
SERAYUNEWS – Aktivitas mendaki gunung kini menjadi tren di kalangan keluarga muda. Namun, di balik keindahan pemandangan puncak, tersimpan risiko medis serius bagi anak berusia di bawah dua tahun.
Kondisi fisik yang belum sempurna membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan lingkungan ekstrem.
Fenomena ini kembali viral setelah video seorang balita diduga mengalami gangguan kesehatan saat pendakian di Gunung Ungaran, Jawa Tengah.
Kejadian tersebut memicu debat panas di media sosial mengenai etika dan keselamatan anak di alam bebas.
Banyak orang tua mengira risiko utama hanya kedinginan. Padahal, penurunan kadar oksigen di ketinggian adalah ancaman yang lebih senyap.
Kondisi ini dikenal sebagai Acute Mountain Sickness (AMS) atau penyakit ketinggian.
Pada orang dewasa, gejala AMS seperti pusing atau mual bisa langsung dikomunikasikan. Namun pada bayi, gejalanya sangat samar:
Bayi menjadi sangat rewel tanpa sebab.
Pola tidur terganggu (lesu atau justru tidak bisa tidur).
Penurunan nafsu makan atau menolak menyusu.
Muntah-muntah.
Secara fisiologis, luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dibandingkan berat badannya.
Hal ini menyebabkan tubuh bayi kehilangan panas 4 kali lebih cepat daripada orang dewasa.
Risiko hipotermia meningkat karena selama pendakian bayi biasanya hanya diam di dalam gendongan (carrier).
Tanpa aktivitas fisik yang menghasilkan panas, suhu tubuh bayi dapat merosot tajam meski orang tuanya merasa gerah karena sedang berjalan kaki.
Udara di pegunungan cenderung kering, yang mempercepat penguapan cairan tubuh melalui pernapasan. Selain itu, indeks UV di dataran tinggi jauh lebih kuat dibandingkan di dataran rendah.
Iritasi Kulit: Kulit bayi yang tipis sangat mudah terbakar sinar matahari (sunburn).
Dehidrasi: Bayi bisa kehilangan cairan tubuh secara drastis tanpa menunjukkan rasa haus yang jelas.
Satu hal yang sering terlupakan adalah Golden Hour atau waktu emas penanganan medis. Di gunung, akses menuju rumah sakit sangat terbatas.
Medan yang sulit dan jarak tempuh yang jauh membuat proses evakuasi membutuhkan waktu lama. Dalam kondisi kritis, keterlambatan penanganan beberapa menit saja bisa berakibat fatal bagi bayi.
Para ahli kesehatan anak menyarankan agar orang tua menunda keinginan membawa anak mendaki gunung hingga mereka memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan daya tahan tubuh yang lebih kuat (biasanya di atas usia 5-7 tahun, tergantung medan).
Sebagai alternatif, pilihlah kegiatan campervan atau glamping di area yang memiliki akses kendaraan langsung ke lokasi.
Keselamatan nyawa buah hati jauh lebih berharga daripada sekadar konten atau pemuasan hobi pribadi.