
SERAYUNEWS- Indeks Harga Saham Gabungan langsung tertekan tajam pada awal perdagangan 2026 sehingga memicu kepanikan di pasar saham.
Setelah sempat bergerak di level tertinggi sepanjang sejarah, IHSG berbalik arah dan jatuh hingga sekitar dua persen dalam satu sesi.
Tekanan jual muncul seiring menguatnya sentimen global yang dipicu isu politik Amerika Serikat. Pernyataan dan manuver Presiden Donald Trump kembali menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan dunia.
Investor merespons dengan aksi risk-off dan melepas saham-saham berisiko. Kondisi tersebut membuat pelemahan menyebar luas ke hampir seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia.
Situasi ini menegaskan bahwa isu global masih menjadi faktor dominan pergerakan IHSG di awal 2026.
Pada sesi perdagangan Senin siang, IHSG sempat bertahan di zona hijau. Indeks bahkan mencatatkan level tertinggi baru di atas 9.000.
Namun tekanan mulai muncul setelah pasar global bergerak negatif. Investor asing terlihat mulai mengurangi eksposur risiko. Aliran dana berbalik arah menuju aset aman. Momentum positif IHSG pun terhenti secara mendadak.
Melansir berbagai sumber berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan utama pasar. Isu geopolitik kembali menguat setelah muncul wacana respons keras Amerika Serikat.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memicu lonjakan ketidakpastian global. Investor global langsung mengadopsi strategi risk-off. Pasar negara berkembang terkena imbas paling besar. Indonesia pun tidak luput dari tekanan sentimen tersebut.
Rencana pertemuan Trump dengan pejabat senior AS memperburuk persepsi risiko. Pasar menilai potensi eskalasi konflik sangat terbuka. Ketidakpastian ini memicu pelepasan aset berisiko secara agresif.
Saham menjadi instrumen pertama yang ditinggalkan investor. Dana global mengalir ke emas dan dolar Amerika Serikat. Sentimen negatif menyebar cepat ke bursa Asia.
Sebelum anjlok, IHSG sempat mencatatkan rekor all time high baru. Level psikologis 9.000 berhasil ditembus secara intraday. Optimisme pasar sempat menguat di awal pekan. Aksi beli terlihat dominan pada saham unggulan. Namun euforia tersebut tidak bertahan lama.
Secara intraday, IHSG sempat terkoreksi hingga ratusan poin. Penurunan terdalam membawa indeks ke level terendah harian. Volatilitas meningkat tajam dalam satu sesi perdagangan. Pelaku pasar ritel ikut panik dan melakukan aksi jual.
Sektor tambang menjadi salah satu yang paling terpukul dalam koreksi ini. Saham Bumi Resources sempat jatuh lebih dari sepuluh persen. Tekanan jual terjadi sejak awal sesi kedua.
Saham Darma Henwa juga bergerak di zona merah. Aksi jual besar tercatat pada saham berbasis komoditas. Investor memilih mengamankan keuntungan jangka pendek.
Data transaksi menunjukkan net sell besar pada saham-saham tambang. BUMI mencatatkan nilai jual bersih tertinggi di pasar. Saham energi dan mineral ikut mengalami tekanan serupa. Likuiditas besar keluar dalam waktu singkat.
Selain sentimen global, tekanan domestik turut membebani IHSG. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS. Rupiah bertahan di level terlemah sejak tahun lalu.
Pelemahan berlangsung selama beberapa sesi beruntun. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor asing. Risiko nilai tukar kembali menjadi sorotan utama pasar.
Investor global cenderung sensitif terhadap pergerakan mata uang. Pelemahan rupiah meningkatkan potensi capital outflow. Pasar saham pun menjadi sasaran penyesuaian portofolio.
Likuiditas asing mulai berkurang secara bertahap. Tekanan pada IHSG semakin terasa. Kombinasi sentimen global dan domestik memperparah koreksi.
Analis pasar mulai menyoroti level teknikal IHSG. Zona support krusial berada di kisaran 8.895 hingga 8.916. Jika level ini ditembus, tekanan lanjutan berpotensi terjadi.
Pasar memasuki fase konsolidasi penuh ketidakpastian. Investor jangka pendek disarankan lebih berhati-hati. Volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat.
Meski demikian, prospek jangka menengah belum sepenuhnya berubah. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih solid. Arus modal asing sebelumnya masih tercatat positif.
Fenomena January Effect sempat mendukung penguatan awal tahun. Koreksi kali ini dinilai sebagai penyesuaian sehat.
Koreksi tajam IHSG di awal 2026 menjadi pengingat penting bagi investor. Pasar saham sangat sensitif terhadap dinamika global. Faktor geopolitik dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Investor dituntut lebih adaptif dan disiplin. Strategi diversifikasi kembali relevan dalam kondisi volatil. Kehati-hatian menjadi sikap utama menghadapi pasar.
Meski IHSG mengalami tekanan, peluang jangka panjang tetap terbuka. Investor yang cermat dapat memanfaatkan koreksi sebagai momentum selektif.
Pemantauan sentimen global menjadi kunci pengambilan keputusan. Stabilitas rupiah dan arah kebijakan global akan sangat menentukan. Pasar saham Indonesia masih memiliki daya tarik struktural. Tahun 2026 pun baru saja dimulai.