Rabu, 25 Mei 2022

Bandar Tembakau Gorila di Purwokerto, Ditangkap BNNK Banyumas

Bandar Tembakau Gorila di Purwokerto, Ditangkap BNNK Banyumas

Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyumas, berhasil mengamankan dua pemuda berinisial FA (19), warga Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang dan RM (31), warga Kecamatan Purwokerto Barat. Mereka diamankan, setelah diduga menjual atau mengedarkan narkotika golongan 1 jenis tembakau sitentis atau yang biasa dikenal tembakau gorila.


Purwokerto, serayunews.com

Dalam konferensi pers, Selasa (22/3/2022), Kepala BNNK Banyumas, Agus Untoro menyampaikan, penangkapan pertama dilakukan pada tanggal 4 febuari 2022 silam. Anggotanya mendapati peredaran narkoba di wilayah Kabupaten Banyumas dengan informasi ada pengiriman tembakau tersebut ke sebuah rumah di Desa Tinggajaya, Kecamatan Jatilawang melalui jasa pengiriman.

Baca juga  Libur Lebaran di Banjarnegara, Kebun Binatang Serulingmas Kembali Buka Lho

“Narkotika jenis tembakau sintetis tersebut dikirim ke rumah FA dengan berat brutto kurang lebih 24,88 gram dalam kemasan plastik. Selain narkotika tersebut, kami juga melakukan penggeledahan di rumah yang ditempati tersangka. Petugas menemukan satu buah handphone yang digunakan sebagai sarana, satu bungkus plastik klip bening yang diduga digunakan untuk membungkus tembakau tersebut,” kata dia, Selasa (22/3/2022).

Kemudian pada tanggal 12 Febuari 2022, pihaknya kembali mendapati informasi adanya peredaran narkotika jenis yang sama di wilayah Kecamatan Purwokerto Barat dan sekitarnya. Setelah diselidiki, ternyata ada seorang pemuda berinisial RM (31). “Saat itu kami belum mengetahui identitas tersangka, setelah kami melakukan penyelidikan kami mendapati seorang pemuda yang mencurigakan, hingga akhirnya kami mengamankan RM di depan sebuah toko mas di Pasar Karanglewas,” ujarnya.

Baca juga  Perangi Narkoba, Wakil Bupati Cilacap Canangkan Sekolah Bersinar

Masih menurut Agus, keduanya memang tidak saling kenal. Namun, jika mengerucut pada penyuplai, temabakauyl tersebut berasal dari wilayah Makasar dan Bandung dan merupakan jaringan yang sama. “Kalau mereka berdua tidak saling kenal, tetapi sama atasannya saling kenal. Mereka berkomunikasi lewat media sosial,” katanya.

Atas perbuatannya kedua tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat (1) Pasal 112 ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang narkotika dan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Nomor 4 Tahun 2021 dengan ancaman hukuman minimal lima tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara. “Dari kasus ini penyidik dan penyelidik BNNK Banyumas sedang melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan narkotika yang lebih besar yang beroperasi di wilayah Banyumas Khususnya,” ujarnya.

Editor :Dedy

Berita Terkait

Berita Terkini