Selasa, 28 September 2021

Kisah Pemuda Asal Kawunganten Cilacap Ciptakan Lapangan Kerja di Tengah Pandemi, Apa Usahanya?

Firman bersama warga setempat sedang membuat pot bunga dari sabut kelapa. (dok istimewa)

Tak disangka, meski dalam situasi sulit dimasa pandemi Covid-19, seorang pemuda asal Desa Karangbawang Kecamatan Kawunganten Cilacap mebuka peluang usaha dari limbah sabut kelapa bernilai jual tinggi. Usaha kerajinan limbah sabut kelapa ini juga menciptakan tenaga kerja dengan memberdayakan warga setempat.


Kawunganten, serayunews.com

Firman Yusuf, sesosok pemuda asal kawunganten ini memilih mengembangkan usaha beraneka macam kerajinan pot bunga berbahan limbah sabut kelapa. Ide kreatif itu muncul usai dirinya berhenti bekerja di salah satu perusahaan di wilayah Cikarang akibat terdampak pandemi dan melihat banyak limbah sabut kelapa di desanya yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Firman yang masih mengenyam pendidikan di President University ini, memanfaatkan limbah sabut kelapa dibuat menjadi beragam kerajinan bernilai seni tinggi seperti pot bunga. Dari peluang usahanya ini, justru ia menciptakan lapangan kerja bagi warga setempat.

Usaha pot bungan sabut kelapa ini dikembangkan sejak September 2020, Firman memberdayakan warga setempat berjumlah sekitar 63 orang, mulai dari kaum ibu rumah tangga dan para pemuda desa yang setiap hari mampu memproduksi hingga sekitar 500 pot sabut kelapa berbagai bentuk dan ukuran.

“Di kampung saya melihat banyak sekali limbah sabut kelapa, yang tidak digunakan atau dikelola, disitu saya membuatnya untuk pot sabut kelapa dan lainnya,” ujar Firman

Menurutnya, cara pembutan pot sabut kelapa ini cukup sederhana namun dibutuhkan keuletan dan kesabaran agar menciptakan hasil yang maksimal. Bahan yang digunakan untuk membuat pot ini, yakni dari kawat loket PVC dibentuk sesuai ukuran yanh diinginkan, kemudian bentuk lingkaran besar dan kecil serta lingkaran bagian alas, selanjutnya sisi antara kawat dimasukkan sabut kelapa hingga penuh.

Produk yang dihasilkan dari pot bunga sabut kelapa ini ada berbagai bentuk mulai dari lingkaran dan kotak dengan beragam ukuran. Harganya dijual mulai dari Rp 2500 – Rp 25 ribu, dipasarkan melaui online maupun offline, dengan omset jutaan rupiah perbulannya. Meskipun diterpa pandemi Covid-19, usaha pot bunga sabut kelapa ini masih tetap bertahan, meski omset menurun. Ia berharap produknya bisa diterima pasar lokal hingga internasional.

“Untuk PPKM penjulan kami turun 80% yang awalnya kita bisa menjual sehari 500 buah, sekarang hanya 100 bahkan puluhan picis saja,” ujarnya.

Editor :M Amron

Berita Terkait

Berita Terkini