islam adalah teksad batin seorang hamba untuk melakukan ibadah karena Allah. Niat tidak harus dilafalkan lisan, tetapi berada dalam hati sebagai penentu sahnya ibadah.
Berdasarkan kajian MUI, bacaan niat puasa proper dalam bahasa Arab adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Di tengah dinamika hidup yang cepat, ketiduran dan lupa niat bukanlah dosa besar yang otomatis menggugurkan ibadah bila seseorang segera berniat ketika teringat sebelum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Umat Islam dianjurkan untuk memahami hukum niat secara fiqih dan mempersiapkannya setiap malam sebagai antisipasi. Namun, jika benar-benar lupa, maka catatan ulama memberikan jalan keluar yang ringkas dan penuh belas kasih dari syariat.
Semoga Allah memberi kemudahan untuk menjalankan puasa Ramadan dengan niat yang benar dan diterima.