
BANYUMAS, SERAYUNEWS – CD dan kaset tersusun rapi di salah satu sudut Warung Rasan. Sampul rilisan musik berjejer berdampingan dengan merchandise band yang dipajang untuk dijual. Sebuah pemandangan tak biasa dari warung makan. Sebab, benda-benda yang biasanya dijumpai di toko musik, label rekaman, atau lapak kolektor itu hadir di sebuah warung rames.
Pengunjung bahkan dapat memilih rilisan yang tersedia untuk diputar, sembari menikmati nasi dan lauk yang tersaji di meja makan.
Warung Rasan berada di Jalan Karang Salam, Dusun III, Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Warung ini buka setiap hari pukul 11.00 hingga 23.00 WIB, kecuali Minggu.
Pada hari biasa, orang datang untuk makan, bertemu teman, atau sekadar berbincang. Namun, dua minggu sekali pada Jumat malam, suasananya berubah.
Warung menjadi tempat diskusi yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang dan ketertarikan yang beragam.
Kegiatan tersebut tidak dipungut biaya bagi mereka yang ingin membuat acara, meski kapasitas ruang dan peralatan yang tersedia tetap terbatas.
Sufi Ma’sum atau Burik (34), vokalis Kolektif AMPSKP, berada di balik berdirinya Warung Rasan.
Namun, warung itu tidak ia bangun sebagai bagian dari kelompok musiknya, melainkan sebagai usaha personal yang dijalankan bersama sejumlah orang.
Keputusan tersebut pada mulanya juga tidak didorong oleh gagasan besar tentang ruang kreatif.
Alasannya lebih sederhana dan dekat dengan kebutuhan sehari-hari, yakni memperoleh pendapatan untuk bertahan hidup.
“Karena… eh… pertama jelas, alasan untuk membuka warung sebagaimana orang membutuhkan… eh apa ya? Membutuhkan pendapatan untuk bisa bertahan,” ujar Burik saat serayunews.com pada Selasa (11/8/2026).
Burik memilih warung karena usaha tersebut dapat dijalankan dengan modal yang relatif terbatas. Ia tidak memiliki cukup modal untuk membuat usaha dengan skala lebih besar.
Warung memungkinkan terjadinya transaksi dan keuntungan, meskipun dalam skala yang tidak besar.
Dari kebutuhan yang praktis itulah Warung Rasan mulai beroperasi dan kemudian berkembang mengikuti orang-orang yang datang ke dalamnya.
“Sebatas itu sebetulnya, alasan mendasarnya gitu. Artinya… eh warung itu kan memungkinkan ada transaksi, dan transaksi itu memungkinkan untuk sangat sah untuk… eh mendapatkan keuntungan lebih gitu, meskipun dalam konteks warung tentu saja enggak besar,” jelasnya.
Namun, memulai usaha makanan ternyata tidak sesederhana memasak untuk diri sendiri. Burik dan orang-orang yang membantunya memang terbiasa memasak untuk diri sendiri atau orang-orang terdekat.
Ketika makanan tersebut dijual kepada banyak orang, mereka harus berhadapan dengan persoalan baru, mulai dari membaca selera pelanggan, mengatur produksi, hingga mengelola stok bahan makanan.
“Kita enggak memahami selera banyak orang, kita enggak memahami manajemen produksi, kita enggak memahami manajemen stok dan lain-lain. Semuanya itu kita mulai dari ya hampir nol lah,” ujarnya.
Kesalahan menjadi bagian dari proses awal tersebut. Burik menyebut ada banyak kegagalan kecil ketika Warung Rasan baru berjalan.
Dari pengalaman itu, pengelola belajar menjalankan usaha sekaligus memahami kebutuhan orang-orang yang datang.
Warung yang awalnya dibangun untuk memperoleh penghasilan kemudian menjadi tempat yang mempertemukan Burik dengan lebih banyak orang dari berbagai latar belakang.
