
SERAYUNEWS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memprediksi sebanyak 13 wilayah di Jawa Tengah mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran musim yang datang lebih awal dibandingkan pola normal.
Secara umum, musim kemarau diperkirakan terjadi pada Mei 2026. Namun, beberapa wilayah sudah lebih dulu mengalami peralihan dari musim hujan ke kemarau sejak April.
Prediksi ini didasarkan pada analisis data iklim, kondisi atmosfer global dan regional, serta pergerakan angin monsun yang mulai berubah.
BMKG mencatat wilayah yang lebih cepat mengalami kemarau umumnya berada di kawasan pesisir dan dataran rendah, yang memang cenderung lebih cepat mengalami penurunan curah hujan.
Berikut 13 wilayah di Jawa Tengah yang diprediksi mulai kemarau pada April 2026:
Wilayah-wilayah tersebut diperkirakan mengalami penurunan curah hujan secara bertahap, menandai awal musim kemarau yang tidak berlangsung serentak di seluruh daerah.
BMKG juga menegaskan bahwa perbedaan waktu awal musim adalah hal yang wajar karena dipengaruhi oleh kondisi geografis, topografi, serta dinamika atmosfer di masing-masing wilayah.
Datangnya musim kemarau lebih awal berpotensi memengaruhi berbagai sektor kehidupan.
1. Ketersediaan Air Bersih
Wilayah yang bergantung pada hujan berisiko mengalami penurunan pasokan air. Masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air sejak dini.
2. Sektor Pertanian
Perubahan musim dapat mengganggu pola tanam. Petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam dan memilih komoditas yang lebih tahan kekeringan.
3. Risiko Kebakaran
Kemarau meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Aktivitas yang berpotensi memicu api perlu dihindari, terutama di area terbuka.
4. Kualitas Udara
Minimnya hujan menyebabkan peningkatan debu di udara, sehingga kualitas udara di beberapa wilayah bisa menurun.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemarau yang datang lebih awal.
Beberapa langkah antisipasi yang dapat dilakukan antara lain:
Koordinasi antara pemerintah daerah, petani, dan instansi terkait juga perlu diperkuat agar dampak musim kemarau dapat ditekan semaksimal mungkin.