
SERAYUNEWS – Polemik penilaian dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat 2026 tengah menjadi sorotan. Lantas, siapa juri lomba tersebut?
Pasalnya, cuplikan video yang memperlihatkan perdebatan antara juri dan peserta lomba ramai dibagikan di TikTok, Instagram, hingga X, memicu kritik luas dari netizen.
Kontroversi itu membuat publik bertanya-tanya, siapa sebenarnya juri LCC Empat Pilar MPR RI? Mengapa keputusan penilaiannya dianggap tidak objektif oleh banyak warganet?
Berikut ulasan lengkap profil, kronologi kontroversi, hingga respons publik terhadap insiden yang kini ramai diperbincangkan tersebut.
Polemik bermula saat babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat berlangsung.
Pada sesi pertanyaan mengenai hukum ketatanegaraan, peserta diminta menjawab soal terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Kota Pontianak menjawab:
“Anggota-anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan presiden.”
Namun, jawaban tersebut justru dinilai salah oleh Dyastasita WB dan regu mendapat pengurangan poin sebesar -5.
Menurut Dyastasita, dewan juri tidak mendengar penyebutan frasa “Dewan Perwakilan Daerah” atau DPD dalam jawaban peserta.
Situasi mulai memanas ketika pertanyaan yang sama diberikan kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas.
Menariknya, jawaban yang disampaikan memiliki substansi yang dinilai sama dengan jawaban Regu C. Akan tetapi, kali ini Dyastasita memberikan poin penuh.
“Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10,” ujar Dyastasita.
Keputusan tersebut langsung diprotes oleh peserta dari SMAN 1 Pontianak karena merasa jawaban mereka sebelumnya tidak berbeda secara substansi.
“Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” tegas perwakilan SMAN 1 Pontianak.
Namun, Dyastasita tetap bersikukuh bahwa jawaban pertama tidak menyebutkan unsur pertimbangan dari DPD.
“Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi,” kilahnya.
Tak hanya itu, juri lain bernama Indri Wahyuni juga ikut memberikan penjelasan dan menilai artikulasi peserta kurang jelas saat menjawab.
Di tengah polemik tersebut, SMAN 1 Sambas akhirnya dinyatakan sebagai pemenang dan akan mewakili Kalimantan Barat ke tingkat nasional di Jakarta.
Profil Juri Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR Sosok Dyastasita WB, Juri yang Kini Jadi Sorotan
Berdasarkan penelusuran dari laman resmi Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Dyastasita WB merupakan pejabat di lingkungan Sekretariat Jenderal MPR RI.
Ia diketahui menjabat sebagai Kepala Biro Pengkajian Konstitusi pada Deputi Bidang Pengkajian dan Pemasyarakatan Konstitusi Setjen MPR RI.
Jabatan tersebut menunjukkan bahwa Dyastasita memiliki posisi strategis dalam kegiatan yang berkaitan dengan sosialisasi konstitusi dan Empat Pilar MPR RI.
Selain itu, Dyastasita juga disebut memiliki pangkat Pembina Utama Golongan IV/e.
Dalam berbagai agenda nasional, ia aktif menjadi bagian dari kegiatan pemasyarakatan Empat Pilar MPR RI yang mencakup Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dari sisi pendidikan, Dyastasita diketahui menyandang gelar Sarjana Sosial (S.Sos).
Berdasarkan penelusuran pada laman PDDIKTI Kemdiktisaintek, ia juga pernah tercatat sebagai mahasiswa Magister Ilmu Administrasi Negara di STIA Lembaga Administrasi Negara Jakarta pada Januari 2012.
Namun, studi tersebut tidak diselesaikan karena Dyastasita mengajukan pengunduran diri pada semester genap tahun akademik 2012/2013.
Nama Dyastasita WB semakin ramai diperbincangkan setelah video final LCC Empat Pilar Kalbar beredar luas di media sosial.
Banyak pengguna internet menilai keputusan juri tidak konsisten karena jawaban yang dianggap serupa justru mendapatkan hasil penilaian berbeda.
Bahkan, akun Instagram dengan nama pengguna @dyastasitawb kini sudah tidak ditemukan. Hilangnya akun tersebut semakin memicu rasa penasaran publik terhadap sosok Dyastasita WB.
Di TikTok dan Threads, berbagai unggahan terkait kontroversi ini terus bermunculan.
Beberapa video bahkan telah ditonton ratusan ribu kali dan dipenuhi komentar kritik terhadap sistem penjurian lomba.
Polemik penilaian ini membuat banyak pihak meminta adanya klarifikasi resmi dari penyelenggara.
Akun media sosial pendukung SMAN 1 Pontianak, @smansaptk.informasi, turut menyuarakan tuntutan transparansi agar kompetisi tetap menjunjung nilai sportivitas.
Netizen menilai substansi jawaban peserta seharusnya menjadi fokus utama dalam penilaian, terutama pada lomba yang berkaitan dengan wawasan kebangsaan dan konstitusi.
Sebagian warganet juga menyoroti pentingnya standar penilaian yang konsisten dalam kompetisi akademik.
Menurut mereka, perbedaan poin terhadap jawaban yang dianggap sama dapat memengaruhi kepercayaan peserta maupun publik terhadap integritas perlombaan.
Di sisi lain, ada pula yang meminta masyarakat tidak langsung menghakimi tanpa adanya penjelasan resmi dari panitia maupun dewan juri secara lengkap.
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI selama ini dikenal sebagai ajang edukasi kebangsaan bagi pelajar di Indonesia.
Kompetisi ini bertujuan memperkuat pemahaman siswa mengenai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Namun, viralnya polemik di Kalimantan Barat membuat ajang tersebut justru menjadi sorotan nasional.
Banyak pihak berharap insiden ini dapat menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan lomba ke depan lebih transparan, profesional, dan objektif.
Sampai saat ini, video perdebatan antara peserta dan juri masih terus beredar luas di media sosial dan menjadi bahan diskusi publik.***