
SERAYUNEWS- Kemenangan penting PSS Sleman atas PSIS Semarang pada pekan ke-15 Pegadaian Championship 2025/26 atau Liga 2 menjadi sorotan tersendiri.
Tak hanya karena hasil positif di papan klasemen, kemenangan tersebut diraih dalam kondisi tak biasa: pelatih kepala Ansyari Lubis absen di pinggir lapangan akibat akumulasi kartu kuning.
Bermain di Stadion Maguwoharjo, situasi tersebut sempat menimbulkan tanda tanya publik.
Namun PSS justru tampil solid dan mampu mengamankan tiga poin penting, sekaligus membuktikan kuatnya fondasi komunikasi internal tim pelatih.
Ansyari Lubis mengakui bahwa absennya dirinya di bench menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa komunikasi yang terbangun sejak sesi latihan menjadi kunci utama keberhasilan tim menjalankan rencana permainan.
Menurutnya, jajaran pelatih PSS secara rutin menggelar diskusi sebelum dan sesudah latihan. Bahkan, komunikasi intens juga melibatkan pemain agar memahami peran dan skema yang akan dijalankan.
“Kami selalu berdiskusi sebelum dan setelah latihan reguler. Beberapa kali juga berdiskusi langsung dengan pemain sebelum latihan, menjelaskan peran masing-masing dan skema yang harus dijalankan,” ujar Ansyari Lubis dalam keterangan di laman resmi I-League.
Ansyari menjelaskan bahwa komunikasi saat pertandingan berlangsung jauh lebih kompleks karena dinamika di lapangan yang cepat berubah. Karena itu, ia menekankan pentingnya instruksi yang singkat, jelas, dan tepat sasaran.
Ia menyebut seluruh arahan dari Direktur Teknik telah dikomunikasikan secara matang kepada Gilang Ramadan, yang bertugas memimpin tim dari bench tanpa pendampingan langsung pelatih kepala.
“Kami mematangkan komunikasi sebelum pertandingan. Semua instruksi dan pemikiran dari Direktur Teknik sudah disampaikan dengan jelas, tinggal dieksekusi di lapangan,” tambahnya.
Solidnya komunikasi antar pelatih tidak hanya berdampak pada strategi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri pemain. Ansyari menilai, pemahaman peran yang detail membuat pemain mampu mengambil keputusan dengan tepat selama pertandingan.
Ia menegaskan bahwa setiap aspek permainan dibahas secara rinci sejak masa persiapan, sehingga pemain benar-benar memahami tanggung jawabnya.
“Sejak persiapan menuju pertandingan, kami menekankan pentingnya penyampaian informasi yang jelas. Semua dibahas detail agar pemain tahu apa yang harus dilakukan di lapangan,” tegasnya.
Tambahan tiga poin atas PSIS Semarang membuat PSS Sleman kini menempati peringkat kedua klasemen sementara Grup 2 dengan koleksi 33 poin.
Super Elja hanya terpaut dua poin dari PS Barito Putera yang masih memimpin klasemen dengan 35 poin.
Persaingan papan atas Grup 2 juga semakin panas karena Persipura Jayapura terus menempel di posisi ketiga dengan raihan 32 poin.
Sementara itu, rival PSS Sleman di puncak klasemen, PS Barito Putera, kembali mencatatkan prestasi impresif. Laskar Antasari sukses menorehkan lima clean sheet beruntun usai bermain imbang 0-0 melawan Persela Lamongan di Stadion Surajaya.
Sebelumnya, Barito Putera mencatat kemenangan tanpa kebobolan atas Persiku Kudus (1-0), PSIS Semarang (1-0), Persipal FC (3-0), dan Deltras FC (1-0).
Hingga pekan ke-15, skuad asuhan Alessandro Stefano Cugurra Rodrigues telah mengoleksi 11 clean sheet, terbanyak di antara seluruh kontestan Grup 1 dan Grup 2 Pegadaian Championship 2025/26.
Sepanjang musim ini, baru Persela Lamongan, Persipura Jayapura, PSS Sleman, dan Kendal Tornado FC yang mampu membobol gawang Barito Putera, masing-masing dengan satu gol.
Bek Barito Putera, Haudi Abdillah, tetap mensyukuri satu poin dari laga tandang tersebut.
“Kami mendapatkan satu poin dan Alhamdulillah. Semoga ke depannya bisa lebih baik. Terima kasih,” ujarnya.
Dengan 35 poin, 22 gol, dan hanya empat kali kebobolan, Barito Putera masih kokoh di puncak klasemen.
Namun tekanan dari PSS Sleman dan Persipura Jayapura membuat persaingan menuju fase akhir Pegadaian Championship 2025/26 dipastikan berlangsung sengit hingga laga terakhir.