
SERAYUNEWS – Momen Iduladha selalu identik dengan pembagian daging kurban, termasuk bagian jeroan seperti usus, babat, hati, paru, hingga limpa.
Meski banyak digemari karena cita rasanya yang khas, tidak sedikit orang merasa kesulitan saat mengolah jeroan. Aroma prengus yang kuat dan tekstur keras sering menjadi kendala utama memasak.
Padahal, jeroan bisa berubah menjadi hidangan lezat apabila diolah menggunakan teknik yang tepat.
Proses pembersihan, perebusan, serta penggunaan rempah-rempah tertentu menjadi langkah penting untuk menghasilkan masakan yang nikmat, empuk, dan bebas bau tidak sedap.
Bau khas pada jeroan umumnya muncul akibat masih adanya sisa darah, lendir, serta lemak yang menempel pada organ dalam hewan. Oleh karena itu, tahap awal pembersihan tidak boleh sembarangan.
Setiap jenis jeroan juga memerlukan perlakuan berbeda. Usus dan babat, misalnya, membutuhkan proses pencucian lebih teliti daripada hati atau paru.
Jika tidak dibersihkan dengan benar, aroma tidak sedap akan tetap terasa meski sudah dimasak menggunakan banyak bumbu.
Agar hasil masakan lebih maksimal, sebaiknya cuci jeroan menggunakan air mengalir. Cara tersebut lebih efektif membersihkan kotoran daripada hanya merendamnya di dalam wadah berisi air.
Saat mencuci, bagian jeroan juga perlu diremas perlahan agar lendir dan sisa darah benar-benar terangkat.
Selain mencuci bersih, banyak orang memanfaatkan bahan dapur sederhana untuk membantu menghilangkan aroma amis pada jeroan.
Perasan jeruk nipis, lemon, cuka, atau garam konon mampu menetralisir bau prengus.
Caranya cukup mudah. Setelah cuci jeroan, lumuri dengan garam atau air jeruk nipis, kemudian diamkan beberapa menit sebelum bilas kembali menggunakan air bersih.
Teknik ini membantu mengurangi bau menyengat sekaligus membuat jeroan terasa lebih segar sebelum dimasak.
Kesalahan yang masih sering terjadi adalah merebus semua jenis jeroan dalam satu panci sekaligus. Padahal, setiap organ memiliki tingkat kematangan dan aroma berbeda.
Paru, hati, babat, serta usus membutuhkan waktu perebusan yang tidak sama. Jika dicampur, aroma antarjeroan dapat saling memengaruhi dan membuat rasa masakan kurang nikmat.
Oleh sebab itu, perebusan sebaiknya terpisah agar hasilnya lebih optimal. Selain menjaga cita rasa, metode ini juga membantu mengontrol tingkat kematangan masing-masing bagian jeroan sehingga tekstur tidak terlalu keras atau terlalu lembek.
Salah satu teknik yang cukup efektif mengurangi bau tidak sedap pada jeroan adalah metode perebusan dua tahap.
Pada perebusan pertama, masukkan jeroan ke dalam air, lalu panaskan hingga mendidih selama beberapa menit.
Biasanya akan muncul buih dan kotoran di permukaan air rebusan. Setelah itu, buang air pertama karena mengandung sisa darah dan kotoran dari jeroan.
Tahap berikutnya menggunakan air baru yang bersih. Pada perebusan kedua ini, masak jeroan kembali sambil tambahkan aneka rempah aromatik seperti jahe, serai, daun salam, lengkuas, dan garam.
Penggunaan rempah-rempah tersebut membantu menyamarkan aroma prengus sekaligus memberikan rasa gurih alami pada jeroan. Selain itu, proses perebusan berulang juga membuat tekstur organ dalam menjadi lebih lunak.
Banyak orang langsung memasukkan jeroan ke dalam air panas yang telah mendidih. Cara tersebut dapat membuat bagian luar jeroan cepat mengeras sehingga tekstur menjadi alot.
Metode yang lebih tepat adalah memasukkan jeroan sejak air masih dalam kondisi normal atau suhu ruang.
Setelah itu, panaskan air perlahan hingga mendidih. Teknik ini membantu jeroan matang secara merata dan membuat hasil akhirnya lebih empuk.
Bagi masyarakat yang ingin menghemat waktu memasak, penggunaan panci presto dapat menjadi pilihan praktis.
Tekanan tinggi di dalam panci membantu melunakkan tekstur jeroan lebih cepat. Metode ini cocok untuk bagian yang cenderung keras seperti babat dan usus.
Namun, apabila tidak memiliki panci presto, masak jeroan menggunakan api kecil dalam waktu lebih lama hingga benar-benar empuk.
Setelah tekstur jeroan lunak, tahap selanjutnya adalah mengolahnya menjadi berbagai sajian favorit keluarga.
Penggunaan bumbu kaya rempah sangat penting untuk memperkuat cita rasa sekaligus mengurangi aroma khas jeroan.
Kunyit, ketumbar, kemiri, jahe, dan lengkuas menjadi beberapa bahan dalam masakan berbahan jeroan. Organ dalam tersebut dapat diolah menjadi gulai, sate, tumisan pedas, semur, hingga soto.
Selain itu, masyarakat juga sebaiknya tidak merebus jeroan bersamaan dengan daging biasa. Air rebusan jeroan umumnya memiliki aroma lebih kuat dan mengandung lebih banyak kotoran sehingga dapat memengaruhi rasa kaldu daging.
Dengan teknik pembersihan dan pengolahan yang benar, jeroan kurban dapat berubah menjadi menu lezat, empuk, serta bebas bau prengus.
Proses memasak yang tepat juga membuat hidangan lebih nikmat untuk disantap bersama keluarga saat perayaan Iduladha.***