Minggu, 28 November 2021

Prihatin! Tanaman Endemik di Hutan Gunung Slamet Ini Makin Langka

Sejumlah pemerduli tanaman di Kabupaten Banyumas sedang menanam tumbuhan Kantong Semar di hutan Gunung Slamet. (Shandi)

Tanaman endemik di hutan Gunung Slamet yakni kantong semar makin langka. Beberapa langkah dilakukan untuk menyelamatkan kantong semar.


Banyumas, serayunews.com

Sejumlah pemerduli tanaman di Kabupaten Banyumas mulai merilis tanaman endemik di hutan Gunung Slamet yakni kantong semar. Bukan hanya mengembalikannya ke alam. Mereka juga mulai membudidayakan dengan menambahkan jumlahnya, agar tanaman tersebut tidak punah di kemudian hari.

Green House di Bumi Adventure Forest (BAF) menjadi tempat penyelamatan sekaligus budidaya kantong semar yang berukuran kecil dan merupakan endemik Gunung Slamet. Mereka berhasil memperbanyak tanaman yang sebelumnya hanya puluhan sekarang menjadi ratusan pohon.

Menurut Pegiat Konservasi Tanaman Kantong Semar Endemik Gunung Slamet, Agus Triono atau yang akbrab di sapa Yono ini mengaku penyelamatan tanaman tersebut tak lepas dari peran mapala Mahupa dan lainnya. Awalnya mereka mencoba mengidentifikasi keberadaan tanaman tersebut hingga kemudian diselamatkan dan dibudidayakan.

“Ini kan kantong semar endemik Gunung Slamet. Teman-teman yang menyelamatkan, lalu diperbanyak, kemudian dibudidayakan hingga nanti dibawa ke alamnya. Kita bekerjasama dengan stakeholder dan pemerintah daerah untuk melestarikannya. Ingin lebih diperkenalkan lagi ke masyarakat, pegiat alam bebas kan banyak, termasuk para pemburu hewan dan tanaman, harus tahu betul membedakan, ini tidak bisa dikomersialkan, ini harus diselamatkan juga. Percuma juga kalau dijualbelikan, karena ada suhu tertentu di kota pun tidak bisa,” ujar dia, Rabu (20/10).

Dari pantauan teman-teman pecinta alam, tanaman tersebut memang sudah sangat minim di habitat aslinya. Bahkan ditemukannya pun sangatlah sulit.

“Kita terus lakukan tahapan penanaman kembali. Ini gerakan baru beberapa bulan. Sekitar enam bulan lalu. Mulai pengamatan kita lihat kita cari kita sudah sangat susah menemukannya di atas (Gunung, red), ” Katanya.

Sementara itu menurut Kepala Divisi Studi Lingkungan Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (SLP3M) Mahupa Unwiku, Rizky Nurjamali dari hasil penelitian pihaknya sejak tahun 2016 keberadaan tanaman tersebut memang sangat langka. Bahkan jumlahnya hanya sekitar 2.600 tanaman di alam liar.

“Tanaman ini sudah sangat langka, tanaman yang hanya ada di Gunung Slamet. Sehingga kita berharap ke depannya baik seluruh mapala pemerintah dan masyarakat. Mampu berduyun-duyun melestarikan,” katanya.

Hari ini menurut dia merupakan percobaan rilis ke alam liar. Dengan akan terus dipantau dalam beberapa bulan. Jika berhasil akan ada ratusan tanaman yang dilepaskan ke alamnya.

“Jumlah di kami sekarang sekitar 300-an. Kemarin lebih dari 300-an ada yang mati. Kalau nanti kondisinya baik, kita akan lepaskan ke alam lebih banyak lagi,” ujarnya.

Berita Terkait

Berita Terkini