Sebelum mengelola warung, Burik telah lama berada dalam lingkungan seni. Kolektif AMPSKP mulai berjalan sejak 2011, tetapi kelompok tersebut tidak langsung terbentuk sebagai band.
Para anggotanya berangkat dari komunitas teater di kampus masing-masing dan sering bertemu dalam berbagai kegiatan.
Pertemuan yang semakin sering kemudian membuka kesempatan bagi mereka untuk tampil bersama dalam berbagai bentuk pertunjukan.
“Jadi kami itu berangkat dari komunitas teater di kampus masing-masing yang sering ketemu di kegiatan teater. Dan kemudian di 2011 itu kan… eh ya sampai sekarang gitu ya, kan di di komunitas teater itu kan sering bikin kegiatan kayak panggung-panggung apresiasi gitu kan,” jelasnya.
Ketika itu, musik hanyalah salah satu bentuk ekspresi. Mereka tidak selalu tampil sebagai kelompok musik, tetapi juga mengisi pertunjukan teatrikal, musikalisasi puisi, permainan perkusi, hingga performing art.
Dari pertemuan dan aktivitas tersebut, perjalanan bermusik kemudian berkembang dan bertahan hingga sekarang.
“Yang waktu itu yang ditampilkan enggak selalu musik gitu. Kadang-kadang teatrikal, musikalisasi puisi, atau sekadar main perkusi, atau sekadar… eh ya, performing art gitu lah,” jelasnya.
Kolektif AMPSKP kini mengusung format duo vokal melalui Sufi Ma’sum atau Burik dan Novi Citra Indriyati, yang dikenal sebagai Novi Citra atau Cleret. Novi Citra juga dikenal sebagai vokalis grup musik Sukatani.
Meski memiliki latar belakang musik tersebut, Burik menegaskan Warung Rasan tidak dibangun sebagai perpanjangan dari Kolektif AMPSKP.
“Maksudku… dalam kapasitas bermusik kelihatannya agak sulit ya untuk mengemban label musisi. Tapi, cuma kebetulan punya band aja,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa warung tersebut tidak membawa seluruh kultur kolektif ke dalam pengelolaannya. Warung dibangun secara personal bersama beberapa orang yang terlibat di dalamnya.
Namun, jejaring yang terbentuk selama bertahun-tahun di lingkungan kreatif pada akhirnya ikut terbawa secara alamiah ketika orang-orang tersebut datang dan berinteraksi di Warung Rasan.
“Maksudnya membuka warung itu ya… karena kan aku enggak membuka warung ini sebagai kolektif AMPSKP ya. Tidak sebagai itu. Artinya… eh ya secara personal dan beberapa orang yang terlibat juga ya atas dasar personal gitu,” jelas Burik.
Bagi Burik, percakapan di warung bukan sesuatu yang istimewa. Hampir setiap warung memiliki fungsi sosial sebagai tempat orang bertemu dan membicarakan berbagai persoalan.
Percakapan dapat berangkat dari hal remeh hingga persoalan yang lebih serius, termasuk politik.
Pola semacam itu juga berlangsung di Warung Rasan, hanya saja orang-orang yang sering datang membuat percakapan di sana banyak bersinggungan dengan dunia kreatif.
“Sebenarnya, di mana-mana warung itu selalu terjadi diskusi sebetulnya. Di warung mana pun. Artinya ada sesuatu yang dibahas di situ. Dari hal yang remeh atau hal-hal yang sifatnya… eh politis dan lain-lain gitu.”
Kehadiran orang-orang yang bekerja di bidang kreatif kemudian membuat pembicaraan di Warung Rasan banyak berkisar pada proses kreatif.
Namun, percakapan sehari-hari tersebut menurut Burik sering kali hanya membahas persoalan di permukaan.
Karena itu, pengelola kemudian membuat sesi diskusi khusus dengan menghadirkan orang yang memiliki pengetahuan lebih mendalam mengenai topik tertentu.
