
SERAYUNEWS – Masih banyak orang yang belum memahami apa itu child grooming. Padahal, child grooming bukan sekadar “bujukan” biasa, melainkan rangkaian manipulasi psikologis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan anak dengan tujuan akhir melakukan pelecehan seksual.
Bahaya dari child grooming sering kali sulit terdeteksi karena dilakukan secara perlahan dan bertahap.
Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku kerap berasal dari lingkungan terdekat anak, seperti kerabat, teman keluarga, tetangga, guru, hingga orang yang baru dikenal melalui media sosial atau gim online.
Child grooming adalah serangkaian upaya sistematis pelaku untuk memanipulasi pikiran dan emosi anak agar merasa aman, percaya, dan bergantung, sehingga pelaku dapat melakukan eksploitasi atau kekerasan seksual tanpa menimbulkan kecurigaan.
Saat ini, banyak pelaku memanfaatkan platform digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, dan gim daring, untuk mendekati anak.
Pendekatan tersebut sering dimulai dari percakapan ringan, pujian, perhatian berlebihan, hingga pemberian hadiah, yang perlahan membentuk ikatan emosional.
Dilansir dari johnjayimpact.org, menurut Dr. Elizabeth L. Jeglic, profesor psikologi di John Jay College, perilaku grooming merupakan strategi licik yang digunakan pelaku untuk mendekati anak secara seksual sekaligus memastikan perbuatannya tidak mudah terungkap.
Bersama timnya, Dr. Jeglic mengidentifikasi setidaknya 42 perilaku grooming yang pada awalnya tampak normal. Secara umum, proses grooming berlangsung dalam lima tahap utama:
Karena prosesnya bertahap dan tampak seperti hubungan biasa, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Sebagai langkah pencegahan, orang tua dan lingkungan sekitar perlu melakukan hal-hal berikut:
Pelaku child grooming bisa berasal dari siapa saja, bahkan dari orang yang terlihat baik dan dipercaya.
Karena itu, kedekatan emosional, pengawasan, dan edukasi sejak dini menjadi kunci utama untuk melindungi anak dari manipulasi yang tak terlihat ini.