Minggu, 5 Februari 2023

Jaga Tradisi, Kampung Gagot Banjarnegara Gelar Takiran

tradisi takiran (nata pikiran)
Takiran (nata pikir) warga Kampung Gagot Banjarnegara, sebagai satu sarana untuk menjaga silaturami dan ungkapan rasa syukur pada sang pencipta. Kegiatan tersebut dilakukan di jalan kampung, Sabtu (21/1/2023). (Dok Kang Arung Gagot)

Demi menjaga tradisi leluhur, warga Kampung Gagot Desa Kutawuluh, Kecamatan Purwanegara Banjarnegara, menggelar tradisi Takiran (nata pikir). Kegiatan tersebut selain menjaga tradisi leluhur juga sebagai sarana untuk menjalin silaturahmi dan ungkapan rasa syukur warga pada sang pencipta.


Banjarnegara, serayunews.com

Sejumlah warga berkumpul dan makan bersama di jalan yang ada di wilayah tersebut, Sabtu (21/1/2023). Takiran merupakan satu tradisi warga Kampung Gagot Banjarnegara yang dilakukan setiap bulan Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriyah.

Amrullah, tokoh pemuda Kampung Gagot mengatakan, kegiatan takiran warga ini dimulai sejak pagi buta diawali kegiatan bersih kampung dan jalan desa hingga ke makam Kiyai Gagot yang merupakan sesepuh sekaligus tokoh yang erat kaitannya dengan babad tanah Jawa bersama Syekh Subakir.

“Di kampung kita ini ada makam Kyai Gagot, dan ini juga menjadi satu alasan kampung ini disebut Kampung Gagot,” katanya.

Menurutnya, selain melakukan bersih-bersih kampung dan ziarah, kaum ibu juga ikut menyiapkan berbagai makanan pokok dalam satu bungkusan atau takir, setelah kegiatan ziarah dan doa bersama selesai, semau warga berkumpul menjadi satu di jalanan kampung tersebut untuk makan bersama.

“Ini merupakan satu rasa dan ungkapan syukur masyarakat Kampung Gagot atas berkat nikmat dari sang pencipta. Tak hanya itu, takiran yang bertepatan dengan Jumadil Akhir dalam penanggalan Hijriyah ini, juga sebagai sarana menjalin silaturahmi, serta mengajak semua untuk mulai menata pikirannya dan bersiap menyambut bulan Ramadan yang akan datang dua bulan lagi,” katanya.

Tradisi takiran ini, merupakan agenda rutin tahunan warga kampung selain mempersiapkan bulan Ramadan dan ungkapan rasa syukur. Takiran ini juga menjadikan masyarakat Kampung Gagot, bisa saling mengenal dan bersilaturahmi dan menikmati hidangan yang berasal dari masyarakat juga.

“Jadi isi takir ini nasi bersama lauknya, dan semua akan dijajar di jalan. Setelah berdoa, kita makan bersama. Masyarakat juga saling bertukar takir untuk dimakan, sehingga persaudaraan yang ada akan semakin kuat,” katanya.

Tradisi ini, juga sekaligus menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang sudah turun temurun. Takiran ini juga memiliki falsafah, sebagai penambah semangat masyarakat untuk terus dan selalu bersyukur.

Berita Terpopuler

Berita Terkini