
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Masihkah Generasi Z mendengarkan radio? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah perubahan cara anak muda mengakses informasi dan hiburan.
Kemunculan TikTok, Instagram, YouTube, podcast, dan layanan streaming membuat masyarakat memiliki semakin banyak pilihan untuk mendapatkan berita, musik, hingga hiburan. Kondisi ini turut mengubah posisi radio, terutama di kalangan anak muda yang sejak kecil sudah akrab dengan internet dan perangkat digital.
Momentum Hari Radio Sedunia atau World Radio Day yang diperingati setiap 13 Februari menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana radio bertahan di tengah perubahan kebiasaan tersebut.
Peringatan yang diinisiasi UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) itu menjadi momentum untuk mengapresiasi peran radio dan para penyiar dalam menyampaikan informasi, hiburan, serta membangun komunikasi dengan masyarakat.
Generasi Z tumbuh ketika internet dan telepon pintar sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Berbagai kebutuhan informasi dan hiburan kini dapat diakses melalui satu perangkat.
Berita, video pendek, musik, podcast, hingga konten edukasi tersedia dalam berbagai platform. Pengguna juga dapat memilih sendiri jenis konten, waktu, dan durasi yang ingin mereka konsumsi.
Perubahan tersebut membuat radio tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian anak muda.
Dhiya, warga Banjarnegara, mengaku sudah tidak mendengarkan radio. Menurutnya, telepon seluler kini menawarkan berbagai kemudahan sehingga informasi maupun berita dapat diperoleh melalui aplikasi dan platform digital.
Hal serupa disampaikan Salsa, mahasiswi Universitas Wijayakusuma Purwokerto. Ia mengaku tidak lagi mendengarkan radio karena tersedia berbagai teknologi lain yang menawarkan pilihan informasi dan hiburan lebih beragam.
Perubahan kebiasaan Gen Z tidak dapat dilepaskan dari pesatnya perkembangan media sosial.
TikTok dan Instagram menawarkan konten singkat yang dapat dikonsumsi dengan cepat. Sementara itu, YouTube menyediakan pilihan konten yang lebih panjang, mulai dari berita, hiburan, musik hingga edukasi.
Layanan streaming juga memberikan kebebasan kepada pengguna untuk menentukan sendiri musik atau tontonan yang ingin dinikmati. Podcast kemudian memperluas pilihan bagi masyarakat yang ingin mengonsumsi informasi atau percakapan tanpa harus mengikuti jadwal siaran.
Model konsumsi seperti ini berbeda dengan radio konvensional yang mengharuskan pendengar mengikuti program sesuai jadwal yang ditentukan stasiun radio.
Meski menghadapi persaingan ketat dari media digital, menyebut radio sudah sepenuhnya ditinggalkan generasi muda juga tidak tepat.
Radio memiliki karakteristik yang tidak selalu dimiliki platform digital. Interaksi langsung antara penyiar dan pendengar dapat menciptakan suasana yang lebih personal.
Kehadiran suara penyiar secara rutin juga dapat membangun kedekatan dengan audiens. Pendengar tidak hanya mendapatkan informasi atau musik, tetapi juga merasakan adanya teman yang menemani aktivitas mereka.
Karakter siaran langsung menjadi kekuatan lain yang masih relevan. Dalam kondisi tertentu, radio dapat menyampaikan informasi secara cepat mengenai lalu lintas, bencana, kondisi lingkungan, maupun peristiwa penting lainnya.
Perubahan perilaku audiens menunjukkan bahwa tantangan radio bukan semata-mata soal kehilangan pendengar. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana radio menyesuaikan diri dengan cara generasi baru mengonsumsi konten.
Radio kini tidak harus berhenti pada siaran melalui frekuensi konvensional. Kehadiran melalui streaming, podcast, YouTube, Instagram, dan TikTok dapat menjadi cara untuk memperluas jangkauan audiens.
Bagi Gen Z, radio juga berpotensi hadir dalam format yang lebih sesuai dengan kebiasaan digital mereka. Potongan siaran, video penyiar, konten behind the scenes, hingga podcast dapat menjadi jembatan antara radio dan generasi yang lebih terbiasa dengan layar ponsel.
Pada akhirnya, radio dan media digital tidak selalu harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling menggantikan. Radio memiliki kekuatan pada suara, spontanitas, interaksi, dan kedekatan dengan pendengar, sementara platform digital menawarkan fleksibilitas serta pilihan konten yang sangat luas.
Perubahan kebiasaan Gen Z justru dapat menjadi momentum bagi radio untuk beradaptasi. Bukan lagi sekadar bertanya apakah Gen Z masih mendengarkan radio, tetapi bagaimana radio bisa kembali hadir di ruang digital yang setiap hari mereka gunakan. (Artika Riana)