“Dan kemudian… eh kami merasa akan lebih menarik ketika kita membuat satu sesi eh diskusi khusus yang menghadirkan paling tidak satu orang yang punya pengetahuan lebih dalam bidang diskusinya gitu.”
Diskusi tersebut dijadwalkan setiap dua minggu sekali pada Jumat malam. Kegiatan itu menjadi salah satu aktivitas yang membedakan Warung Rasan dari fungsi warung pada umumnya.
Namun, kegiatan tetap berjalan dalam kapasitas yang sederhana karena warung tersebut pada dasarnya merupakan tempat makan dengan ruang dan fasilitas terbatas.
Warung Rasan digerakkan oleh tiga orang yang memiliki pembagian tugas masing-masing.
Ada yang menangani maintenance, ada yang mengurus konsep kegiatan, sementara yang lain berfokus pada menu dan kualitas sajian.
Untuk kegiatan tertentu, beberapa orang lain ikut membantu, seperti menangani dokumentasi, equipment, dan publikasi. Kegiatan yang berlangsung di sana juga tidak selalu berasal dari gagasan pengelola.
Orang-orang yang datang terkadang justru menawarkan kegiatan mereka sendiri. Ada yang ingin melakukan perform, memperbaiki alat musik, atau berbagi pengetahuan.
Interaksi tersebut kemudian melahirkan rencana untuk menghadirkan workshop pada waktu mendatang. Bagi Burik, proses tersebut terbentuk secara organik dari jaringan orang-orang yang selama ini berinteraksi di warung.
“Eh kayak contoh… eh ketika ada teman eh berkunjung ke sini, eh kemudian eh mereka menawarkan diri untuk… ‘Boleh enggak aku membuat sesuatu di sini?’ gitu. Misalnya perform, misalnya sekadar memperbaiki eh alat musiknya misal, gitu,” jelasnya.
Ruang yang digunakan untuk kegiatan tersebut tidak dipungut biaya. Namun, Warung Rasan tidak memiliki kapasitas seperti ruang pertunjukan atau gedung kesenian.
Luas tempat terbatas, jumlah pengunjung harus disesuaikan, dan peralatan yang tersedia juga belum memadai. Karena itu, setiap kegiatan harus disesuaikan dengan kondisi warung dan lingkungan sekitarnya.
“Ya bebas, bebas saja. Cuma ya kita tidak punya… ya untuk warung sekecil ini kita enggak menawarkan eh space yang luas juga pasti ya, enggak enggak bisa ya. Terus kemudian secara equipment, eh kita juga enggak punya equipment yang bisa dibilang memadai ya dari sisi equipment.”
Keberadaan Warung Rasan sebagai ruang kegiatan kemudian tidak terlepas dari persoalan akses terhadap ruang publik bagi komunitas kreatif.
Burik menyebut sejumlah ruang publik yang disediakan pemerintah, seperti Soetedja dan Hetero Space.
Namun, menurut cerita dari teman-temannya, keberadaan ruang tersebut belum selalu membuat kegiatan kreatif mudah dilakukan. Persoalan biaya, administrasi, hingga perizinan menjadi beberapa hal yang harus dihadapi.
“Berbarengan dengan space yang disediakan, eh sering kali teman-teman juga bercerita bahwa mereka memiliki banyak kesulitan untuk mengakses, gitu. Dari sisi biaya misalnya, gitu. Dari sisi eh… eh apa ya? Urusan-urusan yang sifatnya administratif yang cenderung repot, gitu,” jelasnya.
Burik mencontohkan Gedung Kesenian yang menurutnya semestinya dapat menjadi tempat bagi seniman untuk beraktivitas. Namun, akses terhadap ruang tersebut masih menghadapi persoalan pembiayaan.
Selain itu, proses administratif dan perizinan juga membuat pelaku kreatif harus membagi waktu antara mengurus kegiatan dan mengerjakan proses kreatif mereka.
