
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Ribuan mahasiswa baru Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mengikuti rangkaian Soedirman Students Summit (S3) 2026 pada Senin (10/8/2026).
Salah satu agenda yang menarik perhatian mahasiswa adalah sesi tanya jawab bersama aktris sekaligus figur publik Cinta Laura Kiehl.
Dalam sesi tersebut, ia tidak hanya berbicara mengenai pencapaian dan keberhasilan. Ia justru banyak membagikan pandangan tentang bagaimana mahasiswa menghadapi kegagalan. Selain itu juga bagaimana membangun pertemanan, mengejar pendidikan, hingga berani bermimpi meski memiliki keterbatasan ekonomi.
Salah seorang mahasiswa baru bernama Disa dari Fakultas Hukum (FH) 2026, bertanya bagaimana cara membangun pertemanan yang tepat. Terutama ketika harus keluar dari zona nyaman sebagai mahasiswa baru.
Menanggapi hal itu, Cinta Laura mengatakan bahwa mahasiswa sebaiknya tidak hanya mencari teman untuk bersenang-senang atau mengerjakan tugas bersama.
Menurutnya, pertemanan yang baik adalah hubungan yang dapat mendorong seseorang untuk terus berkembang.
“Teman yang baik adalah teman yang ingin berkembang bersama kita, mengingatkan ketika kita salah. Kemudian memberikan kritik yang konstruktif, dan membantu kita menjadi lebih baik,” ujar Cinta Laura dalam sesi Q&A.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menghakimi orang lain, terutama ketika bertemu dengan teman yang memiliki latar belakang dan sudut pandang berbeda.
Menurut Cinta Laura perbedaan justru menjadi kesempatan untuk belajar memahami perspektif orang lain.
Pertanyaan lain datang dari Febriansyah, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) 2026.
Ia bertanya mengenai cara mencapai cita-cita bagi mahasiswa yang merasa tidak memiliki privilege, terutama dari sisi ekonomi dan sosial.
Cinta Laura menegaskan bahwa kondisi ekonomi dan sosial seseorang tidak selalu menentukan masa depannya.
Ia menceritakan pengalamannya melihat anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan yang tetap mampu meraih pendidikan dan profesi yang baik.
Menurut Cinta Laura, pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memperluas wawasan sekaligus membangun kepercayaan diri.
Ia mendorong mahasiswa untuk tidak meninggalkan pendidikan, termasuk berupaya menyelesaikan pendidikan minimal hingga jenjang sarjana apabila kondisi memungkinkan.
“Dengan bertambahnya wawasan, kita juga memiliki kebebasan berpikir. Dari situlah datang kepercayaan diri,” jelasnya.
Sementara itu, Davi dari Fakultas Hukum 2026 mengungkapkan keinginannya untuk menjadi “star” atau seseorang yang menonjol. Namun, keinginan tersebut justru membuatnya merasa tertekan ketika mengalami kegagalan.
Cinta Laura mengatakan bahwa keberanian mencoba hal baru, berpikir kritis, serta memiliki inisiatif merupakan beberapa hal yang dapat membuat seseorang menonjol.
Namun, ia mengingatkan bahwa menjadi “bintang” tidak selalu berarti mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Menurutnya, mahasiswa perlu belajar menerima bahwa perjalanan setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Kegagalan tidak selalu berarti seseorang tertinggal, melainkan bagian dari proses untuk berkembang.
“Fokus pada jalurmu sendiri,” pesan Cinta Laura kepada mahasiswa tersebut.
Antusiasme mahasiswa baru semakin terlihat ketika Hervi Susano dari Fakultas Hukum 2026 bertanya, mengenai peluang melanjutkan studi ke Jerman atau Belanda. Meski pun dia merasa memiliki kemampuan akademik dan kondisi ekonomi yang terbatas.
Cinta Laura meminta Hervi untuk berhenti memberi label negatif kepada dirinya sendiri. Menurutnya, menyadari kekurangan merupakan hal yang baik, tetapi kekurangan tersebut tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengerdilkan diri.
Untuk mempersiapkan studi ke luar negeri, Cinta Laura menyarankan mahasiswa mulai mencari informasi beasiswa. Selain itu fokus mempelajari bahasa, memahami sistem pendidikan negara tujuan, serta mengetahui bidang studi yang ingin ditekuni.
Selain persiapan akademik, ia menekankan pentingnya keberanian untuk berada di lingkungan baru.
“Di kota besar atau di tempat asing, di depan pejabat atau siapa pun, kita harus berdiri tegak dan menyadari bahwa kita layak berada di situ,” tuturnya.
Pertanyaan terakhir berkaitan dengan pentingnya relasi bagi mahasiswa. Hafiz dan Dimas menanyakan apakah membangun relasi tetap penting bagi mahasiswa yang masih bingung ingin lebih memilih fokus pada organisasi atau pekerjaan.
Cinta Laura menjelaskan bahwa relasi dapat dibangun melalui hal-hal sederhana, salah satunya dengan mengikuti organisasi di kampus.
Dari sana, mahasiswa dapat bertemu banyak orang dengan latar belakang, visi, dan nilai yang berbeda.
Namun, ia mengingatkan agar mahasiswa tidak memaksakan hubungan dengan orang yang tidak memiliki kesamaan nilai.
“Be open to people, tetapi harus sungguh-sungguh dan jangan fake,” pesannya.
Melalui sesi Q&A dalam kegiatan Soedirman Student Summit (S3 2026), Cinta Laura tidak hanya menjawab pertanyaan mahasiswa baru. Tetapi juga mengajak mereka melihat kehidupan perkuliahan sebagai ruang untuk bereksplorasi, bertemu banyak orang, menghadapi kegagalan, dan mengenali potensi diri.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi ribuan mahasiswa baru yang tengah memulai perjalanan akademiknya.
Bagi Cinta Laura, menjadi “bintang” bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang terlihat oleh orang lain, tetapi tentang keberanian untuk terus berkembang dan berjalan di jalurnya sendiri. (Shafira Nur Anindya)