
SERAYUNEWS- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi.
Sejak pembukaan sesi pagi, IHSG sempat bergerak di zona hijau sebelum kembali terkoreksi akibat aksi ambil untung investor di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Tekanan dari pasar global serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi dan kebijakan moneter menjadi faktor utama yang memengaruhi arah IHSG hari ini.
Meski demikian, minat beli selektif pada sektor tertentu dinilai mampu menahan pelemahan lebih dalam.
Di tengah dinamika pasar yang cepat berubah, investor ritel dan institusi cenderung menerapkan strategi wait and see sambil mencermati peluang di saham-saham defensif dan berfundamental kuat.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasan selengkapnya mengenai IHSG hari ini Rabu, 28 Januari 2026.
IHSG Rabu ini dibuka dengan kecenderungan menguat tipis, mengikuti sentimen positif dari sebagian bursa saham Asia.
Namun, seiring berjalannya waktu, tekanan jual mulai muncul terutama pada saham sektor perbankan dan komoditas yang sebelumnya mencatatkan reli.
Fluktuasi indeks mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati terhadap arah ekonomi global. Pelaku pasar menimbang berbagai faktor eksternal, mulai dari kebijakan bank sentral global hingga pergerakan nilai tukar yang berpotensi memengaruhi arus modal asing.
Pasar saham domestik tidak terlepas dari pengaruh global. Pergerakan bursa Amerika Serikat dan Asia menjadi acuan utama investor dalam menentukan strategi transaksi.
Ketidakpastian arah suku bunga global dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia membuat investor cenderung mengurangi risiko. Kondisi ini tercermin dari meningkatnya volatilitas IHSG dan pergerakan saham yang lebih selektif.
Peran Investor Asing terhadap Arah IHSG
Aktivitas investor asing menjadi salah satu faktor penentu arah IHSG hari ini. Aliran dana asing tercatat bergerak dinamis, dengan aksi beli dan jual yang terjadi hampir seimbang di sejumlah saham unggulan.
Ketika investor asing cenderung net sell, IHSG menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, masuknya dana asing ke saham-saham tertentu mampu menjadi penopang indeks di tengah pelemahan sektor lain.
Meski pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, beberapa sektor masih menunjukkan ketahanan. Saham-saham sektor konsumer, kesehatan, dan telekomunikasi menjadi incaran investor karena dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.
Minat terhadap saham berfundamental kuat menunjukkan bahwa investor mulai mengalihkan strategi dari spekulatif ke defensif, dengan fokus pada emiten yang memiliki kinerja keuangan solid dan prospek jangka panjang.
Di sisi lain, sektor berbasis komoditas dan perbankan mengalami tekanan akibat aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya. Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor ini cenderung bergerak melemah, sehingga membatasi ruang penguatan IHSG.
Tekanan tersebut dinilai wajar mengingat pasar sedang berada dalam fase konsolidasi setelah periode volatilitas tinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Analis pasar menilai kondisi IHSG saat ini menuntut strategi yang lebih disiplin. Investor disarankan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan dan tetap mengutamakan manajemen risiko.
Pendekatan bertahap dengan memilih saham berfundamental kuat dinilai lebih aman dibandingkan mengejar keuntungan jangka pendek di tengah pasar yang bergejolak.
Ke depan, arah IHSG masih akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Rilis data ekonomi, kebijakan pemerintah, serta perkembangan pasar internasional menjadi faktor kunci yang akan menentukan pergerakan indeks.
Meski volatilitas masih berpotensi berlanjut, peluang rebound tetap terbuka apabila sentimen positif kembali menguat dan arus dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia.
Perdagangan IHSG Rabu, 28 Januari 2026, mencerminkan pasar yang masih mencari arah di tengah ketidakpastian global. Fluktuasi yang terjadi menjadi pengingat pentingnya strategi investasi yang matang dan berbasis fundamental.
Investor diharapkan tetap rasional dan tidak terjebak euforia maupun kepanikan berlebihan, karena peluang di pasar saham tetap tersedia bagi mereka yang mampu membaca momentum dengan tepat.