Selasa, 6 Desember 2022

Dinilai Membahayakan, Rumah Korban Tanah Gerak di Suwidak Banjarnegara Dibongkar

Sejumlah relawan BPBD Banjarnegara bersama dengan relawan lain saat membongkar rumah warga yang dinilai sudah membahayakan di Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, Minggu (6/11/2022). Foto dok PMI Banjarnegara

Karena sudah membahayakan penghuninya, rumah milik Teguh yang ada di RT 3 RW 3 Desa Suwidak, Kecamatan Wanayasa, akhirnya dibongkar. Pembongkaran karena kondisi rumah semakin parah, sejak terjadinya tanah gerak pada akhir Oktober lalu.


Banjarnegara, serayunews.com

Pergerakan tanah di Desa Suwidak dan Bantar Kecamatan Wanayasa, kembali terjadi setelah pada, Minggu (6/11/2022) wilayah tersebut hujan lebat. Meski begitu, situasi dan kondisi warga yang tinggal di pengungsian masih aman terkendali.

Dari kejadian ini, setidaknya 6 rumah mengalami rusak berat. Bahkan satu rumah rata dengan tanah akibat pergerakan tanah yang terjadi pada, Minggu 16 Oktober 2022 lalu. Tak hanya itu akibat kejadian tersebut, saat ini terdapat 29 kepala keluarga dengan 93 jiwa terpaksa mengungsi di tempat saudara dan tetangga yang lebih aman.

Koordinator relawan RAPI Banjarnegara, Tejo Sumarno mengatakan, berdasarkan data di lapangan, saat ini tim relawan gabungan baik dari RAPI, PMI, BPBD, maupun relawan lainnya masih melakukan berbagai kegiatan. Mulai pemantauan tanah gerak, hingga pengiriman logistik untuk para pengungsi yang tersebar di rumah-rumah warga.

“Hingga saat ini sudah ada enam rumah mengalami rusak berat, satu rumah rusak sedang. Ada 14 rumah rusak ringan, dan 61 terancam. Hari ini, kita melakukan pembongkaran atap rumah milik warga yang sudah membahayakan,” katanya.

Selain itu, tim terkait, baik BPBD, PMI, maupun tim lainnya masih terus memantau pergerakan tanah.

Dua EWS

Pergerakan tanah di Desa Suwidak dan Bantar Kecamatan Wanayasa masih terus terjadi. Untuk memantau pergerakan tanah PMI Provinsi Jawa Tengah sudah memasang dua alat Early Warning System (EWS) karya anak bangsa dengan nama Elwasi (Eling Siaga lan Waspada).

Ketua PMI Provinsi Jawa Tengah, Sarwa Pramana mengatakan, pemasangan dua alat deteksi longsor ini di dua desa, yakni Suwidak dan Bantar. Pemasangan dua alat EWS ini, di sekitar lokasi pergerakan tanah dan harapannya menjadikan deteksi dini jika terjadi pergerakan tanah. Alat ini sebagai peringatan dan deteksi dini akan bencana, tentunya selain kearifan lokal yang terus dipertahankan dengan mengenali tanda-tanda alam.

“Masyarakat Banjarnegara ini sudah harmonis sekali dengan longsor, dari 20 Kecamatan, 18 di antaranya rawan longsor. Respons cepat dan gotong royong masyarakat Banjarnegara dalam mengatasi bencana, sudah tidak kita ragukan lagi,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aris Sudaryanto melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Andri Sulistyo, menyampaikan terima kasih atas sinergi dan respons cepat dari PMI Jawa Tengah dalam penanganan longsor di Bantar dan Suwidak.

“Ini merupakan bentuk sinergi yang cepat dan merupakan bentuk konkret dari seluruh element dalam rangka melayani masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, dengan dua buah Elwasi yang merupakan produk asli Banjarnegara, merupakan salah satu indikator dalam upaya mengurangi risiko bencana.

“Pola sederhana berbasis masyarakat tradisional perlu digalakkan kembali seperti kentongan dan ronda malam serta mengenali tanda alam,” katanya.

Berita Terpopuler

Berita Terkini