
SERAYUNEWS — Keputusan Manchester United memperpanjang kontrak Kobbie Mainoo hingga 2031 langsung memicu perdebatan. Bukan durasinya, melainkan lonjakan gaji dari 25 ribu menjadi 150 ribu poundsterling per pekan—setara sekitar Rp3 miliar.
Kenaikan drastis ini menimbulkan satu pertanyaan besar: apakah Mainoo sudah pantas menerima bayaran sebesar itu?
Mainoo sempat berada di ambang keluar dari Old Trafford pada masa Rúben Amorim. Minimnya menit bermain membuat masa depannya diragukan.
Situasi berubah setelah Amorim hengkang awal 2026. Darren Fletcher memberi kesempatan awal, sebelum akhirnya Michael Carrick datang dan mengoptimalkan perannya.
Di bawah Carrick, Mainoo langsung menunjukkan kualitas. Saat menghadapi Manchester City, ia tampil penuh 90 menit dengan akurasi operan 91 persen dan kontribusi defensif solid.
Dalam 13 pertandingan berikutnya, ia konsisten mencatat akurasi operan di atas 90 persen—indikasi kontrol permainan dan pengambilan keputusan yang matang untuk pemain seusianya.
Dalam skema 4-2-3-1, Mainoo berkembang sebagai gelandang box-to-box berduet dengan Casemiro.
Perannya tidak sekadar pelengkap. Ia aktif dalam transisi, disiplin bertahan, dan mulai menunjukkan kedewasaan taktis—bahkan terlihat mengadopsi etos kerja Casemiro di lapangan.
Secara performa dan potensi, angka 150 ribu pound per pekan memang bisa dibenarkan sebagai investasi jangka panjang. Manchester United jelas tidak ingin kehilangan talenta muda saat nilainya melonjak.
Namun, risikonya juga nyata: gaji tinggi berarti ekspektasi tinggi. Konsistensi akan menjadi ujian utama bagi Mainoo.
Langkah ini mencerminkan strategi klub: mengunci aset sejak dini. Dalam konteks industri sepak bola modern, keputusan seperti ini lebih dekat ke investasi daripada sekadar penggajian.
Kini, sorotan akan terus mengarah ke Mainoo. Dengan bayaran premium, ia dituntut bukan hanya berkembang—tetapi menjadi pembeda.