
SERAYUNEWS – Perayaan Imlek sering kali identik dengan lampion merah, barongsai, kue keranjang, hingga tradisi bagi-bagi angpao.
Namun, masih banyak masyarakat yang bertanya-tanya, Imlek sebenarnya hari raya agama apa?
Pertanyaan ini wajar muncul karena perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya berkaitan dengan tradisi budaya, tetapi juga memiliki unsur kepercayaan yang cukup kuat, khususnya bagi masyarakat Tionghoa.
Imlek Hari Raya Agama Apa?
Imlek sendiri merupakan perayaan Tahun Baru dalam kalender lunar atau penanggalan Tionghoa.
Perayaan ini telah berlangsung selama ribuan tahun dan memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan harapan, kebersamaan keluarga, serta rasa syukur atas rezeki yang telah diterima sepanjang tahun sebelumnya.
Secara umum, Imlek tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai hari raya milik satu agama tertentu.
Imlek lebih dikenal sebagai perayaan budaya masyarakat Tionghoa yang dipengaruhi berbagai unsur kepercayaan, seperti Konghucu, Taoisme, hingga Buddha.
Ketiga ajaran tersebut memiliki pengaruh dalam berbagai ritual dan tradisi yang dilakukan saat perayaan Imlek.
Di Indonesia, Imlek sering dikaitkan dengan umat Konghucu karena agama tersebut memiliki berbagai ritual ibadah yang bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek.
Dalam praktiknya, umat Konghucu biasanya melakukan sembahyang untuk menghormati leluhur dan memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur serta harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Namun, perlu dipahami bahwa tidak semua masyarakat Tionghoa merayakan Imlek sebagai bagian dari kegiatan keagamaan.
Banyak di antaranya yang memaknai Imlek sebagai tradisi budaya dan momen berkumpul bersama keluarga tanpa dikaitkan dengan ritual keagamaan tertentu.
Sejarah Perayaan Imlek
Perayaan Imlek dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok kuno. Menurut cerita rakyat yang populer, tradisi ini berawal dari legenda tentang makhluk bernama Nian yang dipercaya sering menyerang desa saat pergantian tahun.
Untuk mengusir makhluk tersebut, masyarakat menggunakan warna merah, suara petasan, dan berbagai dekorasi meriah.
Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi perayaan Tahun Baru Imlek yang sarat makna simbolis.
Warna merah melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara suara petasan dipercaya mampu mengusir energi buruk serta membawa harapan baru.
Perayaan ini kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia, melalui migrasi masyarakat Tionghoa yang membawa serta budaya dan tradisi leluhur mereka.
Makna Filosofis dalam Perayaan Imlek
Imlek tidak sekadar menjadi penanda pergantian tahun, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam.
Salah satu makna utama perayaan ini adalah mempererat hubungan keluarga. Momen makan malam bersama keluarga besar yang biasanya dilakukan pada malam sebelum Imlek menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan.
Selain itu, tradisi membersihkan rumah sebelum Imlek memiliki makna membuang energi buruk dan menyambut keberuntungan baru.
Sementara itu, pembagian angpao menjadi simbol doa dan harapan agar penerimanya memperoleh rezeki serta kebahagiaan.
Berbagai makanan khas seperti kue keranjang, jeruk mandarin, dan hidangan lainnya juga memiliki makna simbolis.
Misalnya, kue keranjang melambangkan harapan akan kehidupan yang semakin meningkat, sedangkan jeruk dipercaya membawa keberuntungan.
Perayaan Imlek di Indonesia
Di Indonesia, Imlek telah menjadi hari libur nasional dan dirayakan secara luas oleh masyarakat Tionghoa.
Setelah sempat mengalami pembatasan di masa lalu, perayaan Imlek kini dapat dirayakan secara terbuka dengan berbagai kegiatan, seperti pertunjukan barongsai, festival lampion, hingga acara kebudayaan lainnya.
Perayaan ini tidak hanya menjadi momen religius bagi sebagian umat, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang menunjukkan keberagaman masyarakat.
Banyak masyarakat dari berbagai latar belakang ikut meramaikan suasana Imlek sebagai bentuk toleransi dan kebersamaan.
Seiring perkembangan zaman, Imlek juga menjadi simbol keberagaman budaya yang memperkaya kehidupan masyarakat, khususnya di Indonesia. Melalui perayaan ini, nilai kebersamaan dan toleransi antarbudaya dapat terus terjaga.***











