
SERAYUNEWS- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin, 9 Februari 2026 menunjukkan pergerakan yang lebih volatil dan cenderung melemah, meskipun beberapa analis menyebut potensi penguatan terbatas masih ada.
Tren pasar yang tertahan oleh sentimen global serta tekanan aksi jual membuat pelaku pasar berhati-hati membuka posisi baru di awal pekan ini.
Pergerakan teknikal menunjukkan IHSG dalam tekanan tekanan di sekitar level 7.700–7.850, sementara level resistance masih berada di kisaran 8.000–8.050.
Sentimen makro global dari kebijakan The Fed dan sentimen domestik, termasuk proyeksi ekonomi serta rating kredit, masih memengaruhi arah pasar secara keseluruhan. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Dalam perdagangan pekan lalu, IHSG secara mingguan tercatat melemah tajam, seiring net sell investor asing dan mayoritas sektor saham di zona merah yang mendorong indeks tidak mampu bertahan di level tinggi.
Data grafik menunjukkan indeks tutup di bawah titik psikologis penting sebelum masuk ke perdagangan hari ini.
Faktor pendorong pelemahan termasuk keputusan lembaga pemeringkat internasional yang menurunkan outlook kredit Indonesia, sehingga membuat indeks besar Asia turun dan investor waspada memasuki perdagangan Senin.
Pergerakan IHSG pagi ini menunjukan zona campuran dengan tekanan jual lebih dominan.
Analis pasar menyebut bahwa walaupun ada potensi penguatan karena aliran dana asing yang kembali masuk di beberapa saham blue-chip, tekanan teknikal masih memberi batas kuat pada penguatan indeks.
Sementara proyeksi beberapa sekuritas menyebut bahwa IHSG masih diramal bergerak melemah terbatas dalam range support di kisaran 7.716–7.850, dengan kemungkinan koreksi lanjutan tergantung rilis data ekonomi global.
Faktor eksternal seperti kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat juga membuat pelaku pasar cermat, karena keputusan suku bunga akan memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Walaupun IHSG cenderung sideways hingga koreksi, sejumlah saham tetap menunjukkan sinyal teknikal yang menarik dan layak dicermati oleh investor, baik jangka pendek maupun menengah.
Berikut hasil rekomendasi yang dirangkum dari riset pasar teranyar:
1. JPFA (PT Jafpa Comfeed Tbk) – Buy on Weakness di area 2460–2500 dengan target 2540–2600.
2. HRTA (PT Hartadinata Abadi Tbk) – Spec Buy di area 2200–2260.
3. BUMI (PT Bumi Resources Tbk) – Buy on Weakness di area 216–222.
4. ANTM (PT Aneka Tambang Tbk) – Buy on Weakness di area 3620–3680.
5. ARCI (PT Archi Indonesia Tbk) – Buy if Break 1615.
6. AGII (PT Samator Indo Gas Tbk) – Spec Buy di area 2120–2170.
Kombinasi saham di atas dipilih berdasarkan analisis teknikal pasar pada Senin pagi ini dan diproyeksikan memberi peluang keuntungan dalam scenario pasar yang masih belum stabil.
Tekanan dari luar negeri juga memengaruhi pasar Indonesia. Keputusan lembaga pemeringkat internasional memotong outlook kredit Indonesia berimbas pada sentimen risk-off di pasar modal, memicu aksi jual di saham bank dan beberapa saham mayor.
Respons dari pelaku market terhadap kabar tersebut cenderung berhati-hati sehingga IHSG masih tertahan untuk breakout dalam jangka pendek. Hal ini membuat investor harus memperhatikan level teknikal penting sebelum membuka posisi baru.
IHSG masih berpotensi terkoreksi bila gagal tembus level resistance kunci.
Secara keseluruhan, IHSG pada Senin, 9 Februari 2026 menunjukkan tren yang masih berfluktuasi dengan cenderung melemah secara teknikal, meskipun ada peluang penguatan terbatas.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dalam membuka posisi baru dan fokus pada saham pilihan yang menunjukkan sinyal breakout atau buy on weakness yang potensial.
Tetap pantau faktor eksternal dan dinamika pasar global karena dapat mengubah arah pasar dalam hitungan jam perdagangan.