
SERAYUNEWS–Hantavirus, virus mematikan yang menular melalui hewan pengerat tikus ternyata sudah ada di Indonesia sejak tahun 1980 an.
Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6%. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.
Dikutip dari www.badankebijakan.kemkes.go.id dalam Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?, disebutkan dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
Hantavirus tidak menyebar dari manusia ke manusia seperti influenza. Ia tidak menimbulkan wabah besar yang langsung mencuri perhatian media. Tetapi justru karena itu, hantavirus menjadi lebih berbahaya, silent threat yang bergerak perlahan di balik bayangan lingkungan kita sendiri. Dan yang lebih mengkhawatirkan: Indonesia bukanlah wilayah bebas hantavirus.
Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.
Ada tiga alasan utama mengapa hantavirus perlu menjadi perhatian serius dalam kebijakan kesehatan nasional. Kesatu, underdiagnosed dan underrated. Banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain. Kedua, reservoir melimpah. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. Ketiga, Potensi Fatal Tinggi. CFR dapat mencapai puluhan persen pada kasus berat.
Dengan kombinasi ini, hantavirus bukan sekadar penyakit langka, melainkan ancaman laten yang sistematis. Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tidak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin (yang hingga kini belum ada yang disetujui secara luas).
Pengendalian hantavirus sangat bergantung pada pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi Masyarakat, surveilans berbasis Risiko. Dalam pedoman Kemenkes, pendekatan yang dianjurkan mencakup pengendalian reservoir secara terpadu, perbaikan sanitasi lingkungan dan komunikasi risiko kepada Masyarakat. Ini menunjukkan bahwa hantavirus adalah contoh nyata pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.