
JOMBANG, SERAYUNEWS- Sebanyak delapan nama masuk dalam daftar kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2026 dalam muktamar pada 27-31 Agustus 2026 di Jombang. Dikutip dari berbagai sumber, para tokoh tersebut memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari pengasuh pesantren, akademisi, pejabat negara, hingga kader yang aktif dalam organisasi dan dakwah.
Dari sisi usia, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi kandidat paling senior. Lahir pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin kini berusia 68 tahun. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dan Universitas Terbuka. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ini merupakan alumni Pondok Pesantren Seblak yang diasuh ayahnya. Sebelum aktif di lingkungan NU, Gus Kikin juga dikenal memiliki pengalaman sebagai pengusaha di bidang pertambangan. Dalam bahan yang tersedia, tidak ditemukan data resmi mengenai harta kekayaannya.
Nama berikutnya adalah KH Nasaruddin Umar, yang lahir pada 23 Juni 1959 dan berusia 67 tahun. Ia memiliki rekam pendidikan akademik yang kuat, dengan pendidikan sarjana di IAIN Alauddin Ujung Pandang serta jenjang magister dan doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain menjadi pengasuh Pondok Pesantren As’adiyah, Sulawesi Selatan, Nasaruddin dikenal sebagai ulama sekaligus pejabat negara. Ia juga pernah berkiprah sebagai akademisi dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Berdasarkan data dalam bahan, nilai harta kekayaannya berada di kisaran Rp98,9 miliar.
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan kandidat yang saat ini berada pada posisi petahana. Lahir di Rembang pada 16 Februari 1966, Gus Yahya berusia 60 tahun. Ia pernah menempuh pendidikan S1 di Universitas Gadjah Mada, meski tidak menyelesaikannya. Di lingkungan pesantren, Gus Yahya dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, dan merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Pengalamannya dalam organisasi NU serta jejaring internasional menjadi bagian penting dari rekam kiprahnya, termasuk dalam memperkenalkan gagasan Humanitarian Islam. Tidak terdapat data resmi mengenai harta kekayaan yang dicantumkan dalam bahan.
Dari kelompok usia yang lebih muda, terdapat KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf. Ia lahir pada 9 Juli 1973 dan kini berusia 53 tahun. Pendidikan formalnya tercatat sampai tingkat MA atau sederajat. Gus Yusuf merupakan pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, dan alumni Pondok Pesantren Lirboyo. Ia dikenal mempunyai jejaring pergaulan yang cukup luas dengan berbagai kalangan, termasuk pengusaha, seniman dan politisi, serta aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Bahan yang tersedia tidak mencantumkan data resmi mengenai harta kekayaannya.
KH Marsudi Syuhud juga menjadi kandidat. lahir di Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada 7 Februari 1964. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta pendiri dan Ketua Dewan Pertimbangan Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren). Ia meraih gelar doktor di bidang Ilmu Ekonomi dengan konsentrasi Ekonomi dan Keuangan Islam dari Universitas Trisakti pada 2014.
Kandidat lainnya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, yang lahir pada 31 Juli 1976 dan berusia 50 tahun. Ia menempuh pendidikan S1 di STAI Al-Aqidah Jakarta, kemudian menyelesaikan studi S2 di Monash University dan S3 di UIN Semarang. Gus Rozin merupakan pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, sekaligus alumni pesantren tersebut. Ia dikenal memiliki pengalaman dalam berbagai aktivitas organisasi NU dan perhatian terhadap pembaruan tata kelola pendidikan Islam di Indonesia. Bahan yang diberikan tidak mencantumkan data resmi mengenai kekayaannya.
KH Zulfa Mustofa tercatat sebagai kandidat berusia 49 tahun. Ia lahir pada 7 Agustus 1977 dan memiliki latar pendidikan MTs/MA atau sederajat. Saat ini, ia dikenal sebagai pengasuh Majelis Taklim Darul Mustofa di Jakarta. Zulfa Mustofa merupakan alumni Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, dan memiliki pengalaman dalam aktivitas dakwah serta organisasi. Selain kiprahnya sebagai kiai, ia juga dikenal sebagai sastrawan, penyair dan penulis kitab. Tidak ada data resmi mengenai harta kekayaannya yang dicantumkan dalam bahan.
Nama terakhir dalam daftar adalah KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, yang lahir pada 26 Februari 1977 dan berusia 49 tahun. Ia memiliki latar pendidikan MTs/MA atau sederajat. Gus Salam merupakan pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, dan alumni Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Pesantren Denanyar sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan NU. Gus Salam dikenal sebagai salah satu kiai muda dengan pandangan progresif. Dalam bahan yang diberikan, tidak terdapat data resmi mengenai harta kekayaannya.
Kedelapan nama tersebut memperlihatkan keberagaman latar belakang kandidat Ketua Umum PBNU 2026. Ada tokoh senior dengan pengalaman panjang di pesantren, ulama yang berkiprah di pemerintahan, pengurus organisasi, hingga generasi muda dengan pengalaman akademik dan pengembangan pendidikan Islam. Data mengenai usia, pendidikan, basis pesantren, serta kekayaan dalam artikel ini disusun berdasarkan bahan yang diberikan dan belum dimaksudkan sebagai penetapan resmi mengenai calon yang akan bertarung dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.
Acara pembukaan Muktamar ke-35 NU berlangsung di Lapangan Untung Suropati, kawasan Tambakberas, Jombang. Lokasi tersebut menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian pelaksanaan muktamar.
Untuk mendukung kebutuhan para muktamirin atau peserta muktamar, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Jombang menyiapkan sebanyak 99 titik layanan. Fasilitas tersebut tersebar di lima zona, yakni wilayah utara, selatan, tengah, timur, dan barat.
Titik layanan tersebut mencakup sejumlah masjid, musala, serta kantor NU yang dapat digunakan peserta untuk beribadah maupun beristirahat selama mengikuti rangkaian kegiatan. Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah Masjid Agung Baitul Mukminin.
Dengan pembagian lokasi ke dalam beberapa zona, layanan bagi peserta diharapkan dapat menjangkau berbagai kawasan di sekitar pusat pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tetap menjadi pusat utama penyelenggaraan seluruh rangkaian agenda muktamar.(nur kholifah/soultan albar)