“Kayak contoh misalkan… eh Gedung Kesenian misalnya, Gedung Kesenian itu kan eh sebetulnya seharusnya itu adalah rumah bagi para seniman kan, seharusnya begitu kan. Di mana teman-teman bisa beraktivitas dengan leluasa di situ. Tapi ya itu, untuk mengakses ke situ cukup sulit secara pembiayaan,” terangnya.
Warung Rasan kemudian menjadi salah satu alternatif ruang yang dapat digunakan tanpa biaya. Namun, kebebasan tersebut tetap dibatasi oleh kondisi tempat.
Kegiatan musik, misalnya, harus mempertimbangkan suara karena warung berada di lingkungan yang memiliki tetangga. Pengelola tidak ingin kegiatan yang berlangsung mengganggu warga sekitar.
“Eh… dan warung juga sangat terbatas untuk jumlah pengunjung. Dan kemudian eh… ya banyak kendala sebetulnya, termasuk eh suara, karena biasanya kan musik itu menghasilkan suara yang sering kali tidak kecil gitu,” terangnya.
Salah satu kegiatan yang pernah berlangsung adalah acara teman-teman Noise yang menghadirkan tamu dari Swiss.
Peralatan suara yang digunakan tidak terlalu besar untuk menyesuaikan kondisi sekitar.
Bagi Burik, keberadaan tetangga menjadi bagian dari pertimbangan ketika sebuah kegiatan digelar di warung tersebut.
Warung Rasan pada akhirnya berkembang melalui orang-orang yang datang dan berinteraksi di dalamnya.
Burik mengatakan dirinya tidak secara khusus membawa kultur Kolektif AMPSKP ke warung tersebut.
Namun, latar belakang dan jaringan yang telah terbentuk sebelumnya tetap memberi pengaruh secara alamiah terhadap siapa yang datang, apa yang dibicarakan, dan kegiatan apa yang kemudian muncul.
“Pada akhirnya, iya. Pada akhirnya, iya. Karena… eh sebenarnya karena secara secara alamiah itu terbangun gitu ya, maksudnya secara secara organik itu terbangun, eh banyak teman-teman nongkrong yang nongkrong di sini nih pada awal sampai sekarang didominasi oleh teman-teman yang berproses kreatif.”
Dari interaksi tersebut, Warung Rasan tidak hanya menjadi tempat orang membeli makanan.
Jejaring yang terbentuk ikut menghadirkan kegiatan, mulai dari diskusi hingga rencana workshop.
Orang yang datang dapat menjadi pengunjung, tetapi pada kesempatan lain dapat pula menjadi orang yang membawa kegiatan atau pengetahuan baru.
“Karena memang kecenderungan teman-teman yang nongkrong di sini nih memang teman-teman yang berproses kreatif gitu.”
Pengalaman bertemu dengan orang-orang baru menjadi salah satu hal yang paling diingat Burik selama mengelola warung.
Hampir setiap hari, kecuali Minggu, ada percakapan baru yang muncul. Informasi dan pengetahuan yang dibawa pengunjung menjadi bagian dari keseharian Warung Rasan.
“Eh pengalaman yang menarik adalah… apa ya? Ya bertemu dengan banyak orang-orang baru dengan materi-materi obrolan yang selalu baru gitu. Informasi yang selalu baru, pengetahuan yang selalu baru gitu,” katanya.
Sementara itu, ketika ditanya tentang menu andalan, Burik justru tertawa. Ia tidak menyebut satu jenis makanan sebagai daya tarik utama Warung Rasan.
“Menu andalan di sini? Sebetulnya hampir tidak ada yang istimewa dari menu makanan atau minuman di Warung Rasan. Yang menjadi istimewa adalah kedatangan teman-teman yang kemudian berbagi aja di sini,” pungkas Burik lalu tertawa.