
SERAYUNEWS- Perayaan Tahun Baru Imlek kini menjadi momentum budaya penting tidak hanya di Tiongkok tetapi juga di berbagai negara dengan populasi etnis Tionghoa termasuk di Indonesia.
Tradisi ini berakar dari sejarah ribuan tahun, mitos kuno, serta filosofi yang kaya makna tentang keberuntungan, keluargadan kebersamaan.
Perayaan Imlek atau Chinese New Year sebenarnya bermula dari legenda perlawanan terhadap makhluk mitologi bernama Nian yang takut pada warna merah dan suara keras, sehingga tradisi merah, petasan, dan perayaan keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari Imlek.
Tidak hanya sekadar pergantian tahun, Imlek merupakan simbol penyambutan musim semi dan harapan akan rezeki baru.
Di Indonesia sendiri, sejarah Imlek telah bertransformasi dari tradisi komunitas lokal menjadi bagian dari kehidupan budaya nasional.
Etnis Tionghoa yang datang sejak abad ke-4 hingga ke-7 Masehi membawa tradisi ini ke Nusantara, lalu berkembang lewat peran perdagangan, percampuran budaya, serta dinamika sosial.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Tahun Baru Imlek, dikenal juga sebagai Spring Festival atau Festival Musim Semi, merupakan perayaan yang menandai awal kalender lunar Tionghoa.
Menurut sejarah, tradisi ini bermula dari legenda Nian makhluk yang setiap akhir tahun muncul dan menakut-nakuti desa-desa sampai akhirnya penduduk menemukan bahwa suara petasan dan warna merah bisa mengusirnya. Tradisi ini terus hidup hingga menjadi ciri khas perayaan Imlek modern.
Selama ribuan tahun, perayaan Imlek diwariskan secara turun-temurun di Tiongkok dan menyebar ke seluruh dunia seiring diaspora etnis Tionghoa.
Komunitas Tionghoa menetap di Asia Tenggara, Amerika, Australia, hingga Eropa dengan membawa tradisi Imlek sebagai perayaan keluarga, spiritual, dan komunitas.
Menurut pakar sejarah Dr. Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Imlek awalnya berkaitan dengan tradisi agraris masyarakat Tiongkok yang merayakan datangnya musim semi sebagai awal kehidupan baru dan harapan panen berlimpah.
Di Indonesia, Imlek menjadi bagian dari tradisi budaya sejak kedatangan komunitas Tionghoa di Nusantara sejak abad ke-4 sampai abad ke-7 Masehi, sebagaimana dicatat berbagai laporan sejarah.
Perayaan ini mencerminkan proses akulturasi budaya antara orang Tionghoa dengan masyarakat lokal, yang memperkaya keragaman budaya di tanah air.
Imlek pernah mendapatkan pengakuan resmi sebagai hari besar nasional pada tahun 1946 melalui penetapan pemerintah Indonesia, namun sempat dibatasi pada masa Orde Baru (1967–1998).
Baru setelah kebijakan diskriminatif dicabut, Imlek kembali dirayakan secara terbuka dan meriah di seluruh Indonesia, termasuk dengan pemasangan lampion merah dan pertunjukan barongsai.
Sebagai komunitas diaspora besar di Nusantara, etnis Tionghoa menyebar dan berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan Indonesia, baik dalam perdagangan, budaya hingga kuliner, sehingga perayaan Imlek kini menjadi bagian dari pluralitas budaya Indonesia.
Perayaan Imlek identik dengan sajian khas yang bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol-simbol harapan dan keberuntungan:
1.Siu Mie (Mie Panjang Umur) – melambangkan kehidupan panjang dan kesehatan baik.
2. Yusheng (Salad Keberuntungan) – salad warna-warni yang dibagikan bersama keluarga dengan harapan rezeki melimpah.
3. Nian Gao (Kue Keranjang) – kue ketan manis yang dipercaya membawa keluarga semakin erat dan makmur.
4. Ikan Utuh – simbol kemakmuran berkelanjutan karena ikan melambangkan surplus rezeki.
5. Manisan dan permen – menggambarkan kehidupan manis dan kebahagiaan sepanjang tahun.
6. Kue mangkok merah dan berbagai hidangan warna cerah yang membawa harapan baik.
Hidangan-hidangan ini disiapkan dalam jamuan keluarga sebagai doa untuk keberuntungan, kesehatan dan rezeki yang lebih baik di tahun yang baru.
Warna merah merupakan unsur paling dominan dalam perayaan Imlek. Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, kemakmuran dan perlindungan dari roh jahat.
Sementara warna putih justru asosiasinya dengan duka dan kematian, sehingga dihindari saat perayaan.
Cerita legenda Nian, yang ketakutan terhadap warna merah dan suara berisik, ikut memperkuat makna ini dan menjadikan merah sebagai warna wajib pada dekorasi, pakaian dan pernak-pernik Imlek lainnya untuk membawa aura positif sepanjang tahun baru.
Salah satu tradisi paling dikenal saat Imlek adalah pemberian angpao atau red envelope amplop merah berisi uang yang diberikan oleh orang tua dan keluarga kepada anak-anak atau kerabat yang belum menikah.
Tradisi ini berasal dari cerita kuno tentang makhluk Sui yang konon takut pada merah; orang tua membungkus koin atau uang dalam amplop merah sebagai simbol perlindungan dan berkah.
Seiring waktu, cara ini berkembang menjadi angpao yang kita kenal sekarang sebagai simbol keberuntungan, doa dan kasih sayang antar generasi.
Perayaan Imlek lebih dari sekadar ritual pergantian tahun. Ia mencerminkan sejarah panjang, tradisi spiritual, simbolisme mendalam, dan nilai keluarga yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Di Indonesia, Imlek kini sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional yang dirayakan dengan penuh warna, rasa, serta makna mendalam bagi masyarakat Tionghoa dan lintas budaya.
Dengan memahami makna imlek dari legenda Nian, warisan kuliner khas, simbol warna merah hingga tradisi angpao masyarakat luas dapat menghargai lebih dalam tradisi yang penuh harapan ini.