Jumat, 12 Agustus 2022

Sungai Serayu Dipenuhi Lumpur karena Waduk Dikuras, PT Indonesia Power Banjarnegara Siap Ganti Rugi

Bupati Banyumas, Achmad Husein, akhirnya meminta penjelasan dari Indonesia Power selaku pengelola PLTA Mrica Banjarnegara, terkait keruhnya Sungai Serayu yang mengakibatkan ratusan ribu ekor mati beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan di Ruang Joko Kaiman di Purwokerto, Jumat (8/4/2022), bupati terlihat marah karena menganggap pihak Indonesia Power PLTA Mrica Banjarnegara tidak berkoordinasi saat melakukan flushing bendungan.


Purwokerto, serayunews.com

Dalam kesempatan tersebut, Husein menjelaskan, keruhnya aliran Sungai Serayu akibat aliran lumpur dari Waduk Mrica Banjarnegara itu sudah sangat merugikan banyak pihak. Tidak hanya menganggu ekosistem di sungai, bahkan produksi air bersih oleh PDAM di Banyumas dan Cilacap juga jadi terpaksa terhenti.

Baca juga  Ngeri! Lantai Tiga Kafe di Purwokerto Roboh, Sejumlah Mahasiswa Jadi Korban

“PLTA ini tidak ada koordinasi dengan BBWS Serayu Opak, dalam kondisi darurat harusnya ada koordinasi supaya tahu. Karena mungkin panik atau gimana, jadi tanpa adanya koordinasi. Jangan sampai terjadi lagi, nanti harus ketemu antara PLTA Mrica dan BBWS, karena ini bisa terjadi lagi,” ujar dia.

Selain PDAM yang tidak dapat memproduksi air bersih, nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya ke Sungai Serayu juga jadi kesulitan. Mereka tidak bisa mencari tangkapan, karena ikan yang ada pada mabok dengan terdampar dipinggiran sungai hingga mati.

General Manager (GM) Indonesia Power PLTA Mrica Banjarnegara, Ps Kuncoro, mengaku bersalah karena kurangnya koordinasi dalam melakukan pembukaan waduk. Namun demikian, pihaknya siap bertanggung jawab dan mengganti rugi atas dampak flushing atau pembuangan lumpur itu.

Baca juga  Pembuatan Kartu Identitas Anak di Banyumas Sudah Mencapai 55 Persen

“Selama 33 tahun melakukan flushing, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Kami tidak mengira akan ada longsoran sampai sejauh itu (ke Banyumas, red),” kata dia.

Kuncoro menambahkan, dari hasil pantauan pihaknya, di bawah air ada semacam gunung yang bertumpuk dari arah dieng dan akhir tahun 2021 air yang masuk Waduk Sudirman bercampur dengan lumpur. Sehingga ketika dilakukan flushing, lumpur tersebut terbawa arus.

“Kami sampai saat ini masih menahan bendungan dan akan koordinasi dengan berbagai pihak, terkait kondisi sedimentasi,” ujarnya.

Baca juga  Syok Anaknya Terlibat Pembunuhan Brigadir J, Ibu Bripka RR di Sumpiuh Banyumas: Dia Hanya Melaksanakan Perintah Sang Jenderal

Pemerhati Lingkungan Sungai Serayu, Edy Wahono menjelaskan, seharusnya kejadian tersebut bisa diantisipasi jika mengacu pada PP 22 Tahun 2021 tentang kewajiban menjaga kelestarian lingungan. Dari pantauannya, kondisi Sungai Serayu saat masih ini sangat keruh, bahkan nyaris seperti adonan bubur sum-sum karena bercampur lumpur.

“Kemarin saya lihat ada ikan endemik Sungai Serayu yakni Sidat seberat 16 kilogram. Sidat ini ikan yang mulai diburu, karena harganya mahal dan paling sulit dipancing. Tetapi kemarin, mati terdampar,” kata dia.(san)

Berita Terkait

Berita Terkini