
SERAYUNEWS- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan ketahanan yang solid pada perdagangan Kamis, meski mayoritas bursa saham kawasan Asia hingga global bergerak melemah.
Di tengah sentimen eksternal yang kurang kondusif, pasar saham domestik justru mampu mencatatkan penguatan tipis, mencerminkan optimisme investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
IHSG dibuka di zona hijau dengan kenaikan 1,89 poin atau 0,02 persen ke level 8.946,70. Pergerakan ini terjadi saat indeks saham global dibayangi kekhawatiran terhadap kebijakan ekonomi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik di kawasan Asia Timur.
Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham berkapitalisasi besar justru terkoreksi 0,11 persen ke posisi 870,40, mengindikasikan adanya aksi selektif investor dalam memilih saham berfundamental kuat.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan selama mampu bertahan di atas level support krusial 8.900.
“Selama IHSG bertahan di area support 8.900, peluang penguatan masih terbuka dengan target resistance di kisaran 8.970 hingga 9.000,” ujar Fanny dalam riset pasar terbarunya.
Secara teknikal, pergerakan IHSG menunjukkan pola konsolidasi sehat, dengan volume transaksi yang tetap aktif dan minat beli investor asing yang belum sepenuhnya surut.
Dari sisi global, pasar saham dibebani oleh sejumlah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu volatilitas.
Salah satunya adalah rencana Venezuela untuk mengirimkan hingga 50 juta barel minyak ke AS, yang menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan minyak dunia dan tekanan harga komoditas energi.
Selain itu, kebijakan Trump yang melarang perusahaan pertahanan membagikan dividen serta melakukan aksi buyback sebelum menyelesaikan persoalan internal industri, turut menekan saham-saham sektor pertahanan dan private equity global.
Trump juga mengumumkan rencana pembatasan pembelian rumah tinggal (single-family homes) oleh investor institusional besar. Kebijakan ini berdampak langsung pada saham perusahaan pengelola aset besar seperti Blackstone dan Apollo Global Management.
Dari kawasan Asia, ketegangan geopolitik antara Jepang dan China kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Situasi ini membuat sebagian investor global memilih bersikap wait and see, sehingga menekan pergerakan indeks utama di Asia seperti Nikkei dan Hang Seng.
Meski demikian, pasar saham Indonesia relatif lebih resilien berkat dukungan sentimen domestik serta arus dana asing yang masih masuk ke saham-saham tertentu.
Pada perdagangan Rabu (7/1/2026), IHSG ditutup menguat 0,13 persen ke level 8.944,80. Penguatan tersebut didukung oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing senilai sekitar Rp230 miliar.
Saham-saham yang paling banyak dikoleksi investor asing antara lain ANTM, BBRI, INCO, ASII, dan TINS. Minat terhadap saham sektor tambang dan perbankan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap stabilitas harga komoditas serta kinerja keuangan emiten besar di tengah ketidakpastian global.
BNI Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 8.900–8.930 dan resistance 8.970–9.000. Selama tidak menembus support utama, indeks diperkirakan tetap bergerak positif meski volatilitas global masih tinggi.
Namun, berbeda dengan pandangan tersebut, riset PT Samuel Sekuritas menilai tekanan dari pasar regional masih berpotensi menahan laju penguatan IHSG dalam jangka pendek.
BNI Sekuritas merekomendasikan beberapa saham dengan potensi trading jangka pendek, antara lain:
1. BMRI – Spec Buy area 4.800–4.810, target 4.850–4.870
2. RAJA – Spec Buy area 7.300–7.375, target 7.425–7.525
3. CBDK – Spec Buy area 7.500–7.575, target 7.675–7.775
4. KPIG – Spec Buy area 206–210, target 216–224
5. PGAS – Buy on Weakness area 1.930–1.935, target 1.965–2.000
6. OASA – Buy if Break 418, target 450–456
Investor disarankan tetap menerapkan manajemen risiko dan disiplin pada level cut loss untuk mengantisipasi pergerakan pasar yang masih fluktuatif.
Secara sektoral, mayoritas indeks IDX-IC bergerak menguat. Sektor industri mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,23 persen, disusul sektor barang konsumsi nonprimer yang naik 1,62 persen dan sektor bahan baku yang menguat 0,92 persen.
Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik terkoreksi paling dalam sebesar 1,03 persen, diikuti sektor barang konsumsi primer dan sektor teknologi.
Aktivitas transaksi di BEI terbilang aktif dengan total frekuensi perdagangan mencapai 4,57 juta kali. Volume transaksi tercatat sebanyak 70,56 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp36,87 triliun.
Sebanyak 344 saham menguat, 362 saham melemah, dan 104 saham bergerak stagnan, menandakan pasar masih berada dalam fase selektif.
Ketahanan IHSG di tengah pelemahan bursa global menunjukkan kuatnya sentimen domestik dan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Meski tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda, peluang penguatan IHSG masih terbuka selama level support krusial mampu dipertahankan.