
SERAYUNEWS- Pergerakan pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah seiring meningkatnya sentimen global, terutama kebijakan tarif dagang yang kembali digaungkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Tekanan eksternal dinilai menjadi faktor dominan yang memengaruhi psikologi investor domestik. Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.
Analis pasar melihat potensi aksi ambil untung dan sikap wait and see di kalangan pelaku pasar. Volatilitas diprediksi meningkat, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap ekspor dan perdagangan internasional.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya mengenai IHSG yang diproyeksikan melemah seiring meningkatnya sentimen global, terutama kebijakan tarif dagang yang digaungkan Donald Trump:
IHSG diproyeksikan kembali terkoreksi akibat sentimen eksternal. Kebijakan tarif impor yang diusulkan Trump dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memperlambat arus perdagangan.
Pasar saham Indonesia yang tergabung dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung sensitif terhadap gejolak global, terutama dari Amerika Serikat sebagai mitra dagang utama.
Kebijakan tarif tinggi yang sempat diterapkan Trump pada periode sebelumnya terbukti memicu ketegangan dagang global. Jika kebijakan serupa kembali diterapkan, risiko perlambatan ekonomi dunia bisa meningkat.
Investor global biasanya merespons kebijakan proteksionisme dengan memindahkan aset ke instrumen yang lebih aman. Aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang menjadi salah satu risiko yang diwaspadai.
Beberapa sektor dinilai lebih rentan terhadap sentimen perang dagang:
1. Sektor komoditas — karena bergantung pada permintaan ekspor global.
2. Sektor manufaktur — terdampak kenaikan biaya bahan baku impor.
3. Sektor perbankan — berisiko terdampak jika terjadi perlambatan ekonomi domestik.
4. Sektor teknologi — sensitif terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional.
Analis menyarankan investor memperhatikan level support dan resistance jangka pendek sebagai strategi mitigasi risiko.
Meski tekanan global meningkat, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif stabil. Inflasi yang terkendali dan kebijakan moneter adaptif menjadi bantalan bagi pasar saham domestik.
Otoritas keuangan dan regulator di BEI terus memantau dinamika global. Langkah stabilisasi pasar bisa dilakukan jika volatilitas meningkat tajam.
Dalam kondisi pasar bergejolak, investor disarankan:
1. Diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko konsentrasi.
2. Fokus pada saham berfundamental kuat, terutama yang memiliki pasar domestik solid.
3. Memanfaatkan momentum koreksi, bagi investor jangka panjang.
4. Menghindari panic selling, keputusan emosional berisiko memperbesar kerugian.
Strategi defensif dinilai lebih relevan hingga kepastian arah kebijakan global semakin jelas.
IHSG hari ini diproyeksikan melemah seiring meningkatnya kekhawatiran atas potensi kebijakan tarif Trump. Sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pergerakan indeks.
Meski demikian, stabilitas fundamental domestik dapat menjadi penopang agar tekanan tidak berlarut-larut. Investor diimbau tetap rasional dan mempertimbangkan strategi jangka panjang di tengah dinamika global.