
SERAYUNEWS- Setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia hampir selalu identik dengan toples berisi aneka kue kering di ruang tamu.
Mulai dari nastar, kastengel, hingga putri salju menjadi suguhan klasik yang disajikan kepada tamu saat silaturahmi Lebaran. Tradisi ini ternyata memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan pengaruh budaya Eropa di Nusantara.
Kehadiran kue kering dalam perayaan Lebaran tidak muncul begitu saja. Jejak sejarah menunjukkan bahwa budaya membuat kue kering diperkenalkan oleh masyarakat Belanda yang tinggal di Indonesia pada masa kolonial.
Pada masa itu, kue kering menjadi bagian dari tradisi jamuan di rumah-rumah pejabat kolonial dan kalangan elite. Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal dan menjadi bagian dari budaya kuliner Lebaran di Indonesia.
Dari dapur-dapur rumah tangga hingga industri rumahan, kue kering kini menjadi simbol keramahan tuan rumah saat menerima tamu di hari kemenangan. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Sejarah mencatat bahwa tradisi membuat kue kering diperkenalkan oleh masyarakat Belanda pada masa kolonial Hindia Belanda. Salah satu tokoh yang sering disebut dalam sejarah awal pemerintahan kolonial di Batavia adalah , gubernur jenderal VOC pada abad ke-17.
Pada masa itu, budaya kuliner Eropa mulai diperkenalkan kepada masyarakat lokal melalui interaksi sosial antara pejabat kolonial dan penduduk setempat. Kue kering menjadi bagian dari budaya makan ala Eropa yang identik dengan penggunaan mentega, tepung terigu, dan gula.
Resep-resep kue kemudian diwariskan dari keluarga Belanda kepada masyarakat lokal, terutama melalui para juru masak di rumah tangga kolonial. Lambat laun, masyarakat Indonesia mengadaptasi resep tersebut dengan bahan lokal dan menjadikannya bagian dari tradisi perayaan.
Pada awalnya, kue kering lebih sering disajikan pada acara perayaan keluarga kalangan elite. Namun seiring berkembangnya budaya masyarakat Indonesia, tradisi tersebut mulai diadopsi secara luas.
Perayaan Idul Fitri yang identik dengan tradisi silaturahmi membuat tuan rumah membutuhkan hidangan yang praktis, tahan lama, dan mudah disajikan. Kue kering menjadi pilihan yang tepat karena dapat disimpan dalam waktu lama tanpa cepat basi.
Selain itu, bentuknya yang kecil dan manis membuat kue kering cocok sebagai teman minum teh atau kopi saat tamu datang berkunjung. Tradisi inilah yang kemudian menjadikan kue kering sebagai salah satu simbol kuliner Lebaran di Indonesia.
Salah satu kue kering paling populer saat Lebaran adalah nastar. Nama nastar berasal dari bahasa Belanda “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti tart.
Kue ini memiliki ciri khas bentuk bulat kecil dengan isian selai nanas di dalamnya. Rasanya manis dengan tekstur lembut yang membuatnya disukai berbagai kalangan.
Cara membuat nastar secara singkat:
– Campurkan mentega, gula halus, dan kuning telur hingga lembut
– Tambahkan tepung terigu dan susu bubuk
– Bentuk bulatan kecil dan isi dengan selai nanas
– Panggang hingga matang dan olesi permukaan dengan kuning telur
Kastengel merupakan kue kering berbentuk batang yang berasal dari kata Belanda kaas yang berarti keju dan stengel yang berarti batang.
Kue ini memiliki cita rasa gurih karena menggunakan keju sebagai bahan utama. Kastengel menjadi favorit banyak orang karena perpaduan rasa asin dan tekstur renyahnya.
Cara membuat kastengel secara singkat:
– Campurkan mentega, kuning telur, dan parutan keju
– Tambahkan tepung terigu hingga adonan kalis
– Bentuk memanjang seperti batang kecil
– Taburi keju di atasnya lalu panggang hingga keemasan
Putri salju menjadi salah satu kue kering yang paling mudah dikenali karena taburan gula halus yang menyerupai salju.
Kue ini memiliki tekstur lembut dan rasa manis yang khas. Bentuknya biasanya bulan sabit dan menjadi favorit anak-anak hingga orang dewasa.
Cara membuat putri salju secara singkat:
– Campurkan mentega, gula halus, dan kuning telur
– Tambahkan tepung terigu dan tepung maizena
– Cetak bentuk bulan sabit
– Panggang hingga matang lalu baluri gula halus
Kue semprit merupakan salah satu kue kering yang juga populer saat Lebaran. Bentuknya biasanya menyerupai bunga karena dibuat menggunakan spuit atau cetakan khusus.
Kue ini memiliki tekstur renyah dan rasa manis yang ringan sehingga cocok dinikmati bersama teh atau kopi.
Cara membuat kue semprit secara singkat:
– Campurkan mentega, gula halus, dan telur
– Tambahkan tepung terigu dan vanila
– Masukkan adonan ke dalam plastik segitiga
– Semprotkan ke loyang dan panggang hingga matang
Kue lidah kucing dikenal dengan bentuknya yang tipis dan memanjang. Nama kue ini berasal dari bentuknya yang menyerupai lidah kucing.
Kue ini biasanya memiliki tekstur sangat renyah dengan rasa manis ringan. Lidah kucing juga sering dibuat dalam berbagai varian rasa seperti cokelat atau keju.
Cara membuat lidah kucing secara singkat:
– Kocok mentega dan gula hingga lembut
– Tambahkan putih telur dan tepung terigu
– Masukkan adonan ke cetakan tipis
– Panggang hingga berwarna keemasan
Hingga kini, tradisi menyajikan kue kering saat Lebaran tetap bertahan di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan banyak keluarga yang menjadikannya tradisi tahunan dengan membuat kue bersama menjelang hari raya.
Selain menjadi sajian untuk tamu, kue kering juga sering dijadikan hadiah atau hantaran Lebaran kepada kerabat dan sahabat.
Perkembangan industri kuliner juga membuat variasi kue Lebaran semakin beragam, mulai dari resep klasik hingga inovasi modern yang tetap mempertahankan cita rasa khas.
Tradisi kue kering Lebaran menunjukkan bagaimana budaya kuliner dapat berkembang melalui pertemuan berbagai pengaruh sejarah. Dari dapur kolonial hingga meja ruang tamu masyarakat modern, kue kering telah menjadi bagian dari identitas perayaan Idul Fitri di Indonesia.
Melalui perjalanan panjang tersebut, kue kering tidak hanya menjadi makanan penutup, tetapi juga simbol kebersamaan dan keramahan saat menyambut tamu di hari kemenangan.