
SERAYUNEWS- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat, 23 Januari 2026, kembali menghadapi tekanan setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya.
Sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif membuat investor cenderung mengambil sikap hati-hati, terutama menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
Pada awal perdagangan pagi ini, IHSG bergerak di zona merah dengan volatilitas yang cukup tinggi. Tekanan jual terlihat masih mendominasi, seiring pelaku pasar merespons sinyal teknikal yang mengindikasikan potensi lanjutan koreksi dalam jangka pendek.
Meski demikian, peluang rebound tetap terbuka jika level support krusial mampu dipertahankan. Kondisi tersebut membuat investor ritel dan institusi mulai selektif dalam memilih saham.
Fokus pasar tidak lagi sekadar mengejar momentum, tetapi juga mempertimbangkan fundamental emiten, stabilitas sektor, serta prospek kinerja di tengah dinamika global yang masih fluktuatif. Melansir berbagai sumber, berikut ulasan selengkapnya:
IHSG mengawali perdagangan Jumat ini dengan kecenderungan melemah setelah sebelumnya gagal bertahan di atas area psikologis 9.000. Tekanan jual muncul sejak pembukaan, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah kebijakan bank sentral global dan perkembangan data makroekonomi internasional.
Dari sisi teknikal, pergerakan indeks masih berada di bawah rata-rata pergerakan jangka pendek. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan koreksi belum sepenuhnya mereda, meskipun laju penurunan relatif terkendali dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Secara teknikal, IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi melemah dengan potensi menguji area support terdekat. Pola pergerakan indikator momentum menunjukkan kecenderungan pasar berada dalam tekanan, meskipun belum memasuki area jenuh jual ekstrem.
Jika IHSG mampu bertahan di zona support kuat, peluang teknikal rebound tetap terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat, indeks berpotensi bergerak lebih dalam sebelum menemukan keseimbangan baru.
Pelaku pasar mencermati data inflasi Jepang yang diperkirakan melandai, serta arah kebijakan Bank of Japan yang diprediksi mempertahankan suku bunga. Keputusan ini berpotensi memengaruhi arus modal di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, rilis data aktivitas manufaktur dan jasa dari Amerika Serikat serta Eropa turut menjadi perhatian. Angka-angka tersebut akan menjadi indikator penting mengenai kekuatan ekonomi global di awal tahun 2026.
Mayoritas sektor saham bergerak di zona merah pada awal perdagangan. Sektor energi menjadi salah satu yang tertekan paling dalam akibat koreksi harga komoditas global dan aksi ambil untung.
Sektor konsumsi siklikal dan transportasi juga mengalami pelemahan seiring kekhawatiran terhadap daya beli dan aktivitas ekonomi. Di sisi lain, beberapa sektor defensif mulai menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan sektor lainnya.
Di tengah tekanan pasar, sektor kesehatan dan bahan baku masih mampu mencatatkan pergerakan positif. Saham-saham di sektor ini dinilai memiliki fundamental yang relatif stabil dan kurang sensitif terhadap fluktuasi jangka pendek.
Minat investor terhadap sektor defensif meningkat seiring ketidakpastian global. Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk melakukan rotasi portofolio menuju saham-saham yang lebih tahan banting.
Sejumlah saham mencatatkan lonjakan harga signifikan pada perdagangan pagi ini. Kenaikan tajam tersebut didorong oleh kombinasi sentimen spesifik emiten, spekulasi pasar, serta peningkatan minat beli jangka pendek.
Meski terlihat menarik, investor tetap perlu mencermati risiko volatilitas tinggi pada saham-saham yang bergerak ekstrem. Manajemen risiko menjadi kunci utama agar potensi keuntungan tidak berubah menjadi kerugian.
Di sisi lain, tekanan jual cukup kuat menghantam beberapa saham yang sebelumnya mengalami reli. Koreksi tajam ini menunjukkan bahwa pasar masih rentan terhadap aksi profit taking.
Investor disarankan tidak terburu-buru masuk ke saham yang sedang tertekan tanpa mempertimbangkan faktor fundamental dan teknikal. Pendekatan bertahap dinilai lebih aman dalam kondisi pasar yang belum stabil.
IHSG yang masih fluktuatif mendorong investor untuk lebih selektif. Saham berfundamental kuat tetap menjadi pilihan utama di tengah tekanan pasar, apa saja saham terbaik hari ini? Berikut rekomendasinya:
1. BBCA – Perbankan besar, fundamental kuat, likuiditas tinggi
2. BBRI – Bank fokus UMKM, stabil di tengah volatilitas
3. TLKM – Telekomunikasi defensif, pendapatan berulang
4. SAT – Potensi pertumbuhan data dan efisiensi operasional
5. KLBF – Konsumsi defensif sektor kesehatan
6. ICBP – Produk kebutuhan pokok, tahan tekanan pasar
7. ADRO – Komoditas batubara, sensitif pemulihan harga global
8. ANTM – Logam dan nikel, prospek jangka menengah positif
Pergerakan IHSG hari ini mencerminkan dinamika pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global. Meski tekanan koreksi belum sepenuhnya mereda, peluang tetap terbuka bagi investor yang mampu bersikap selektif dan disiplin.
Dengan strategi yang tepat, kondisi pasar yang menantang justru dapat menjadi momentum untuk mengoleksi saham berkualitas di harga yang lebih menarik. Investor disarankan tetap memantau perkembangan global, data ekonomi, serta sinyal teknikal untuk mengambil keputusan yang lebih terukur.