
SERAYUNEWS — Kabupaten Banyumas mencatat 111 kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025. Data tersebut dirilis UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Banyumas, dengan rumah tinggal menjadi objek kebakaran paling dominan.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP Kabupaten Banyumas, Andaru Budilaksono, mengungkapkan bahwa dari total kejadian kebakaran, 42 kasus terjadi di rumah tinggal, menjadikannya sektor paling rentan.
“Dari data yang kami himpun selama tahun 2025, kebakaran paling banyak terjadi di kawasan permukiman, khususnya rumah tinggal,” kata dia, Selasa (6/1/2026).
Selain rumah tinggal, kebakaran juga terjadi pada sektor ekonomi sebanyak 24 kejadian, kendaraan 11 kejadian, bangunan pemerintahan 4 kejadian, serta rumput ilalang dan sampah 3 kejadian. Sementara kategori lainnya tercatat 32 kejadian.
Berdasarkan catatan bulanan, puncak kebakaran terjadi pada Juli dengan 16 kejadian, disusul September 14 kejadian dan Agustus 11 kejadian.
Andaru menyebut, periode tersebut bertepatan dengan musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.
“Kondisi cuaca kering di pertengahan tahun meningkatkan risiko kebakaran, sehingga kewaspadaan masyarakat sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Dari sisi penyebab, korsleting listrik menjadi faktor utama dengan 63 kejadian. Penyebab lain meliputi kompor, tungku, dan oven sebanyak 18 kejadian, serta kategori lain-lain 20 kejadian.
Sementara itu, kebakaran akibat rokok dan obat nyamuk hanya tercatat 2 kejadian, dan lampu tempel atau lilin nihil kejadian sepanjang 2025.
“Data ini menunjukkan bahwa instalasi listrik masih menjadi persoalan utama. Edukasi terkait keamanan kelistrikan harus terus ditingkatkan,” katanya.
Sebaran wilayah menunjukkan Purwokerto Utara sebagai kecamatan dengan kebakaran tertinggi, yakni 15 kejadian, disusul Purwokerto Selatan 12 kejadian dan Purwokerto Timur 9 kejadian.
Namun demikian, Lumbir, Tambak, Kebasen, dan Gumelar tercatat nihil kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025.
Selain kebakaran, UPT Damkar Banyumas juga mencatat 1.449 kegiatan penyelamatan selama 2025. Jumlah tertinggi terjadi pada Desember dengan 191 kejadian, sedangkan terendah pada Juli sebanyak 75 kejadian.
Untuk layanan non-kebakaran, total tercatat 2.070 kejadian, didominasi animal rescue sebanyak 1.052 kasus, kegiatan sosialisasi 454 kali, serta kategori lainnya 510 kejadian.
“Data ini menunjukkan peran Damkar tidak hanya soal kebakaran, tetapi juga hadir dalam berbagai situasi darurat dan pelayanan masyarakat,” pungkas Andaru Budilaksono.